Assalam alaikum, Usaha untuk menetralisir ancaman instabilitas fiat money dengan membatasi hal-hal negatif-nya, dengan menempatkan dalam sektor riil dapat dikatakan sulit. Dollar sebagai hard currency tetap kuat. Terlebih dengan maraknya produk Amerika Serikat (terutama industri persenjataannya) dan produk-produk negara lain yang didenominasikan dengan dollar, khususnya minyak bumi. Jadi cara untuk menstabilkan sistem keuangan, tidak hanya dengan meng-cap hal-hal negatif tersebut. Namun juga harus dengan kemandirian. Mandiri secara produk dan juga secara keuangan. Sehingga ide memunculkan suatu mata uang tunggal atau mata uang yang didukung penuh oleh aset nyata, menjadi suatu means yang utama pada akhirnya. Namun ide-ide tersebut atau ide-ide lainnya demi stabilitas keuangan global yang telah digagas, sering kandas saat memasuki ranah politik, Bahkan ide Jepang hanya untuk memunculkan suatu otoritas moneter untuk Asia gagal dikarenakan tidak direstui oleh AS. Instabilitas fiat money tersebut juga semakin terancam oleh penumpukan devisa oleh suatu negara, misal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebesar 2 triliun dollar AS (kurang lebih), dan diikuti oleh negara-negara lain yang ingin menimbun devisa. Penumpukan devisa ini pada dasarnya adalah baik, dengan analogi kisah nabi yusuf sebagai bendahara negara, menyimpan di saat makmur dan bersiap untuk masa paceklik adalah hal yang baik. Namun, untuk penumpukan devisa, akan mengancam sistem fiat money melalui mekanisme pasar keuangan. Dan terakhir, Amerika Serikat (AS) sebagai pemilik dollar sebagai biang fiat money, tentu saja akan enggan kehilangan kontrol akan ekonomi politiknya melalui dollarnya, sehingga kemungkinan untuk mengubah sistem tersebut untuk menetralisir instabilitas yang ada akan membutuhkan usaha yang sangat sulit. Terdapatnya penumpukan dollar dalam devisa negara-negara juga bukan tanpa sebab dan tanpa akibat. Penumpukan dollar dalam cadangan devisa suatu negara akan membuat negara tersebut menjadi tergantung terhadap AS dengan produknya. Salam hangat.
--- Pada Sel, 13/4/10, Dimas Kusuma <[email protected]> menulis: Dari: Dimas Kusuma <[email protected]> Judul: [ekonomi-syariah] Fiat Money dan Ancaman Stabilitas Ekonomi Kepada: [email protected] Cc: [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected], [email protected] Tanggal: Selasa, 13 April, 2010, 10:16 PM Sekedar bacaan ringan...... . http://suarapembaca .detik.com/ read/2010/ 04/12/182917/ 1336904/471/ fiat-money- dan-ancaman- stabilitas- ekonomi Senin, 12/04/2010 18:29 WIB Fiat Money dan Ancaman Stabilitas Ekonomi Dimas Bagus Wiranata Kusuma - suaraPembaca /ilus ist. Jakarta - Isu penggunaan fiat money sebagai mata uang yang tidak stabil sudah tidak terbantahkan lagi. Fiat money yang lebih dikenal sebagai uang kertas ini secara nyata telah memberikan "saham" pada instabilitas perekonomian suatu negara bahkan dunia secara kontinue dan bersifat destruktif. Alasan mendasar ketidakstabilan fiat money adalah karena secara alamiah ia memang tidak stabil. Hal ini karena fiat merupakan unbacked money yang terpaksa digunakan karena perlindungan hukum dan "paksaan" dari negara. Sebagai konsekuensi negara memliki peran dan tanggung jawab dalam menjaga ketersediaan supply-nya agar dapat memenuhi demand yang ada. Secara tidak langsung hal ini memberikan indikasi bahwa stabilitas fiat money bergantung pada sekuat dan sejauh manakah suatu negara mampu menjaga perekonomiannya secara kuat dan tahan terhadap berbagai goncangan baik dari sisi internal maupun eksternal. Sayangnya, negara tidak selamanya dapat menjamin stabilitas fiat karena ia memang berkarakter tidak stabil. Oleh karenanya bank sentral di mana pun berada dibentuk memiliki tujuan tunggal (utama). Untuk menjaga stabilitas harga (inflasi) dan stabilitas nilai tukar. Mengapa Stabilitas Setiap perekonomian selalu mendambakan kondisi di mana kondisi full employment dapat tercapai. Dalam teori ekonomi kondisi ini digambarkan oleh kondisi di mana tingkat pengangguran dapat ditekan seminimal mungkin disertai dengan tingkat inflasi yang normal. Dengan demikian kebijakan moneter dan fiskal yang merupakan representasi kebijakan ekonomi sesungguhnya diarahkan agar ekonomi dapat memberikan kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup manusia. Bukan malah sebaliknya. Namun demikian mengapa kedua kebijakan tersebut selalu memberikan hasil akhir yang negatif bagi perekonomian? Misalkan pemerintah mengeluarkan kebijakan fiskal deficit dalam rangka menstimulasi perekonomian yang sedang mengalami resesi, seperti pada kasus global krisis 2007 di mana pemerintah Indonesia mengeluarkan dana talangan sehingga Rp 7,2 miliar dengan alasan penyelamatan ekonomi. Namun, efek daripada kebijakan tersebut adalah tidak memberikan peningkatan output secara singnifikan dan terkesan berbiaya ekonomi tinggi. Berdasarkan data dari International Financial Statistik (IFS) 2009 tercatat bahwa kebijakan stimulus hanya meningkatkan output nasional sebesar 6% dan telah menaikkan tingkat suku bunga sebesar 35% (kalkulasi antara tahun 2007-2008). Secara logika mana mungkin sektor riil mampu bergairah bila dihadapkan dengan tingkat bunga setinggi itu? Dengan demikian wajar bila ada anggapan bahwa 6% persen itu bukanlah karena perkembangan sektor rill. Namun, karena membumbungnya aktivitas sektor finansial. Lagi-lagi uang menjadi isu penopang perkembangan sektor finansial yang begitu dasyat. Kemudian, bagaimana stabilitas ekonomi dapat dibangkitkan bilamana setiap kebijakan ekonomi selalu memberikan kesan instabilitas? Dan, kesimpulan hasil mengisyaratkan bahwa uanglah yang menjadi pemicu utama anomali-anomali pada setiap kebijakan ekonomi. Karakter Uang (Fiat Money) Fiat money yang tidak lain adalah uang kertas dan selalu kita gunakan sesungguhnya adalah hutang negara kepada setiap orang yang memegangnya. Ianya tidak berharga dan secara rill selalu berfluktuasi mengikuti pergolakan pasar. Dalam berbagai teori ekonomi telah banyak disebutkan dan dibuktikan bahwa uang dalam jangka panjang bersifat inflasionary dan unstable. Selanjutnya uang akan memberikan dampak negatif pada output di dalam perekonomian. Selain itu uang sangat erat bertalian dengan fluktuasi tingkat bunga di mana pergolakan pada tingkat bunga akan mengubah keseimbangan uang di dalam ekonomi. Tingkat bunga akan memberikan dampak pada penurunan nilai uang saat ini dibanding masa mendatang. Sehingga, secara tidak langsung dengan memegang uang, kita telah membayar pajak kepada negara dan secara riil kekayaan kita akan berkurang karenanya. Itulah kemudian mengapa banyak orang berlomba-lomba untuk menginvestasikan uangnya pada aset-aset ekonomi non uang hanya untuk menyelamatkan nilai asetnya dari pengurangan nilai dan terdegradasi oleh faktor inflasi. Dengan demikian penggunaan fiat money secara luas telah memberikan dampak negatif. Baik dari sisi ekonomi secara makro maupun secara individual. Lalu Bagaimana? Mengingat fiat money telah digunakan secara luas dan mengakar pada seluruh sektor perekonomian maka tidaklah bijak dan tepat bilamana kita menolak dan memberangus eksistensinya. Yang dapat dilakukan dalam menyikapi sisi negatif fiat adalah dengan mengurasi sisi instabilitasnya dengan cara mendorong penggunaannya pada sektor-sektor produktif dan riil. Uang haruslah dapat dikonversikan ke dalam sektor yang menghasilkan tingkat pengembalian hasil yang melebihi oportunitas memegang uang itu sendiri. Investasi uang pada sektor yang tidak bertaut dengan sektor rill. Misalnya pasar uang bukan merupakan investasi riil karena menanamkan uang di pasar uang hanyalah memindahkan tempatnya saja. Bukan mengganti fungsinya sebagai aset yang bernilai produktif. Kehadiran lembaga keuangan syariah dapat dipandang sebagai wadah alternatif dan pilihan dalam berinvestasi dan melindungi nilai uang kita serta memberikan nilai tambah riil bagi perekonomian. Penggunaan uang atau fiat money yang memberikan nilai tambah riil inilah yang sebenarnya diharapkan dan sangat didorong oleh setiap kebijakan di bawah sistem fiat. Fiat Money Ancaman? Ancaman fiat money ini sesungguhnya terletak pada seberapa kuatkah dalam menahan instabilitas yang berasal dari luar negeri yang juga secara bersamaan menggunakan sistem fiat. Sistem fiat telah menghubungkan sektor-sektor ekonomi menjadi sangat terintegrasi dan saling melengkapi. Tekanan pada suatu negara boleh jadi akan menjangkiti perekonomian negara lain. Menyikapi isu demikian maka sudah saatnya dunia international memikirkan suatu system keuangan global yang berkeadilan dan menciptakan stabilitas. Sistem moneter yang independen dan memiliki daya tahan yang kuat dalam menyerap setiap gejolak ekonomi menjadi mutlak untuk segera dipikirkan. Karena, saat ini dunia serasa telah dibungkam oleh kekuasaan Dolar Amerika sebagai mata uang dunia yang secara nyata telah banyak merugikan perekonomian negara yang mempertalikan mata uangnya dengan Dolar. Dengan demikian ancaman instabilitas ekonomia terus akan membayangi setiap negara sepanjang belum ada sistem mata uang global yang dapat mempertahankan nilainya tanpa intervensi kekuasaan negara. Dimas Bagus Wiranata Kusuma Kandidat Master of Economics International Islamic University Malaysia (IIUM, Direktur Humas of Islamic Economic Forum for Indonesian Development (ISEFID) Kuala Lumpur, dimas_economist@ yahoo.com ____________ _________ _________ _________ _________ __ Apakah Anda Yahoo!? Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam http://id.mail. yahoo.com __________________________________________________ Apakah Anda Yahoo!? Lelah menerima spam? Surat Yahoo! memiliki perlindungan terbaik terhadap spam http://id.mail.yahoo.com
