ITips Berwirausaha
Tips dari Bp. Eko (pemilik ‘Bakso Cak Eko’, yang saat ini tumbuh tidak kurang 
dari 125 cabang di seluruh Indonesia) dalam berwirausaha adalah:
       Jangan pernah berhenti mencoba, Bp. Eko baru berhasil setelah tidak 
kurang dari 8 kali mengalami kegagalan.        Bukalah usaha dengan menjual 
sesuatu yang baru. Jika anda tidak bisa menjual sesuatu yang baru, silahkan 
mengikuti tren, namun berusaha agar produk Anda mempunyai ciri khas dibanding 
produk lainnya.       Anda bisa berhenti bekerja dan berkonsentrasi 
mengembangkan usaha ketika pendapatan dari kegiatan wirausaha Anda telah 
mencapai 2 (dua) kali lipat pendapatan di perusahaan Anda bekerja.       
Partner usaha yang ideal adalah partner yang murah hati. Trik untuk membuktikan 
calon partner yang ideal contohnya dengan mengajak calon tersebut untuk makan 
bersama dalam 3 (tiga) kesempatan. Di kesempatan pertama, perhatikan apakah dia 
berusaha mentraktir Anda atau tidak. Jika ya, pastikan kembali di kesempatan 
yang kedua Anda yang melakukan pembayaran. Di kesempatan terakhir, perhatikan 
apakah dia tetap mentraktir Anda
 atau tidak. Jika tidak, silahkan Anda mencari kandidat yang lain.

IIJurang KompetensiJumat, 09 Juli 2010 05:34Siang itu, mungkin siang yang 
kurang menyenangkan bagi saya. Mobil yang tadi pagi masih baik-baik saja, siang 
itu sulit dihidupkan. Dan setelah mesin hidup, ACnya tidak berfungsi 
sebagaimana mestinya. Siang yang terik terasa semakin panas di tengah kemacetan 
Jakarta.Siang itu juga saya mampir ke bengkel AC. Hampir satu jam diperiksa, 
tidak ditemukan kelainan. Montir AC menyerah. Saya disarankan ke bengkel resmi 
karena disinyalir kerusakan ada pada Engine Control Unit. Ini adalah perangkat 
yang mengatur sirkulasi kelistrikan pada mobil. AC tidak berfungsi karena ECU 
tidak memberikan suplai daya listrik ke kompresor AC.

Saat itu juga saya ke bengkel resmi. Dan benar. ECU sudah tidak bisa digunakan. 
Jika saya ingin fungsi AC kembali normal, ECU harus diganti. Tidak ada 
alternatif diperbaiki. Harga barunya, 2,8 juta. Dan untuk menggantinya, saya 
harus menunggu 3 - 4 hari karena barang harus dikirim dari Pekanbaru, Riau.

Saya pulang ke rumah. Iseng-iseng browsing internet dan bertanya pada oom 
Google. Kata kuncinya servis ECU. Ada cukup banyak rekomendasi, dan setelah 
beberapa kali klik, saya dapat satu alamat di daerah Jakarta Barat. Tempat ini 
bisa memperbaiki sekaligus menjual ECU, baru atau bekas.

Esoknya, saya telepon dulu. Niatnya, mau ganti baru. Cuma, suara di seberang 
sama menyarankan untuk diperiksa dulu. Ia tidak percaya pada bengkel resmi!

Usai mampir di kantor sebentar untuk menanda-tangani beberapa berkas, saya 
meluncur ke TKP. Tidak susah mencarinya. ECU, yang bentuknya semacam PCB 
peralatan elektronik, langsung dicopot dan diperiksa di depan saya. Sebelumnya, 
ECU dibersihkan menggunakan, - believe or not, minyak kayu putih. Beberapa kali 
sang montir melakukan pemeriksaan menggunakan alat sederhana yang sepertinya 
hasil modifikasi sendiri.

Dia mengambil seutas serabut kabel halus dari tembaga. Mungkin beberapa 
milimeter, dan kemudian menyoldernya di atas ECU.

Tak perlu menunggu lama, ECU kembali dipasang. Mobil mudah dihidupkan, dan AC 
berfungsi seperti semula. Pekerjaan selesai tidak lebih dari 10 menit!

Berapa biaya yang harus saya bayar untuk pekerjaan tak lebih dari 10 menit? 
Lima ratus ribu rupiah. Kemahalan? Awalnya saya pikir begitu. Begitu sang 
montir menyebut angka, langsung saya tawar separuhnya.

Bung. Sebagian besar umur, saya habiskan untuk belajar dan menekuni sistem 
elektronis kendaraan bermotor. Mulai dari yang bentuknya sederhana, sampai yang 
rumit seperti ini. Rentang waktu yang lama itu lebih banyak berisi kesulitan. 
Sekian lama saya menyusuri jurang, untuk menguasai sebuah kompetensi. Dan saat 
ini, izinkan saya menikmati hasil perjalanan saya!

Yes. Jurang kompetensi. Kalau cuma kerja 10 menit dan semua orang bisa 
melakukannya, pasti bayarannya tidak setinggi itu. Sang montir, memang bekerja 
10 menit, tapi untuk menguasai tekniknya, ia harus belajar puluhan tahun, 
ribuan jam terbang. Dan kompetensi itu, tidak dimiliki setiap orang.

Ia pantas menerima bayaran sebesar itu. Pertanyaannya, berapa tarif kita untuk 
kerja 10 menit? 

Sudah dimuat di Rubrik Inspirasi Harian Semarang, 3 Juli 2010)

Kirim email ke