salam,......... berbicara ekonomi islam berarti berbicara agama islam dalam bahasa ekonomi itu menurut saya....jadi ketika berbicara ekonomi disitu juga maslaah aqidah, syariat muamalah, akhlaq semuanya tercakup didalamnya tidak bisa di pisah-pisahkan... jadi worldview berpikirnya yang perlu dirubah yang mendikotomi ilmu....yang memberikan implikasinya seperti saat ini.... jadi intinya diperlukan ulama yang intelek sebanyak mungkin bukan intelek yang tahu agama...sehingga penerapan syariah islam termasuk didalamnya adalah ekonomi islam berjalan kaffah....
qita mulai dari diri kita sendiri........kalo bukan kita kapan mulainya......berkorbanlah tapi jangan jadi korban......... waslam Luqman Hakim Handoko Muride Gombak Hill http://luqmannomic.wordpress.com +60103654325 Putune Warok Suromenggolo --- Pada Sen, 3/5/10, AYeeP <[email protected]> menulis: Dari: AYeeP <[email protected]> Judul: Re: [ekonomi-syariah] Proyek pelurusan ekonomi syariah Kepada: [email protected] Tanggal: Senin, 3 Mei, 2010, 10:43 AM Salam Artikel yang menarik. Menarik. Intinya, yang saya tangkap, Praktek ekonomi yang hanya menonjolkkan praktek kebenaran fiqih tanpa dilandasi oleh nilai-nilai akidah yang kuat pada hakekatnya hanya akan mengulang permasalahan yang saat ini menimpa perekonomian konvensional. Komentar saya: 1. Bukan nilai akidah tepatnya. Tetapi akhlak. Kepedulian "pengamat, praktisi dan ahli hukum Islam muamalah" harus diliputi oleh suasana akhlak islami sehingga proyek syariatisasi ekonomi dan perbankan tidak melulu dilihat sebagai celah "pendapatan baru" (baca: yang berorientasi bisnis) dibalik jilbab dan jenggot tipis. Rasa takut pada siksa Allah dan selalu "ragu" apakah yang langkah dilakukan sudah benar atau tidak di mata Allah menjadi urgen dalam bom ekonomi syariah. 2. Saya menjadi berpikir bahwa tiba saatnya era tasawwuf/etika Islam memainkan perannya di tengah-tengah semarak syariatisasi. Konsultan syariah harus membuka sub konsultasi etika Islam jika tidak ingin segalanya hanya berkahir di-"bagian tubuh" yang luar. Bahkan yang lebih menakutkan adalah berakhir pada praktek "jual beli=riba" dan yang membedakan hanyalah logo perusahaan/pakaian/ apa yang disampaikan. 3. Artikel itu lebih menarik jika didukung fakta qur'ani, Sunnah dan nasehat orang-orang bijak. Faishol alpontren.com
