Wa'alaikum salam wr wb, Saya setuju. Mungkin perlu dirumuskan program/agenda Ekonomi Islam. Mudah2an pemerintah bisa melaksanakannya. Saya lihat Ide2 MES, HT, dan juga rekan2 lain bisa dirumuskan hingga jadi lebih praktis, ringkas tapi jelas, dan mudah dilaksanakan.
Beberapa poinnya mungkin: 1. Penguatan Rupiah dengan backup emas, perak, dan tembaga. Ini meniru AS sebelum tahun 1971 yang memakai sistem Credit Money yang dibackup dgn emas. Ini perlu untuk membuat rupiah lebih stabil sehingga tidak terjadi pemiskinan massal karena inflasi. Keuntungannya buat MES, untuk back-up/transfer emas/perak ke rupiah/sebaliknya Bank2 Syariah bisa bekerjasama dgn ANTAM. Ini satu peluang bisnis yg bagus. http://infoindonesia.wordpress.com/2009/03/18/memperkuat-rupiah-dengan-koin-emas-rupiah/ 2. Penguatan Sistem Musyarakah/Joint Venture untuk kemandirian Nasional. 90% kekayaan alam kita saat ini dikuasai asing. Nah pemerintah bisa mendirikan BUMN guna menggarap ladang2 migas, dsb. Ini bisnis yang sangat menguntungkan karena perusahaan yang mengelola ini rata2 tercatat sebagai 11 perusahaan terkaya versi Forbes 500 dengan penerimaan sampai Rp 4.900 trilyun/tahun (hampir 5 x APBN Indonesia). Bank2 Syariah bisa turut memodali (jika pemerintah kurang dana) dan menjadi pemegang saham dan menikmati sebagian keuntungannya. 3. Pembagian tanah 1-2 hektar untuk petani yang lahannya kurang dari 0,5 hektar. http://infoindonesia.wordpress.com/2008/01/15/beberapa-langkah-mengurangi-kemiskinan-di-indonesia/ 4. Mendata kebutuhan impor Indonesia dan memproduksinya sendiri di dalam negeri. Contoh susu 80% impor. Nah ini harusnya bisa dipenuhi oleh peternak Indonesia dan membuka lapangan kerja. Bank Syariah bisa memodali dan pemerintah menyediakan lahan dan menjamin pinjamannya. Pasar Kendaraan sepeda motor yang 6,2 juta/unit dan mobil 1 juta unit/tahun dgn nilai sekitar rp 200 trilyun lebih/tahun harusnya bisa dipenuhi oleh BUMN dalam negeri seperti INKA yang memproduksi GEA. Nah pemerintah bisa membuat aturan agar kendaraan dinas pakai GEA yang konsumsi bensinnya lebih irit (30 km/liter) dan harga lebih murah (Rp 40-50 juta) sehingga menghemat anggaran. http://infoindonesia.wordpress.com/2009/02/06/mobil-nasional-gea-buatan-inka-seharga-rp-50-juta/ Silahkan lihat di: http://infoindonesia.wordpress.com Di situ banyak terdapat ulasan tentang ekonomi berikut solusinya termasuk solusi Ekonomi Islam. Mungkin ada ide2 yang dapat dipakai dan diperbaiki bersama2 sehingga layak diajukan. === Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits http://media-islam.or.id --- Pada Kam, 28/5/09, Dr. Iwan P. Pontjowinoto <[email protected]> menulis: Dari: Dr. Iwan P. Pontjowinoto <[email protected]> Topik: Re: [ekonomi-syariah] Daripada 'neolib2 terus' mending kita ajukan konsep Ekonomi Islam Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 28 Mei, 2009, 9:31 PM Ass.ww. Rekan2 sekalian, sy sangat setuju dengan pendapat mas Rachmad Satriotomo. Daripada membahas masalah NeoLib atau konsep2 lain yg tidak kita setujui, kenapa kita nggak ajukan Konsep Ekonomi Islami lengkap dengan kebijakan dan implementasi kebijakan yang sesuai dan relevan dgn situasi dan kondisi Indonesia. Saya yakin sekali bahwa ketiga pasangan Capres-Cawapres pasti mau mendengar usulan kita. Dan Tim Sukses mereka pasti akan mengkaji usulan kita. Nggak usah jadi Menteri dekh, nanti bisa 'sial' spt Bu Ani >> "udah kerja keras, diomelin melulu" Kita khan yakin bhw Allah Maha Mengetahui, Maha Adil dan Maha Kuasa. Jadi kalau yg kita usulkan sesuai dengan ajaran agama Islam dan bermanfaat bagi ummat dan bagi Indonesia, Pasti Allah SWT akan membukakan jalan . . . Insya Allah. Wassalam, 2009/5/28 Rachmad Satriotomo <satrio_eco_5@ yahoo.com> Salam. Wah2, orang FEUI lagi laris ya jadi perbincangan sekarang. Pak Fiz, Pak Faisal dan sekarang bang dede (chatib basri). Bagi saya neolib atau kerakyatan itu sesuatu yang abstrak. Kenapa kita tidak mencoba berdiskusi di tataran kebijakan yang lebih riil? Yang harusnya dipermasalahkan bukan apakah seseorang neolib atau kerakyatan (itu memang masalah, tapi itu kan urusan masing2 orang), tapi kebijakan yang diambilnya apakah berdampak positif atau negatif? tentunya hal ini juga harus dinilai secara ilmiah dengan cost & benefit analysis (CBA) bukan argumentasi ideologis semata. Bahwa biaya sekolah murah, harga pangan terjangkau, pengelolaan SDA yang memberikan manfaat bagi rakyat, BBM murah itu bagus semua juga tahu. Masalahnya apa iya dengan menggratiskan sekolah masalah selesai? harus dipikirkan juga kemampuan anggaran. apa iya dengan mensubsidi BBM tidak menimbulkan masalah baru? harus dipikirkan juga konsumsi BBM kita yang berlebihan selama ini dan tidak efisien. apa iya pengelolaan BUMN selama ini sudah efisien? malah BUMN masa lalu adalah sarang korupsi yang cuma memberatkan anggaran. Permasalahan terjadi secara simultan dan bertubi2. Paling enak memang jadi kritikus yang boleh2 saja memiliki perspektif sempit. Hanya tau bahwa harga BBM tidak boleh naik, tapi kalo ga naik terus pemerintah nambah utang marah2 juga. Pemerintah harus memikirkan semua aspek. Permasalahan begitu kompleks, rumit. Sementara keputusan harus dibuat. Setidaknya tunjukkan respek kita pada pengambil kebijakan dengan memberikan kritik yang membangun. Memberikan solusi. Di FEUI ada anekdot, “lulusan FEUI paling sial jadi menteri”. Lalu Sri Mulyani bilang, ternyata memang betul2 sial. Sudah kerjanya berat, dimarahin orang mulu. Semakin membaca milis ini saya jadi semakin menyadari bahwa sebenarnya kita, ekonom muslim, pun tidak memiliki solusi atas permasalahan yang terjadi. perdebatan yang terjadi berputar2 di tataran ideologis yang tidak jelas juntrungannya. Memangnya apa sih neolib itu? apa sih ekonomi kerakyatan itu? apa ukuran2nya hingga sesuatu disebut neolib atau kerakyatan? apakah kerakyatan itu seperti chavez yang populer itu? atau seperti negara2 arab yang membayar pengangguran? semuanya mesti gratis dengan dibiayai SDA? berapa lama mereka bisa bertahan? apa jadinya mereka kalau minyaknya habis? mati. pola2 pembangunan yang tidak sustainable tidak bisa dibenarkan. Lalu jadi harus apa? saya juga tidak tahu. kalau tahu sih sudah jadi menteri. cuma ingin mengusulkan agar diusahakan memberikan iklim ilmiah dalam diskusi di milis ini ke depannya. salam Kritik terbesar terhadap liberalisme adalah ketidakliberalan- nya itu sendiri. Mereka terkungkung dengan logika bahwa segala sesuatu itu harus liberal dan bebas nilai dan menafikan bahwa terdapat kemungkinan di luar itu. -- Iwan P. Pontjowinoto (62-811) 92 1954 ZAP Finance Menara Karya 28th Floor Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 1-2, Jakarta 12950 Telp : (62-21) 5789 5505, Fax : (62-21) 5789 5888 Website: www.zapfin.com Wajib militer di Indonesia? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! http://id.answers.yahoo.com
