.........ikutan setuju dan ikutan kasih komen pak.....
 
.....sudah saatnya umat muslim indonesia membuka cakrawala pengetahuannya lebih 
luas lagi...ingat.......WE ARE THE 1st GLOBALIZERS ......... so....sangat 
memalukan bila kita terus berwacana dan orang2 akan semakin melihat serta 
telanjanglah kedangkalan daya pikir kita yang puluhan tahun di CEKOKI pemahaman 
agama ala MENEER HOURGONJE ...yang dengan tidak tahu malunya disebar luaskan 
dan dengan bangga dibawakan di berbagai macam forum ..dari musola2 kecil sampai 
mesjid2 raya .....apalagi sekarang dengan jargon EKONOMI SYARIAH ....yang 
dengan vulgarnya diedukasikan dan dijual oleh beberapa institusi dengan tanpa 
BENAR2 mengambil intisari dari aktivitas ekonomi  islam itu sendiri ....... 
dengan bangga mengutip hadis2 maupun riwayat Nabi besar Muhammad saw dan para 
sahabatnya .......tanpa liat kiri kanan bahwa ternyata BANYAK NONMUSLIM telah 
mempraktekannya dengan sangat brillian, berani dan indahnya.....(a tribute 
to MR.FORD and MATSUSHITA san .....you
 are the real economic prophet in the modern history........MR ABE 
LINCOLN....MR.ANDREW JACKSON.....MR.JAMES GARFIELD...MR.WARREN HARDING....all 
of you are the real president of USA....dan yg terakhir ....a tribute to 
DR.HJALMAR SCHACHT......hitler's economic hitman....YOU ARE STILL THE BEST 
SENTRAL BANK GOVERNOR IN THE 20th CENTURY.... .)
 
kesimpulan.....
-  hell with neolib or people economics statements .....
- siapa bilang kita tidak butuh utang luar negeri ...kita harus bisa 
sebesar-besarnya mendapatkan hutang luar negeri....SEBESAR-BESARNYA.....tapi 
dengan skill manajemen hutang yang baik ....BAGAIMANA CARANYA KITA 
MENGEMBALIKAN HUTANG TERSEBUT DENGAN SEMURAH-MURAHNYA.....DAN SELAMA-LAMANYA 
.....(jelas yg bisa melakukan ini bukan orang sembarangan....melainkan orang2 
yg telah TERCERAHKAN..)
- memperkuat basis pangan serta SDA yg kita miliki sambil TIDAK SECARA SEMBRONO 
..SOMBONG...TAK TAHU DIRI ...SERTA MEMALUKAN....melawan arus luar dan 
invincible hands hingga pada akhirnya mengorbankan rakyat serta KERJA KERAS 
BERTAHUN-TAHUN yang telah di setting sedemikian rupa dan tinggal menunggu waktu 
eksekusinya ...
-  gencar memasyaratkan hidup sederhana ....TIDAK MENDEWAKAN harta, kuasa dan 
GENGSI ....apalagi dengan tidak tahu malunya 
....MEMPERALAT...MEMBODOHI.MENGGUNAKAN.....MEMANFAATKAN UMAT ...untuk 
mendapatkan itu semua .....naudzubillah....

--- On Thu, 5/28/09, Dr. Iwan P. Pontjowinoto <[email protected]> wrote:


From: Dr. Iwan P. Pontjowinoto <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Daripada 'neolib2 terus' mending kita ajukan 
konsep Ekonomi Islam
To: [email protected]
Date: Thursday, May 28, 2009, 9:31 PM










Ass.ww.
 
Rekan2 sekalian, sy sangat setuju dengan pendapat mas Rachmad Satriotomo.
 
Daripada membahas masalah NeoLib atau konsep2 lain yg tidak kita setujui, 
kenapa kita nggak ajukan Konsep Ekonomi Islami lengkap dengan kebijakan dan 
implementasi kebijakan yang sesuai dan relevan dgn situasi dan kondisi 
Indonesia.
 
Saya yakin sekali bahwa ketiga pasangan Capres-Cawapres pasti mau mendengar 
usulan kita.
Dan Tim Sukses mereka pasti akan mengkaji usulan kita.
Nggak usah jadi Menteri dekh, nanti bisa 'sial' spt Bu Ani >> "udah kerja 
keras, diomelin melulu"

Kita khan yakin bhw Allah Maha Mengetahui, Maha Adil dan Maha Kuasa.
Jadi kalau yg kita usulkan sesuai dengan ajaran agama Islam dan bermanfaat bagi 
ummat dan bagi Indonesia,
Pasti Allah SWT akan membukakan jalan . . . Insya Allah.
 
Wassalam,
2009/5/28 Rachmad Satriotomo <satrio_eco_5@ yahoo.com>













Salam.

Wah2, orang FEUI lagi laris ya jadi perbincangan sekarang. Pak Fiz, Pak Faisal 
dan sekarang bang dede (chatib basri).

Bagi saya neolib atau kerakyatan itu sesuatu yang abstrak.
Kenapa kita tidak mencoba berdiskusi di tataran kebijakan yang lebih riil?
Yang harusnya dipermasalahkan bukan apakah seseorang neolib atau kerakyatan 
(itu memang masalah, tapi itu kan urusan masing2 orang), tapi kebijakan yang 
diambilnya apakah berdampak positif atau negatif? tentunya hal ini juga harus 
dinilai secara ilmiah dengan cost & benefit analysis (CBA) bukan argumentasi 
ideologis semata.

Bahwa biaya sekolah murah, harga pangan terjangkau, pengelolaan SDA yang 
memberikan manfaat bagi rakyat, BBM  murah itu bagus semua juga tahu. 
Masalahnya apa iya dengan menggratiskan sekolah masalah selesai? harus 
dipikirkan juga kemampuan anggaran. apa iya dengan mensubsidi BBM tidak 
menimbulkan masalah baru? harus dipikirkan juga konsumsi BBM kita yang 
berlebihan selama ini dan tidak efisien. apa iya pengelolaan BUMN selama ini 
sudah efisien? malah BUMN masa lalu adalah sarang korupsi yang cuma memberatkan 
anggaran.

Permasalahan terjadi secara simultan dan bertubi2. Paling enak memang jadi 
kritikus yang boleh2 saja memiliki perspektif sempit. Hanya tau bahwa harga BBM 
tidak boleh naik, tapi kalo ga naik terus pemerintah nambah utang marah2 juga. 
Pemerintah harus memikirkan semua aspek. Permasalahan begitu kompleks, rumit. 
Sementara keputusan harus dibuat. Setidaknya tunjukkan respek kita pada 
pengambil kebijakan dengan memberikan kritik yang membangun. Memberikan solusi. 
Di FEUI ada anekdot, “lulusan FEUI paling sial jadi menteri”. Lalu Sri Mulyani 
bilang, ternyata memang betul2 sial. Sudah kerjanya berat, dimarahin orang mulu.
 
Semakin membaca milis ini saya jadi semakin menyadari bahwa sebenarnya kita, 
ekonom muslim, pun tidak memiliki solusi atas permasalahan yang terjadi. 
perdebatan yang terjadi berputar2 di tataran ideologis yang tidak jelas 
juntrungannya.
Memangnya apa sih neolib itu? apa sih ekonomi kerakyatan itu?
apa ukuran2nya hingga sesuatu disebut neolib atau kerakyatan?
apakah kerakyatan itu seperti chavez yang populer itu? atau seperti negara2 
arab yang membayar pengangguran? semuanya mesti gratis dengan dibiayai SDA? 
berapa lama mereka bisa bertahan? apa jadinya mereka kalau minyaknya habis? 
mati.
pola2 pembangunan yang tidak sustainable tidak bisa dibenarkan.

Lalu jadi harus apa? saya juga tidak tahu. kalau tahu sih sudah jadi menteri.
cuma ingin mengusulkan agar diusahakan memberikan iklim ilmiah dalam diskusi di 
milis ini ke depannya.


salam

Kritik terbesar terhadap liberalisme adalah ketidakliberalan- nya itu sendiri. 
Mereka terkungkung dengan logika bahwa segala sesuatu itu harus liberal dan 
bebas nilai dan menafikan bahwa terdapat kemungkinan di luar itu.






-- 
Iwan P. Pontjowinoto
(62-811) 92 1954  

ZAP Finance 
Menara Karya 28th Floor
Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 1-2, Jakarta 12950 
Telp      : (62-21) 5789 5505, Fax       : (62-21) 5789 5888
Website: www.zapfin.com
















      

Kirim email ke