Kompas OnLine, Kamis, 14 Januari 1999
Lingkungan Indonesia Mundur 30 Tahun
Jakarta, Kompas
Pencopotan tiga "pendekar" lingkungan hidup yang prokonservasi
sangat memprihatinkan para tokoh lingkungan. Dengan kondisi
institusi lingkungan yang lebih memihak kepada eksploitasi ini,
dikhawatirkan kondisi lingkungan mundur 30 tahun lebih.
Demikian Indro Tjahjono, Koordinator Skephi (Sekretariat Kerjasama
Pelestarian Hutan Indonesia) menanggapi pencopotan tiga tokoh
lingkungan hidup Indonesia hari Rabu (13/1) di Jakarta. Tiga tokoh
lingkungan dimaksud adalah Nabiel Makarim, Surna T Djajadiningrat
(Bapedal) dan RTM Sutamihardja (Kantor Menneg LH).
Pemecatan itu bagaimanapun akan sangat menguntungkan
upaya-upaya eksploitasi sumber daya alam yang cenderung
mengalahkan lingkungan hidup. Dengan disingkirkannya mereka,
dikhawatirkan perusakan-perusakan terhadap lingkungan di
daerah-daerah akan semakin tidak terkendali.
"Keadaan sekarang menjadi seperti awal-awal tahun 1965,
bagaimana menyadarkan orang untuk bisa mengerti masalah
lingkungan hidup sangat sulit," kata Indro.
Selama ini berbagai upaya sudah dilakukan agar pemahaman
lingkungan hidup di Indonesia mencapai tingkatan tertentu, namun
dalam waktu singkat para aktor lingkungan yang prokonservasi itu
tiba-tiba diberhentikan.
Kesulitan-kesulitan untuk memajukan pemahaman lingkungan juga
dirasakan Sarwono Kusumaatmadja ketika masih menjabat sebagai
menteri lingkungan. Mereka terpaksa berpikir terbalik karena
cara-cara konvensional tidak bisa dijalankan. "Dulu, sementara kami
harus mengurus limbah, di tempat lain orang sibuk mengurus Mbah
Liem. Sekarang malahdua-duanya susah diurus," kata Sarwono
sehari sebelum pemecatan ketiga tokoh lingkungan itu.
Perlu aktor
Bagi Indro kehadiran aktor-aktor lingkungan masih sangat diperlukan,
mengingat kedudukan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup
Indonesia yang sangat lemah. Kedudukan menteri negara tidak kuat
untuk bisa mengontrol kerusakan lingkungan, berbeda dengan
departemen yang memiliki akses teknis untuk menghentikannya.
Itu sebabnya, mengapa diperlukan pelaksana lingkungan yang bisa
melobi dan mengimbau, paling tidak bisa menyentuh kebijakan
departemen teknis. Keputusan-keputusan yang rekomendatif dan
komitmen moral, menjadi sangat penting untuk menangani
masalah-masalah lingkungan hidup di Indonesia.
"Pemecatan itu bagai petir yang terjadi di siang bolong. Saat mereka
dibutuhkan, justru dipecat tanpa alasan jelas," kata Indro.
Koordinator Skephi ini memperkirakan, pemecatan terjadi mungkin
karena adanya benturan-benturan di dalam. Sekelompok yang
sepaham dengan prinsip-prinsip industri berhadapan dengan
kelompok yang prokonservasi.
Dalam kesehariannya, di lembaga lingkungan hidup baik Bapedal
maupun Kantor Menneg LH memang sering terjadi
"kucing-kucingan". Bahkan Indro menyebutkan, menterinya sendiri
takut berbicara dalam rapat koordinasi. "Pemecatan inilah
puncaknya kucing-kucingan, baik di LH maupun Bapedal," tegas
Indro.
Sampai saat ini belum nampak adanya kebijakan-kebijakan
lingkungan yang dikeluarkan, seperti peraturan-peraturan Amdal yang
seharusnya dibongkar total tetapi ternyata masih belum
dilaksanakan karena semuanya lebih menguntungkan eksploitasi.
(awe)
___________________________________________________________________
Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum
BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]