TEMPO INTERAKTIF, NO. 15 TAHUN XXVII - 12 Jan - 18 Jan 199 
Lingkungan 

Mengintip Jejak Harimau Jawa

Tanda-tanda harimau Jawa, spesies yang dianggap punah, masih
ditemukan di Taman Nasional Meru Betiri. Tapi ada yang
meragukannya.

JIKA ada hewan langka yang popu lasinya menurun tajam, itu sudah
biasa. Tapi kalau ada hewan langka yang sudah dinyatakan punah
tiba-tiba muncul kembali, ini luar biasa. Masalahnya, apakah benar
harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) itu muncul kembali, masih
dipertanyakan. Hewan yang berdasarkan penelitian WWF dan
Departemen Kehutanan (Dephut) tahun 1995 dinyatakan punah itu kini
ditemukan jejak-jejaknya di Taman Nasional Meru Betiri. Itu menjadi
pertanda "si belang" masih hilir-mudik di hutan Jawa Timur.

Keyakinan itu disampaikan oleh kelompok pencinta alam yang tergabung
dalam Tim Mitra Meru Betiri yang mengumumkan hasil temuannya pada
Desember lalu. Tim ini beranggotakan 52 orang dan melakukan penelitian
pada Agustus dan November 1997. Mereka menemukan jejak dan
cakaran yang mereka yakini milik hewan sebesar anak sapi dengan ciri
khas surai di kuduknya itu. Kesimpulannya, "Minimal masih ada lima
ekor," kata Wahyu Giri P., salah seorang anggota tim. 

Jejak kaki, misalnya, ditemukan di delapan tempat, masing-masing di
daerah Puda'an, Pondok Nongko, Lereng Barat dan Timur Meru, Cawang
Savana Sumbersari, anak sungai Cawang Kanan, Camp Grendel, dan
Durenan Bawah, dari taman nasional seluas 58 ribu hektare itu. Lalu
cakaran ditemukan pada beberapa pohon di wilayah Lapangan Demung,
Cawang Kanan, dan tiga tempat lainnya. 

Jejak kaki yang ditemukan paling kecil berdiameter 12 sentimeter.
Sedangkan cakaran ditemukan pada batang pohon dengan ketinggian
posisi cakaran antara satu dan 2,14 meter. Selain mendapatkan kedua
bukti itu, mereka menemukan kotoran harimau Jawa tercecer di beberapa
tempat.

Tim Meru Betiri tampaknya yakin betul bahwa tanda yang mereka
temukan adalah milik harimau Jawa. Kotoran yang ditemukan, menurut
mereka, bukan milik kucing hutan (Felis benglensis) yang juga hidup di
taman nasional yang menyimpan lebih dari 362 spesies tumbuhan dan
181 spesies hewan itu. Menurut Didik Raharyono, anggota tim lainnya,
kotoran harimau Jawa mengandung rambut, tulang remuk, dan
kadang-kadang kuku mangsa, sedangkan kotoran kucing hutan umumnya
mengandung rumput atau tumbuhan. 

Keyakinan Didik dan kawan-kawannya itu diperkuat oleh keterangan Indra
Arinal, Kepala Taman Nasional Meru Betiri. "Kesaksian penduduk
setempat membuktikan bahwa harimau Jawa itu memang masih ada,"
kata Indra, yang telah empat tahun memimpin taman nasional yang
lokasinya terbentang dari Jember hingga Banyuwangi ini. Indra dengan
timnya, yang melakukan pemantauan rutin setiap tiga bulan sejak tahun
1995, meyakini binatang "punah" itu masih gentayangan.

Meski bukti cukup kuat, Departemen Kehutanan, yang sedari awal
mengklaim harimau Jawa telah punah, tidak menerima begitu saja temuan
Tim Meru Betiri. Bagi Johannes Subijanto, Kepala Sub-Direktorat
Konservasi Flora dan Fauna Ditjen Pelestarian dan Konservasi Alam
Dephut, cakaran, jejak, dan feses saja tidak cukup untuk membuktikan
harimau Jawa masih ada. "Perlu ada tes DNA terhadap kotoran yang
ditemukan," kata Johannes. Karena itu, Dephut mengirim kotoran tadi ke
Amerika Serikat untuk memastikan betulkah kotoran itu milik harimau
Jawa.

Hal yang sama disampaikan pakar kehidupan liar IPB, Hadi S. Alikodra.
Menurut Hadi, bentangan Taman Nasional Meru Betiri memang memenuhi
syarat kehidupan jarak jelajah harimau Jawa yang bisa mencapai 300
kilometer. Selain itu, di taman nasional itu juga hidup kijang, rusa, babi
hutan, dan banteng, yang merupakan santapan harimau Jawa. Tapi,
menurut pakar yang juga Asisten Menteri Lingkungan Hidup ini, jejak
harimau Jawa yang ditemukan haruslah fresh. Artinya, usia jejak tidak
boleh lebih dari dua atau tiga hari. "Selain itu, jejak juga harus merupakan
jejak yang berulang," katanya. Tanpa itu, tidak bisa dipastikan hasil
temuan tim Meru Betiri sahih.

Tidak jelas memang, apakah temuan anak-anak muda itu memenuhi
syarat yang diminta Alikodra. Namun, kalau memang temuan itu benar,
ini adalah harapan bagi pemeliharaan spesies harimau yang di seluruh
dunia jumlahnya tinggal 5.000 ekor itu. 

Arif Zulkifli, I G.G. Maha S. Adi (Jakarta), Munib Rofiqi (Surabaya),
dan L.N. Idayanie (Yogyakarta) 

                                                                            
                                       Copyright @ PDAT 1 9 9 8 




___________________________________________________________________
Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum

Kirim email ke