excellent article,syukron



________________________________
From: risnandar <[email protected]>
Cc: [email protected]; [email protected]
Sent: Thu, July 15, 2010 3:09:04 AM
Subject: [ekonomi-syariah] Tips Berwirausaha dan Jurang Kompetensi

  
I
Tips Berwirausaha

Tips dari Bp. Eko (pemilik ‘Bakso Cak Eko’, yang saat ini tumbuh tidak kurang 
dari 125 cabang di seluruh Indonesia) dalam berwirausaha adalah:

        *        Jangan pernah berhenti mencoba, Bp. Eko baru berhasil setelah 
tidak 
kurang dari 8 kali mengalami kegagalan.
        *         Bukalah usaha dengan menjual sesuatu yang baru. Jika anda 
tidak bisa 
menjual sesuatu yang baru, silahkan mengikuti tren, namun berusaha agar produk 
Anda mempunyai ciri khas dibanding produk lainnya.
        *        Anda bisa berhenti bekerja dan berkonsentrasi mengembangkan 
usaha 
ketika pendapatan dari kegiatan wirausaha Anda telah mencapai 2 (dua) kali 
lipat 
pendapatan di perusahaan Anda bekerja.
        *        Partner usaha yang ideal adalah partner yang murah hati. Trik 
untuk 
membuktikan calon partner yang ideal contohnya dengan mengajak calon tersebut 
untuk makan bersama dalam 3 (tiga) kesempatan. Di kesempatan pertama, 
perhatikan 
apakah dia berusaha mentraktir Anda atau tidak. Jika ya, pastikan kembali di 
kesempatan yang kedua Anda yang melakukan pembayaran. Di kesempatan terakhir, 
perhatikan apakah dia tetap mentraktir Anda atau tidak. Jika tidak, silahkan 
Anda mencari kandidat yang lain.


II
Jurang Kompetensi
Jumat, 09 Juli 2010 05:34
Siang itu, mungkin siang yang kurang menyenangkan bagi saya. Mobil yang tadi 
pagi masih baik-baik saja, siang itu sulit dihidupkan. Dan setelah mesin hidup, 
ACnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Siang yang terik terasa semakin 
panas di tengah kemacetan Jakarta.
Siang itu juga saya mampir ke bengkel AC. Hampir satu jam diperiksa, tidak 
ditemukan kelainan. Montir AC menyerah. Saya disarankan ke bengkel resmi karena 
disinyalir kerusakan ada pada Engine Control Unit. Ini adalah perangkat yang 
mengatur sirkulasi kelistrikan pada mobil. AC tidak berfungsi karena ECU tidak 
memberikan suplai daya listrik ke kompresor AC.

Saat itu juga saya ke bengkel resmi. Dan benar. ECU sudah tidak bisa digunakan. 
Jika saya ingin fungsi AC kembali normal, ECU harus diganti. Tidak ada 
alternatif diperbaiki. Harga barunya, 2,8 juta. Dan untuk menggantinya, saya 
harus menunggu 3 - 4 hari karena barang harus dikirim dari Pekanbaru, Riau.

Saya pulang ke rumah. Iseng-iseng browsing internet dan bertanya pada oom 
Google. Kata kuncinya servis ECU. Ada cukup banyak rekomendasi, dan setelah 
beberapa kali klik, saya dapat satu alamat di daerah Jakarta Barat. Tempat ini 
bisa memperbaiki sekaligus menjual ECU, baru atau bekas.

Esoknya, saya telepon dulu. Niatnya, mau ganti baru. Cuma, suara di seberang 
sama menyarankan untuk diperiksa dulu. Ia tidak percaya pada bengkel resmi!

Usai mampir di kantor sebentar untuk menanda-tangani beberapa berkas, saya 
meluncur ke TKP. Tidak susah mencarinya. ECU, yang bentuknya semacam PCB 
peralatan elektronik, langsung dicopot dan diperiksa di depan saya. Sebelumnya, 
ECU dibersihkan menggunakan, - believe or not, minyak kayu putih. Beberapa kali 
sang montir melakukan pemeriksaan menggunakan alat sederhana yang sepertinya 
hasil modifikasi sendiri.

Dia mengambil seutas serabut kabel halus dari tembaga. Mungkin beberapa 
milimeter, dan kemudian menyoldernya di atas ECU.

Tak perlu menunggu lama, ECU kembali dipasang. Mobil mudah dihidupkan, dan AC 
berfungsi seperti semula. Pekerjaan selesai tidak lebih dari 10 menit!

Berapa biaya yang harus saya bayar untuk pekerjaan tak lebih dari 10 menit? 
Lima 
ratus ribu rupiah. Kemahalan? Awalnya saya pikir begitu. Begitu sang montir 
menyebut angka, langsung saya tawar separuhnya.

Bung. Sebagian besar umur, saya habiskan untuk belajar dan menekuni sistem 
elektronis kendaraan bermotor. Mulai dari yang bentuknya sederhana, sampai yang 
rumit seperti ini. Rentang waktu yang lama itu lebih banyak berisi kesulitan. 
Sekian lama saya menyusuri jurang, untuk menguasai sebuah kompetensi. Dan saat 
ini, izinkan saya menikmati hasil perjalanan saya!

Yes. Jurang kompetensi. Kalau cuma kerja 10 menit dan semua orang bisa 
melakukannya, pasti bayarannya tidak setinggi itu. Sang montir, memang bekerja 
10 menit, tapi untuk menguasai tekniknya, ia harus belajar puluhan tahun, 
ribuan 
jam terbang. Dan kompetensi itu, tidak dimiliki setiap orang.

Ia pantas menerima bayaran sebesar itu. Pertanyaannya, berapa tarif kita untuk 
kerja 10 menit? 

Sudah dimuat di Rubrik Inspirasi Harian Semarang, 3 Juli 2010) 




      

Kirim email ke