Republika Online edisi: 12 Jan 1999

EMMY HAFILD

Diam-diam, Indonesia kini punya pahlawan bertaraf
Internasional. Mau tahu? Namanya, Emmy Hafild. Wanita
kelahiran Sumatra Barat, 40 tahun lalu ini, oleh majalah Time
edisi terbaru (11 Januari 1999), dinobatkan sebagai Pahlawan
Bumi.

Menantu mendiang Letjen HR Dharsono ini merupakan satu
di antara lima Pahlawan Bumi lainnya. Kemmpat yang lain
adalah Russel Mittermeier, 49, kelahiran New York (USA);
Dune Lankard, 39, Alaska (AS), Mark Plotkin, 43
(Venezuela); dan Wangari Maathai, 58 (Kenya).

Time menganggap berkat perjuangan mereka nasib bumi
bertambah baik. Masyarakat, negara, dan dunia
tersadarkan akan arti penting menjaga keutuhan bumi.
''Para Pahlawan Bumi ini telah mengabdikan dirinya untuk
berjuang melawan kebodohan, keserakahan, dan
kesewenang-wenangan manusia yang merusak bumi.''

Lho, apa peran Emmy sehingga mendapat anugerah
internasional yang membanggakan itu? Dialah Direktur
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), sebuah
LSM yang mengkoordinir 368 LSM yang bergerak dalam
bidang lingkungan hidup di Indonesia. Alumnus IPB (1982)
ini, menurut Time, ketika berada di Amerika saat kuliah di
University of Winscoonsin, mampu menggalang opini publik
dan politik Amerika untuk memperhatikan kerusakan hutan
di Indonesia. ''Saat itu saya memang harus banyak bicara
politik. Saya banyak mengritik kebijakan Soeharto yang
merusak hutan,'' kata Emmy seperti dikutip Time.

Pada tahun 1994, Emmy dengan WALHI-nya mengajukan
court action, menggugat pemerintah karena mengalihkan
dana reboisasi sebesar 183 juta dolar AS ke industri
pesawat terbang nasional (IPTN). ''Soeharto marah, tapi
tak bisa berbuat apa-apa karena kami mengajukannya
lewat pengadilan,'' tutur Emmy.

Tapi, ternyata Soeharto belum kapok. Dua tahun kemudian,
dia kembali mengalihkan dana reboisasi 102 juta dolar AS
ke pabrik pulp milik kroninya, Bob Hasan. WALHI, kembali
bereaksi.

Kenapa wanita berkulit kuning langsat ini sangat mencintai
hutan? ''Saya lahir di pedalaman Sumatra yang masih
penuh hutan,'' akunya. ''Tempat main saya waktu kecil di
sekitar hutan. Saya biasa melihat gajah dan harimau di
hutan,'' kenangnya.

Tapi sayang, tempat mainnya itu, pada tahun 1968, digusur
dan dijadikan lapangan golf. ''Waktu itu umur saya 10
tahun. Saya sedih sekali melihat hutan dijadikan lapangan
golf,'' kenangnya.

Mungkin dari situlah, Emmy kemudian tumbuh menjadi
wanita yang sangat mencintai hutan.:ss/time

___________________________________________________________________
Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum

Kirim email ke