FYI
Tidak Harus Terapkan Kontrol KapitalSenin, 17 Mei 2010 | 04:21 WIB Oleh Purbaya Yudhi Sadewa Indeks Harga Saham Gabungan di level yang dianggap terlalu tinggi dan rupiah yang bertahan menguat menimbulkan kekhawatiran akan kerentanan terjadinya pembalikan arus modal asing yang tiba-tiba. Sebagian kalangan mulai mengusulkan penerapan pembatasan arus modal.Derasnya arus modal asing ke pasar finansial kita mendorong kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang signifikan. IHSG bahkan sempat mendekati level 3.000, beberapa waktu lalu, sebelum kembali terkoreksi karena dampak krisis utang Yunani.Sementara itu, rupiah menguat amat signifikan, sempat di bawah Rp 9.000 per dollar AS, sebelum melemah kembali. Saat ini rupiah masih di kisaran Rp 9.100 per dolar, level yang dianggap masih terlalu kuat.Sebagian kalangan menyebutkan arus modal yang masuk ke pasar finansial kita adalah modal jangka pendek (hot money), yang mudah berbalik arah. Bila ini terjadi, stabilitas rupiah dan perekonomian secara keseluruhan dikhawatirkan terganggu.Oleh karena itu, mulai terdengar suara bahwa Indonesia perlu menerapkan kontrol kapital (capital control) atau pembatasan arus modal masuk agar kerentanan terhadap arus modal jangka pendek bisa berkurang.Disinyalir, IMF juga menyarankan kepada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mengendalikan derasnya arus modal yang masuk.Padahal, pada masa lalu lembaga ini gencar mendorong liberalisasi di sektor finansial, termasuk kebebasan aliran modal keluar-masuk suatu negara. Dan, banyak negara yang sudah menerapkan kebijakan tersebut.Membatasi arus modal, setelah suatu negara berkembang telanjur membebaskan sektor finansial dan aliran modalnya, bukan tanpa risiko.Kita bisa belajar dari pengalaman Thailand pada akhir 2006. Ketika itu, ada indikasi Bank sentral AS (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga karena inflasi masih relatif terkendali. Para pelaku pasar bahkan ada yang berspekulasi, The Fed akan segera menurunkan suku bunga pada triwulan II-2007.Sementara itu, bank sentral Eropa baru menaikkan suku bunganya 25 basis poin ke level 3,5 persen karena inflasi di sana masih dianggap relatif tinggi.Ekspektasi akan terjadinya penurunan suku bunga di AS di tengah makin tingginya suku bunga di Eropa menyebabkan dollar AS melemah terhadap Euro dan sebagian besar mata uang dunia.Mata uang Thailand (baht) terkena dampak pelemahan dollar AS. Nilai tukar baht terhadap dollar AS menguat, dari 37,6 bath per dollar AS pada awal bulan Oktober 2006 menjadi 35,1 bath per dollar AS pada 18 Desember 2006. Jadi, dalam waktu kurang dari tiga bulan nilai baht menguat 6,4 persen (14 persen jika dibandingkan dengan awal tahun).Penguatan ini dinilai terlalu cepat dibandingkan dengan yang dialami mata uang negara lain. Rupiah, misalnya, dalam periode yang sama hanya menguat 1,7 persen terhadap dollar AS.Untuk mencegah penguatan baht yang berlebihan, Pemerintah Thailand menerapkan pembatasan terhadap modal yang masuk ke negara itu. Namun, pasar bereaksi negatif, bahkan cenderung panik, terhadap kebijakan itu. Pada 19 Desember 2006 bursa saham Thailand mengalami penurunan 14,8 persen. Baht pun melemah secara signifikan. (gambar 1).Dampak dari kebijakan kontrol kapital Thailand tidak berhenti sampai di situ. Investor masih trauma akan krisis Asia tahun 1997/1998, yang dipicu oleh Thailand. Kebijakan kontrol kapital dan kejatuhan bursa saham Thailand yang amat dalam membuat investor khawatir Thailand akan memicu kembali krisis Asia. Akibatnya, bursa saham regional terkoreksi dalam.Sentimen negatif yang amat besar akibat kebijakan kontrol kapital Thailand terhadap bursa, baht, dan perekonomian Thailand memaksa Pemerintah Thailand membatalkan kebijakan kontrol kapitalnya, sehari setelah kebijakan itu diterapkan.Kasus Thailand memberi pelajaran untuk melihat kebijakan kontrol kapital dengan hati-hati. Di atas kertas mungkin kebijakan ini ampuh untuk mengendalikan arus modal masuk. Namun, bila pasar bereaksi negatif, akan menimbulkan dampak bukan hanya pada arus modal jangka pendek, melainkan juga pada arus modal jangka panjang dan kepercayaan pada perekonomian secara keseluruhan.Keadaan IndonesiaSatu hal yang perlu diingat, derasnya arus investasi ke pasar finansial terjadi karena tingginya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian kita. Kepercayaan ini tidak terjadi begitu saja, tetapi karena keberhasilan Indonesia meminimalkan dampak resesi global.Selama kita dapat terus menjalankan kebijakan fiskal dan moneter yang hati-hati, kepercayaan kepada kita tidak akan hilang begitu saja. Jadi, ke depan kita harus konsistenmengimplementasikan kebijakan fiskal dan moneter yang baik.Selain itu, dollar AS yang masuk ke pasar finansial kita sebagian besar diserap Bank Indonesia. Selain masuk ke pasar saham, aliran dana asing juga mengalir ke instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Berharga Negara (SBN).Kepemilikan asing pada SBN meningkat, dari Rp 108 triliun pada Desember 2009 menjadi Rp 148,13 triliun pada April 2010 atau naik sekitar 37 persen. Adapun utang luar negeri swasta pada periode Desember 2009-Maret 2010 naik sekitar Rp 16 triliun dan aliran dana asing ke SBI diperkirakan Rp 40 triliun dalam periode yang sama. Jadi, total dana asing yang masuk ke tiga instrumen itu sekitar Rp 96 triliun.Di sisi lain, cadangan devisa kita naik, dari 66,1 miliar dollar AS menjadi 78,6 miliar dollar AS (gambar 2) atau naik sekitar Rp 115 triliun, bila menggunakan asumsi kurs rata-rata Januari-April 2010 sekitar Rp 9.200 per dollar AS.Memang agak sulit menghitung dana asing yang masuk ke pasar modal kita. Namun, dari angka di atas, kita bisa mengatakan bahwa sebagian besar dollar AS yang masuk ke dalam negeri dalam beberapa bulan terakhir ini diserap oleh BI.Dengan kata lain, BI mempunyai cukup suplai dollar AS seandainya hot money ini keluar tiba-tiba. Asalkan BI berani menggunakan cadangan devisa itu dengan tepat, rasanya fluktuasi nilai tukar rupiah yang tidak terkendali dapat dihindari.Indonesia memang perlu mewaspadai perkembangan di pasar finansial. Namun, saat ini belum perlu mengambil langkah drastis untuk membatasi aliran modal masuk ke dalam negeri.Aliran modal jangka pendek apabila dapat bertahan untuk waktu agak panjang memberi sinyal ke investor jangka panjang bahwa perekonomian kita sedang membaik. Investor jangka panjang pun akan tertarik berinvestasi langsung di Indonesia. Untuk menjaga sentimen positif, kita harus tetap fokus menjalankan kebijakan fiskal dan moneter yang prudent. Purbaya Yudhi Sadewa, Chief Economist Danareksa Research Institute
