Pak apa kabar?
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Maringan Aruan
Sent: Friday, November 25, 2005 10:35 AM
To: estika
Subject: [ex-be2de] FW: Bertengkar/Marah wajarkah....?
Tips for Week
End
Bertengkar/Marah wajarkah....?
Buat Yang Udah Nikah, Mau Nikah, punya Niat untuk nikah. Bertengkar
adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga,
kalau
ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !"
Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah
berdusta.
Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, sebagaimana
lebih menikmati lagi sa'at sa'at tidak bertengkar. Bertengkar itu
sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan
emosi
tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk
hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap
mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan
desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah
dicerna
ketimbang basa basi tanpa emosi.
Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala
kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang
mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding,
bahwa kalau pun
harus bertengkar, maka :
1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah.
Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal
nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah
pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah.
Ketika ia
marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya !
Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam
hati :
"kamu makin cantik kalau marah,makin energik ...." Dan dengan diam
itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi
tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "duh kekasih ...
bicaralah terus,
kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu
itu aku menunggu ...."
Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka",saya
menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah
sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak
berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :) maka kini
giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus
untuk
marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik
untuk
dilakukan secara berjama'ah selain marah :)
2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat
masa.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab
masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.
Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan
terbentang
mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga
harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang
masih
mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua
hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian
mahal dibangunnya.
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas
keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang
keras". Tapi
bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan
kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula),
sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih
tinggi".
Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari
lewat, plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya
telah
menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa
lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau
cintanya mati,
saya juga yang susah ... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya
tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....
3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga !
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan
ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian
juga
ia dan kakak serta pamannya.
Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung
kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi
kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak
saya
menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini
selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal
cinta yang panas ini".
Kata ayah saya : "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak".
Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma'afnya dari
pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..". Dunia sudah
diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!
4. Kalau marah jangan di depan anak anak !
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian.
Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus
menonton komedi liar rumah kita.
Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa.
Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya.
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
* Ibu : "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang
main suruh begitu, emang
saya ini babu ?!!!"
* Bapak : "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan
aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada,
emang saya ini kuda ????!!!!
* Anak : "...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya
ini apa ?"
Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran !" ketika anak datang,
lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada
tawanya
ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi
hati kita ???
5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat !
Pada setiap tahiyyat kita berkata : "Assalaa-mu 'alaynaa wa 'alaa
'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas
hamba hambamu yg sholeh .... Nah andai setelah salam kita cemberut lagi,
setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah
mendustai Nya,
padahal nyawamu ditangan Nya.
OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti
lho itu janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat
waktu
dzuhur, Atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya sebatas....???
Nnngg....... Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang
tidak bertengkar ... :)
6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan (Hikmah
yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran resensi sebuah film).
Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah
"proses belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih
setia
dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa'at,
"Dengan
ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia
dibatasi".
Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.
Buat Yang Udah Nikah, Mau Nikah, punya Niat untuk nikah. Bertengkar
adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga,
kalau
ada seseorang berkata: "Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !"
Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah
berdusta.
Yang jelas kita perlu menikmati sa'at-sa'at bertengkar itu, sebagaimana
lebih menikmati lagi sa'at sa'at tidak bertengkar. Bertengkar itu
sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan
emosi
tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk
hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap
mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan
desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah
dicerna
ketimbang basa basi tanpa emosi.
Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala
kita bertengkar, dari beberapa perbincangan hingga waktu yang
mematangkannya, tibalah kami pada sebuah Memorandum of Understanding,
bahwa kalau pun
harus bertengkar, maka :
1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama'ah.
Cukup seorang saja yang marah marah, yang terlambat mengirim sinyal
nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah
pantang berjama'ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah.
Ketika ia
marah dan saya mau menyela, segera ia berkata "STOP" ini giliran saya !
Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam
hati :
"kamu makin cantik kalau marah,makin energik ...." Dan dengan diam
itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi
tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi... "duh kekasih ...
bicaralah terus,
kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu
itu aku menunggu ...."
Demikian juga kalau pas kena giliran saya "yang olah raga otot muka",saya
menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah
sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak
berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :) maka kini
giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. Pokoknya khusus
untuk
marah, memang tidak harus berjama'ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik
untuk
dilakukan secara berjama'ah selain marah :)
2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat
masa.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab
masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah.
Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan
terbentang
mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga
harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang
masih
mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua
hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian
mahal dibangunnya.
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas
keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah "ungkapan rindu yang
keras". Tapi
bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan
kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh.
Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula),
sepedas apapun saya marah, maka itu adalah "harapan ingin disayangi lebih
tinggi".
Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari
lewat, plus tuduhan "Sudah tidak suka lagi ya dengan saya", maka saya
telah
menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa
lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya. Padahal kalau
cintanya mati,
saya juga yang susah ... OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya
tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini .....
3. Kalau marah jangan bawa bawa keluarga !
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan
ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian
juga
ia dan kakak serta pamannya.
Dan konsep Quran, seseorang itu tidak menanggung
kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi
kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak
saya
menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini
selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah "awal
cinta yang panas ini".
Kata ayah saya : "Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak".
Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma'afnya dari
pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..". Dunia sudah
diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!
4. Kalau marah jangan di depan anak anak !
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian.
Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus
menonton komedi liar rumah kita.
Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa.
Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu 'kan bapak saya.
Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
* Ibu : "Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang
main suruh begitu, emang
saya ini babu ?!!!"
* Bapak : "Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan
aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada,
emang saya ini kuda ????!!!!
* Anak : "...... Yaaa ...ibu saya babu, bapak saya kuda .... terus saya
ini apa ?"
Kita harus berani berkata : "Hentikan pertengkaran !" ketika anak datang,
lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada
tawanya
ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi
hati kita ???
5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat !
Pada setiap tahiyyat kita berkata : "Assalaa-mu 'alaynaa wa 'alaa
'ibaadilahissholiihiin" Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas
hamba hambamu yg sholeh .... Nah andai setelah salam kita cemberut lagi,
setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah
mendustai Nya,
padahal nyawamu ditangan Nya.
OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti
lho itu janji dengan Ilahi ..... Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat
waktu
dzuhur, Atau maghrib sebatas isya ... Atau habis isya sebatas....???
Nnngg....... Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang
tidak bertengkar ... :)
6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema'afkan (Hikmah
yang ini saya dapat belakangan, ketika baca di koran resensi sebuah film).
Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah
"proses belajar untuk mencintai lebih intens" Ternyata ada yang masih
setia
dengan kita walau telah kita maki-maki. Ini saja, semoga bermanfa'at,
"Dengan
ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia
dibatasi".
Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar.
************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected]
* Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
* Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
* List owner : [EMAIL PROTECTED]
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Kunjungi Blog MANTAN BBD di http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************
SPONSORED LINKS
| Internet banking | Banking | Banking software |
| Mortgage banking | Offshore banking | Banking account |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "estika" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
