Maraknya
kesurupan massal di Indonesia antara lain di Jogja (6/3), Banjarmasin (20/3),
Surabaya (20-22/3), Bogor (21/3), dan Malang (22/3) menambah muramnya perjalanan
hidup bangsa Indonesia. Korban bukan hanya pelajar seperti SMA Pangudi Luhur
Jogja, SMA PGRI 2 Banjarmasin,
Ketua Komisi
Fatwa
Kesurupan
(kerasukan mahluk halus) massal membuktikan kurangnya pendidikan agama di
sekolah. Dari aspek agama, orang yang kerasukan jin itu umumnya karena jarang
berdzikir atau jarang beribadah. Kesurupan massal tidak mungkin sekedar faktor
psikologis, sebab jika faktor psikologis, maka hal itu akan terjadi pada 3-4
orang saja Jin itu suka dengan tempat-tempat yang kotor dan menyeramkan, tapi
mereka juga seperti manusia yakni jika diganggu, maka mereka akan mengganggu
juga. Jadi, mungkin saja ada tempat menyeramkan di dekat sekolah yang diusik.
Namun, mahluk halus akan sulit
mengganggu manusia jika orangnya suka beribadah dan berdzikir. "Abu Khoir pernah
diajari jin tentang cara menangkal jin dengan membaca ayat
kursi".
Direktur RSJ Lawang (Jatim), Dr Eko Susanto Marsoeki,
SpKJ
Gejala kesurupan menunjukkan makin kompleksnya
masalah yang dihadapi masyarakat. Beratnya beban masalah yang ditanggung membuat
emosi orang meluap-luap dan tumpah dalam bentuk gejala-gejala yang tidak wajar,
seperti berteriak-teriak atau bahkan pingsan. Sebut, misalnya, beban kenaikan
harga bahan bakar minyak, yang disusul isu kenaikan tarif dasar listrik, yang
telanjur menambah beban emosi.
Kesurupan atas siswa di sejumlah sekolah bukan
fenomena mistis dan tidak ada hubungannya dengan roh
halus
Fenomena sejenis bisa dibagi
dua:
Pertama, berkaitan dengan budaya trance (keadaan tak
sadarkan diri) dalam tradisi kuda lumping. Yang menyerang siswa-siswa adalah
masalah kesehatan mental yang dalam diagnosis gangguan jiwa disebut gangguan
disosiatif. Disosiatif sebenarnya kecemasan hebat yang direpresi sedemikian rupa
ke alam bawah sadar dan disalurkan dalam bentuk ”kesurupan” atau kepribadian
ganda.
Kedua,
fenomena copycat mass histeria. Hal ini dipicu oleh pengaruh media
Psikolog TA Prapancha Hary dari Jogja
Peristiwa itu bukan kebetulan, tetapi karena
kehidupan kita saat ini tidak seimbang dan menimpa orang yang tingkat
kesadarannya rendah. Tetapi percaya atau tidak kehidupan di luar manusia itu
ada.”
Psikolog
Sartono Mukadis,
Kesurupan sangat potensial menimpa orang-orang yang
berpikiran labil. Coba amati, sangat jarang murid yang badung pernah kesurupan.
Itu karena anak seperti ini punya ketegaran dalam keyakinan, terlepas pikirannya
itu salah atau benar, baik atau buruk”
************************************************************************
Mantan BBD's mailing list
* Post message : [email protected]
* Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
* Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
* List owner : [EMAIL PROTECTED]
* Mail Archive : http://www.mail-archive.com/[email protected]/
************************************************************************
Kunjungi Blog MANTAN BBD di http://mantan-bbd.blogspot.com
************************************************************************
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "estika" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
