dari milis sebelah Gara-gara Jenggot

Oleh: Burhan Sodiq.

Hari-hari ini jenggot menjadi bahan kriteria razia baru. Meski belum pernah
kena razia namun nampaknya boleh saja kita jaga-jaga. Siapa tahu jenggot
yang cuma seukuran jagung ini bikin masalah dengan diri kita.

Pasca peledakan bom dua hotel mewah itu memang masyarakat menjadi sangat
parno. Mereka ketakutan kalau di lingkungannya terdapat para tersangka
teroris. Maka mereka pun mulai aktif melakukan banyak hal, di antara saling
pasang mata dan pasang telinga. Para pendatang baru target penyelidikan,
akankah mereka memiliki ciri-ciri seperti yang dibilang polisi selama ini.
Berpeci, berjubah, berjenggot, berjilbab dan bercadar. Dalam rilisnya,
sebuah LSM bahkan menyebutkan bahwa bisnis herbal thibbun nabawi, penerbitan
buku islam, dan pesantren juga termasuk yang harus diawasi. Karena mereka
bisa jadi menjadi soko guru terorisme nasional.

Tidak cukup itu, seorang pengamat terorisme yang konon juga dosen dalam
sekolah intelijen menyebutkan, yayasan islam, baitul mal, lembaga zakat juga
patut diwaspadai sebagai wahana pengumpul duit umat untuk membiayai aksi
peledakan. Wow! Luar biasa sekali efeknya, sampai kemana-mana.

Seorang teman penyiar radio, sedang mencoba bisnis baru. Di rumah istrinya,
ia termasuk warga yang baru. Bisnis barunya ini membutuhkan wahana
persemaian berupa drum bekas bensin. Karena dia ke mana-mana memakai peci
dan berjanggut, maka dia menjadi orang yang tertuduh di kampungnya.
Masyarakat tiba-tiba menjadi pintar menghubung-hubungkan seolah wartawan
media massa televisi yang asal hubung itu. Unsur-unsur penguat dikumpulkan
kemudian dihubung-hubungkan sekenanya. Pertama, dia aktif ke mesjid. Seperti
diketahui pelaku pemboman, konon kata media massa adalah remaja masjid.
Kedua, dia suka memakai peci dan berjanggut. Unsur kedua ini juga sama
dengan para buronan yang katanya anak buahnya Noor Din M Top. Ketiga, dia
orang baru, kata para aparat orang baru harus diawasi. Yang kelima yang
paling dahsyat, dia membeli drum gede. Tidaklah wajar seseorang memberi drum
gede di kampung itu. Lengkap sudah data-data yang dikumpulkan dan akhirnya
masyarakat melaporkan ke polisi. Begitulah yang terjadi, padahal dia sama
sekali tak ada kaitannya dengan terorisme. Dia hanya ingin berbudi daya
jamur, dan tong besar itu sebagai wahana persemaiannya.

Di belahan bumi lainnya, ada sebuah cerita yang lebih unik. Seorang suami
dan istri yang berjubah dan berjilbab besar bercadar memasuki sebuah mall.
Sang suami membawa ransel di punggungnya. Kontan saja banyak pengunjung yang
menaruh curiga. Berpuluh-puluh pasang mata melihatnya. Seolah tersangka baru
yang sedang melenggang di catwalk. Tapi mereka cuek cuek saja, toh mereka
hanya ingin melihat pameran komputer saja.

Seorang suami dan istri yang berjubah dan berjilbab besar bercadar memasuki
sebuah mall. Sang suami membawa ransel di punggungnya. Kontan saja banyak
pengunjung yang menaruh curiga.

Di bandara, seorang teman juga diperlakukan berbeda. Semua penumpang
melenggang kangkung tanpa ada pemeriksaan berlebihan. Sementara temen saya
ini harus diperiksa berlapis-lapis. Tubuhnya diraba-raba. Hanya karena
jenggotnya terlalu panjang hingga ke dada.

Fenomena ini jelas membuat kita tertawa. Kenapa menjadi sedemikian
massivenya. Kenapa atribut luar menjadi sedemikian mudah tervonis. Apakah
jubah, jenggot dan segala asesorisnya selalu identik dengan pelaku
peledakan? Logika awam saja bisa menjawab, kalau cctv yang ada di dua hotel
itu tidak pernah menunjukkan bahwa pelaku berpakaian ala timur tengah.

Apakah ini ada nuansa anti timur tengah? Menolak segala yang berbau budaya
arab. Menolak pakaian ala mereka dan memberi stigma seolah yang berasal dari
Arab adalah kumuh dan terkait dengan terorisme. Sebaliknya, masyarakat
dihasung untuk lebih suka memakai pakaian mini dan seksi sebagai ikon budaya
barat yang disanjung dan dipuji.

Kalau memang orang ingin melakukan peledakan, tidak mungkin mereka akan
mengenakan cadar dan jubah panjang. Persis seperti seorang intel polisi yang
sedang bertugas. Ia tidak akan mungkin mengenakan baju seragam kebesarannya.
Tetapi kenapa logika ini justru malah tidak terpakai?

Inilah fenomena yang membuat kita mengelus dada. Apa yang sedang terjadi
sekarang justru tidak menambah kita yakin terorisme bisa tertumpas. Malah
melebar menjadi perang budaya yang tidak ada manfaatnya. Memakai jubah,
cadar dan berjenggot bukanlah kesalahan sebagaimana orang membawa bom atau
senjata tajam. Tapi itu merupakan identitas seseorang saja, yang ingin lebih
dekat dengan sunah rasulnya. Sebagaimana para pemuja barat yang mengenakan
baju terbuka auratnya, sebagai tanda ingin dekat dengan artis yang mereka
puja. So, jangan berlebihan melihat masalah, umat islam ini ingin sebuah
ketenangan, bukan malah teror dalam wujud yang berbeda.



==
Andijusteriah
Pasar Minggu Jakarta Selatan
E-Mail [email protected],
www.mandirikita.com/andijusteriah

Untuk informasi Terbaru kami klik www.mandirikita.com/andijusteriah

Kirim email ke