Berikut saya sampaikan diskusi di mailing rimbawan interaktif
mengenai "PERHUTANI".
Maaf jika tidak berkenan.
Sekedar menyampaikan sisi lain dari PERHUTANI

Wass,
asep
======


-------- Original Message --------
Subject: [rimbawan-interaktif] STATUS HUKUM PERHUTANI
From: "stutiningsih" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Fri, November 29, 2002 12:41 am
To: [EMAIL PROTECTED]

Bedasarkan info dari teman-teman di Kantor Pusat PT Perhutani,
saat  ini sedang terjadi PEMBUSUKAN YG LUAR BIASA !

Direktur Umum & Direktur Produksi lebih sering TIDAK AKTIF
karena  sakit, dan Direktur Keuangan JARANG MASUK KERJA.
Direktur Pemasaran  merangkap menjadi Direktur Umum dan
Produksi, lebih senang JALAN-
JALAN KE LUAR NEGERI bersama Kepala Divisi Perencanaan
(Bambang Aji)  menghambur-hamburkan Dolar perusahaan secara
BOROS.  Direktur Utama  sibuk me-lobby Menteri Kehutanan dan
Men BUMN untuk melanggengkan  jabatannya yang sudah TIDAK
PUNYA DASAR HUKUM. Belakangan, mungkin  karena pussssiiiiiing,
Direktur Utama memerintahkan dirinya sendiri  (karena tidak
ada Direktur lain yang bisa disuruh untuk memerintah  dirinya)
untuk BERANGKAT JALAN-JALAN KE INDIA, mneghadiri perkawinan
anak salah seorang kenalannya (pembeli Gondorukem Perhutani),
PEMBOROSAN !

Sementara, Kas & Bank Perhutani tinggal Rp 120 Milyar (dari Rp
700 M,  setahun yll), untuk apa saja uang Rp 580 Milyar
dihabiskan dalam
setahun ???  Para karyawan kelas menegah ke bawah (yang masih
punya  hati nurani) menginginkan agar Direksi mempertanggung
jawabkan
penggunaan uang tsb secara transparan, bahkan ada yang
bisik-bisik  agar dibentuk PANSUS di DPR (sebab Akbar Tanjung
saja hanya
menyangkut uang senilai Rp 40 Milyar diproses melalui PANSUS).

Dari penelusuran saya sejauh ini, saya makin yakin bahwa para
anggota  Direksi PT Perhutani dapat dikatagorikan dalam
kelompok orang yang:  KORUP, EGOIS, AMBISIUS, TAMAK, SOK
KUASA, tapi BEGO (mungkin lebih  tepat LINGLUNG dan KOPPEH).

Saya prihatin, kok Perhutani yang merupakan harapan terahir
dari
pengelolaan hutan Jawa yang unik dam terkenal di dunia,
dikelola oleh  orang-orang seperti itu. Sehingga membuat MUAK
kepada perusahaanya.  Kalau banyak tikus di lumbung padi,
mungkin sebaiknya TIKUS-TIKUS ITU  SEGERA DIBASMI, bukan
lumbung padinya yang dihancurkan.

Nuwun,
Astutiningsih.

--- In [EMAIL PROTECTED], "dadangsuhendar"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Anda bentul, eh betul !
> Saat ini beberapa person dari Dinas Kehutanan Jawa Tengah,
> Jawa
Timur
> dan Jawa Barat sedang menyiapkan manufer dengan memanfaatkan
> modus  KETIDAK-PATUHAN atas PUTUSAN MA yang disebut oleh
> mereka sebagai  sikap Mbalelo dari Direksi PT Perhutani
> kepada Negara untuk
menuntut
> LIKUIDASI PT PERHUTANI (Pembubaran PT Perhutani).
> Mungkin mereka menghendaki agar yang menjadi pengelola hutan
> di P.  Jawa adalah Dinas Kehutanan.
> Sementara saat ini para pejabat Perhutani tampaknya
> tenang-tenang  saja atas tindakan melawan hukum tersebut.
> Mereka masih asyik ber- hura-hura, wayangan, dangdutan, dll.
> Mungkin mereka juga bego-bego  (pinjem istilah mas Bambang)
> ?!
>
> Punten,
> Dadang.
>
> --- In [EMAIL PROTECTED], "Bambang" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> > Halo..Saya Bambang, boleh diucap mbambangh..
> > Terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada mbak Astuti atas
informasi
> > yang sangat detil (Saya yakin bahwa Kepala Pusat Informasi
> > Dephut
> pun
> > tidak memiliki info sedetil anda).
> > Dari info tsb, saya beranggapan bahwa:
> >
> > 1. Telah terjadi perbuatan melawan hukum oleh Direksi PT
Perhutani,
> > yaitu secara formal bersikap mengabaikan Putusan MA.
> >
> > 2. Telah terjadi konspirasi antara Direksi PT Perhutani,
> > Sekneg,
> dan
> > Deputi MenBUMN. Dalam hal ini, fihak Sekneg yang hanya
> > memohon
> kepada
> > MA untuk menangguhkan merupakan hal biasa (sah-sah saja)
> > karena  memohon itu tidak mengikat sesuatu apapun (sukur
> > kalau
dikabulkan,
> > kalau tidak ya nggak apa-apa yang penting kewajibannya
> > membantu  Direksi PT Perhutani telah dilakukan). Demikian
> > pula Deputi
MenBUMN
> > yang meminta (bukan memerintah, karena tidak punya
> > wewenang untuk  memerintah) kepada jajaran Direksi
> > Perhutani nampak hanya sekedar  basa-basi agar
> > kewajibannya membantu telah dilaksanakan. Lha wong  cuman
> > meminta (kata lain dari memohon, ya kan ?). Permintaan
inipun
> > bukan merupakan produk hukum dan tidak memiliki kekuatan
> > hukum  apapun. Yang bego itu Direksi Perhutani yang
> > terlalu bernafsu  memanfaatkan permohonan Sekneg dan
> > Permintaan Deputi MenBUMN
untuk
> > secara formal (melalui surat-surat resminya)
> > terang-terang-an  mengabaikan Putusan MA (sekali lagi:
> > Putusan MA, bukan permohonan  atau permintaan, tapi
> > Putusan dari Lembaga Yudikatif Tertinggi di  Republik
> > ini).
> >
> > 3. Dampak atas ketidak-legalan ini secara mutlak mewarnai
> > dan  mempengaruhi seluruh aktivitas Perhutani. Direksi dan
> > Dekom PT  Perhutani secara otomatis tidak lagi memiliki
> > kekuatan hukum
akibat
> > pijakannya (PP 14/2001) dinyatakan Tidak Sah dan Tidak
> > Berlaku.
> Dalam
> > PP 53/1999 sebagai pengurus Perum Perhutani adalah Direksi
> > Perum  Perhutani (bukan Direksi PT Perhutani)dan Dewan
> > Pengawas (bukan
> Dewan
> > Komisaris)Perum Perhutani.  Oleh karenanya, sejak PP
> > 14/2001
> > dinyatakan tidak sah dan tidak berlaku tsb, orang-orang
> > yang
> > mengatasnamakan dirinya Direksi dan Dekom PT Perhutani
> > merupakan  segerombolan orang yang sebenarnya tidak
> > memiliki kewenangan
hukum
> > apapun atas Perum Perhutani yang secara otomatis lahir
> > kembali
> sejak
> > dberlakunya Putusan MA tsb. Nah, mungkin karena menyadari
> > hal itu  tetapi tidak mau menerimanya secara profesional,
> > maka ditempuh  langkah politik kampungan gaya orde baru
> > bersekongkol dg Sekneg
> dan
> > Deputi MenBUMN (sebab para politikus asli di DPR RI justru
> >
> mendukung
> > Putusan MA tsb).
> >
> > Lha wong Illegal kok mendapat Sertifikat dari SGS, apa
> > pen-
> > sertifikatan ini juga ditempuh untuk mengaburkan
> > penglihatan
publik
> > atas kebobrokan=kebobrokan itu ?
> >
> > Perlu dilakukan Upaya penyelamatan Aasset negara yang
> > dilimpahkan  kepada Perum Perhutani (baik fisik maupun
> > Keuangan) dari
penjarahan
> > oleh segerombolan orang yang melakukannya secara
> > terang-terangan.
> >
> > Para pihak yang berkompeten hendaknya segera menunjuk
> > Pengurus
> Perum
> > Perhutani yang baru lahir kembali, untuk segera
> > menyelamatkan
asset
> > negara tersebut.
> >
> > Halo para pejabat Dephut, DepKeu, MenBUMN, Sekneg, anda
> > sedang  diamati oleh rakyat, jangan sembrono lho ! Nanti
> > menyesal !
> >
> > Saya Bambang.
> >
> > --- In [EMAIL PROTECTED], "Astutiningsih"
> <[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
> > > Status Hukum Perhutani memang sangat menarik untuk kita
> > > bahas,
> > sebab
> > > mendasari Legalitas Perusahaan maupun Perilaku para
Pejabatnya.
> > > Informasi yg bersumber dari Divisi Hukum & Divisi
> > > Perencanaan  Perhutani adalah sbb:
> > >
> > > 1.Sejak 11 Juni 1999 terbit PP No 53 tentang PERUM
> > > PERHUTANI yg  merupakan revisi atas PP No. 36 Th 1986
> > > (sebelumnya mrp Dasar
> Hukum
> > > PERUM Perhutani) sbg penyesuaian atas terbitnya PP No 13
> > > Th
1998
> > > tentang PERUM (Perusahaan Umum). Proses penggodokan PP
> > > No
53/1999
> > ini
> > > melibatkan para pakar Kehutanan IPB, UGM, Stiper, LSM
> > > (Ford  Foundation, Latin, Bina Swadaya, ICEL ISEI,
> > > IKARI, dll).
> > >
> > > 2.Mendadak pada 23 Maret 2001 terbit PP No 14 /2001
> > > tentang  PENGALIHAN BENTUK PERUM menjadi PERUSAHAAN
> > > PERSEROAN (PERSERO).
> > Atas
> > > Dasar PP ini (dan sesuai PP No 12 Th 1998 tentang
> > > Perusahaan  Perseroan (Persero)), dibuat AKTE NOTARIS
> > > PENDIRIAN PT
PERHUTANI
> > > (Persero).  Sejak itu, resmilah berdiri PT PERHUTANI
> > > (Persero)
> dan
> > > BUBARNYA PERUM PERHUTANI.  Berdasarkan PP 14 /1999
> > > MenBUMN
> menunjuk
> > > ANGGOTA DIREKSI & Dewan KOMISARIS PT PERHUTANI.
> > >
> > > 3.Pada  22 Juni 2001, Kelompok Masyarakat (Ir.
> > > Djamaludin S,
> Prof.
> > > Ir. Ssoekiman A, Ir. Hartono W. MA, Ir. Wardonosaleh,
> > > Ir.
> Harnanto
> > > H.M., Dr YonSudiono, MES, Ir Petrus M. Subroto, Sarwidji
> > > SH dan  Emmanuel Rahajaan SH Mhum) mengajukan PERMOHONAN
> > > KEBERATAN HAK
> UJI
> > > MATERIIL terhadap PP No 14 /2001 kepada MAHKAMAH AGUNG
> > > (MA).
> > >
> > > 4.Pada 7 Maret 2002,  MA memutuskan (No. 07P/HUM/2001):
> > >      a.   Mengabulkan permohonan keberatan para pemohon
> > >      b.   Menyatakan PP No 14 Th 2001 TIDAK SAH & TIDAK
> > >      BERLAKU, c.  Memerintahkan Pemerintah/Presiden untuk
> > >      mencabut PP
> > No
> > > 14/2001 dengan ketentuan apabila dalam tempo 90 hari
> > > setelah
> > putusan
> > > DIKIRIMKAN (disampaikan) ternyata TIDAK DILAKSANAKAN
PENCABUTAN,
> > Demi
> > > Hukum PP No 14/2001 TIDAK MEMPUNYAI KEKUATAN HUKUM.
> > >      d.   Menghukum Pemerintah untuk membayar biaya yg
> > >      timbul
> > dl
> > > perkara permohonan keberatan ini.
> > >   Keputusan MA ini dikirimkan tertanggal 31 Mei 2002.
> > >   90 hari setelah itu adalah  Tanggal 2 September 2002.
> > >
> > > 5.Pada 6 Juni 2002, Ir. Djamaludin S (mantan Menteri
> > > Kehutanan,  sebagai salah seorang penggugat) yg telah
> > > mendapatkan Salinan
> Surat
> > > PUTUSAN MA No 07P/HUM/2001, memberitahukan, secara
> > > formal per-
> > surat,
> > > kepada  Direksi PT Perhutani agar mematuhi Putusan MA
> > > tsb dan
> > segera
> > > mengambil langkah-langkah secara bertanggungjawab untuk
memproses
> > > secara saksama perubahan PT Perhutani menjadi PERUM
> > > PERHUTANI
yg
> > > tentunya menyangkut segenap aspek perusahaan (Legal,
> > > Finansial,
> dan
> > > Pengurus Perusahaan).
> > >
> > > 6.Pada 23 Juli 2002, melalui Surat No 289/044.9/KUM/DIR,
> > >
Direktur
> > > Utama PT Perhutani memerintahkan kepada Segenap Pejabat
> > > PT
> > Perhutani
> > > untuk beranggapan bahwa: Karena Proses Judicial Review
> > > tsb
> > > tidak/belum melibatkan PT Perhutani, maka surat dari Ir.
> > >
> Djamaludin
> > > tsb HANYA SEBAGAI INFORMASI, serta MELARANG untuk
> > > melakukan hal-
> hal
> > > yang berkaitan dg Putusan MA tsb.
> > >
> > > 7.Dalam rapat dengar pendapat antara KOMISI III DPR RI
> > > dg
Direksi
> > PT
> > > Perhutani, 26 Juli 2002,  Komisi III DPR RI mendukung
> > > perubahan  STATUS PERHUTANI KEMBALI KE PERUM.
> > >
> > > 8.Pada 26 Agustus 2002, SEKNEG (melalui surat No R-73)
> > > memohon
> > kepada
> > > MA untuk MENANGGUHKAN Pelaksanaan Putusan MA No
> > > 07P/HUM/2001.
> > >
> > > 9.Pada 18 September 2002, Deputi Bidang Usaha
> > > Agroindustri,  Kehutanan, Kertas Percetakan dan
> > > Penerbitan (Sdr. MP.
Simatupang)
> > > pada KEMENTERIAN BUMN menyurati Direksi PT Perhutani
> > > yang
isinya
> > > MEMINTA agar jajaran Direksi PT Perhutani tetap
> > > melaksanakan
> tuhgas
> > > sesuai kewenangan masing-masing dg berpedoman pada PP No
> > > 14 Th
> 2001.
> > >
> > > 10.Para Ahli Hukum berpendapat sbb:
> > >      a.   UU No 14 Th 1985 ttg MA (ps 31) menyatakan bhw
> > >      MA
> > BERWENANG
> > > menguji secara materiil thd peratura perundangan di
> > > bawah UU.
Hal
> > ini
> > > juga dinyatakan dlm TAP MPR RI No III/MPR/2001 )Ps 5),
Pengujian
> > tsb
> > > bersifat Atif dan dapat dilaksanakan tanpa melalui
> > > proses
> peradilan
> > > Kasasi dan keputusannya BERSIFAT MENGIKAT, KONKRIT dan
> > > FINAL.
> Oleh
> > > karenanya bahwa PP No 14 adalah TIDAK SAH & TIDAK
> > > BERLAKU harus  dipatuhi oleh seluruh Warga Negara dan
> > > Institusi di Republik  Indonesia tercinta ini. Yang
> > > tidak mematuhi berarti MELANGGAR
> HUKUM.
> > >      b.   Karena sampai batas waktu 90 hari setelah
> > disampaikannya
> > > Putusan MA tsb PEMERINTAH TIDAK MENCABUT PP No 14/2001,
> > > maka
> Sejak
> > 2
> > > September 2002 PP 14 demi hukum TIDAK MEMPUNYAI KEKUATAN
> > > HUKUM
> > (tidak
> > > dapat mendasari aktivitas dan keputusan apapun di negeri
> > > ini).
> > Oleh
> > > karena itu, sejak 2 September, DEMI HUKUM, PT Perhutani
> > > BUBAR
dan
> > > TIDAK MEMILIKI KEKUATAN HUKUM LAGI. Sejak  2 September
> > > 2002,  Perhutani kembali  ke PERUM PERHUTANI atas dasar
> > > PP No 53/1999.
> > >      c.   Sejak 2 September 2002, segala bentuk perbuatan
> > hukum,
> > > keputusan/kebijakan yg mengatas namakan PT Perhutani
> > > adalah
TIDAK
> > SAH
> > > (ILLEGAL).  Eksistensi Direksi PT Perhutani TIDAK
> > > MEMPUNYAI
> > KEKUATAN
> > > HUKUM, sehingga TIDAK MEMPUNYAI KEWENANGAN mengelola dan
> > >
> > memanfaatkan
> > > segala Sumberdaya milik PERUM PERHUTANI. Segala
> > > Aktivitas
Person-
> > > person yang mengatasnakamakn Direksi PT Perhutani
> > > merupakan  TANGGUNGJAWAB PRIBADI yang HARUS
> > > DIPERTANGGUNGJAWABKAN secara
> > HUKUM.
> > > (Perdata maupun PIDANA). Hal ini dinyatakan secara tegas
> > > pada
UU
> No
> > 1
> > > Th 1995 tentang Perseroen Terbatas dan PP No 12/1998 ttg
> > >
Persero,
> > > bahwa DIREKSI bertanggungjawab atas segala sesuatu yg
> > > terjadi
> pada
> > > Perusahaan (termasuk KEABSAHAN atau LEGALITAS Perusahaan
> > > dan
> > jalannya
> > > perusahaan).
> > >
> > > Demikian hasil investigasi sementara, semoga bermanfaat.
> > > Nuwun,
> > > Astutiningsih.
> > >
> > >
> > >
> > > > At 03:54 AM 10/24/2002 +0000, you wrote:
> > > > >Bung Ir. Kus Saparjadi MOF(Kepala Pusat Informasi
> Dep.Kehutanan)
> > > yang
> > > > >saya hormati, sesuai janji Anda untuk senantiasa
> > > > >bersedia
> > merespon
> > > > >atas hal-hal yg penting dan relevan, perkenankan saya
> > > > >mohon penjelasan Anda:
> > > > >
> > > > >Apakah Landasan Hukum BUMN PERHUTANI dan Apakah
> > > > >Bentuk
> > > Perusahaannya
> > > > >(PERUM atau PT) ?
> > > > >
> > > > >Hal ini sangat kami butuhkan berkenaan dengan LEGAL
> > > > >ASPECT
> atau
> > > Aspek
> > > > >YURIDIS dari sepak terjang Perhutani (baik secara
> > > > >Lembaga
> maupun
> > > > >oknum-oknumnya).
> > > > >
> > > > >Salam Rimbawan,
> > > > >Ir. Bambang S.


Silahkan lihat file r-i di:
http://yahoogroups.com/group/rimbawan-interaktif
klik messages
terimakasih


Your use of Yahoo! Groups is subject to
http://docs.yahoo.com/info/terms/



___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id


_______________________________________________
Envorum mailing list
[EMAIL PROTECTED]
http://lists.lead.or.id/mailman/listinfo/envorum

Kirim email ke