Membimbing Bawahan

Oleh  Zainun Mu'tadin, SPsi., MSi.


Jakarta, 10 September 2002


Dalam bekerja, hampir setiap orang mendambakan memperoleh jabatan yang
tinggi. Namun demikian seringkali dijumpai seseorang yang mendapat promosi
kenaikan jabatan/pangkat tidak siap dengan jabatan baru tersebut sehingga
kinerjanya menjadi turun dan bahkan lebih buruk daripada ketika ia masih
menjadi pegawai biasa. Permasalahan yang seringkali dialami para
supervisor/manager baru tersebut bukanlah terletak pada kemampuan teknis
dalam mengerjakan tugas di lapangan  tetapi lebih pada kemampuan
managerial untuk membangun semangat kerja para bawahannya. Artinya para
supervisor/manager baru tersebut banyak yang  tidak siap ketika diberikan
tanggungjawab membimbing, melatih, memotivasi dan menilai kinerja para
bawahannya.


Untuk mengatasi permasalahan tersebut diatas, apa saja yang harus
diperhatikan oleh supervisor/manager dalam membangun semangat kerja
bawahannya. Beberapa hal di bawah ini mungkin dapat dijadikan pertimbangan
jika anda kebetulan adalah seorang supervisor atau manager.




1. Jadilah Pendengar yang Baik


Carl Rogers, seorang pakar di bidang psikologi, pernah berkata bahwa
penghalang yang terbesar untuk melakukan komunikasi pribadi adalah
ketidaksanggupan seseorang untuk mendengarkan dengan baik, dengan penuh
pengertian dan perhatian kepada orang lain. Jika anda diberi tugas untuk
membimbing dan melatih seseorang maka hal ini merupakan salah satu hal
terpenting yang harus diingat. Ketika anda sedang berbicara dengan bawahan
anda jagalah agar anda tidak terlalu banyak bicara, melainkan lebih banyak
mendengarkan keluhan dan masukan dari bawahan anda.

Kesediaan untuk mendengar akan memberi kesempatan kepada bawahan untuk
mengutarakan keinginan dan pendapatnya. Dengan mendengar  berarti anda
memperhatikannya, anda mempunyai suatu perhatian yang konstruktif mengenai
masalah yang dihadapi olehnya, dimana mungkin anda selaku atasan mempunyai
alternatif solusi yang dibutuhkan orang tersebut. Dengan demikian akan
tercipta rasa aman dan nyaman sehingga bawahan anda  lebih mau terbuka
terhadap saran-saran yang diberikan. Selain itu mendengarkan seseorang
yang secara bebas berbicara tentang dirinya sendiri merupakan jalan
terbaik untuk mengenal lebih jauh siapa lawan bicara kita tersebut.
Meskipun demikian mendengarkan tidaklah selalu berarti bahwa anda percaya
terhadap segala yang anda dengar. Tentu saja untuk dapat menjadi pendengar
yang baik dibutuhkan kesabaran dan kerendahan hati.




2. Kenali Pekerjaan yang Dilakukan


Kita sering melakukan kesalahan dalam menginterpretasi dan menilai hasil
kerja seseorang sebagai akibat dari suatu pandangan dan pengetahuan yang
dangkal sekali tentang pekerjaan orang tersebut. Seringkali kita menjumpai
seorang atasan yang mengharapkan bawahannya melakukan sesuatu yang
sebenarnya bukan merupakan kapasitasnya. Jika mengambil perumpamaan hal
tersebut adalah ibarat mengharapkan pohon mangga menghasilkan buah durian.
Mustahil bukan? Akibatnya tidak sedikit bawahan yang menjadi frustrasi dan
bahkan tidak "respect" terhadap atasan karena atasan demikian dinilai
tidak tahu apa pekerjaan bawahannya sebenarnya (padahal ia seharusnya
tahu).

Jika anda adalah seorang atasan maka sudah seharusnya anda mengetahui apa
yang wajib dan baik untuk dikerjakan atau diselesaikan bawahan anda.  Anda
juga harus dapat mengetahui secara pasti apakah bawahan anda mengerjakan
tugas dengan suatu cara atau jalan yang aman yang dapat diterima oleh
perusahaan. Jika ternyata bawahan anda dapat menyelesaikan tugas-tugas
dengan cara-cara yang dapat diterima tetapi tidak sesuai dengan cara anda,
maka sedapat mungkin biarlah ia menggunakan cara tersebut. Jangan
cepat-cepat mengkritik atau pun memaksanya untuk melakukan menurut cara
anda. Sebaliknya jika ia ternyata tidak dapat menyelesaikan tugasnya, maka
anda perlu melakukan suatu perubahan. Langkah awal dalam melakukan
perubahan tersebut adalah dengan membuat suatu persetujuan antara anda dan
bawahan mengenai hal-hal yang mendasar dari pekerjaan tersebut.




3. Kenali Bawahan Anda


Sebagai atasan, anda harus mengetahui kesanggupan dan bakat-bakat anak
buah anda dan menolong mereka untuk menggunakan kemampuannya untuk
disalurkan dalam pekerjaan.  Anda juga dituntut untuk mendorong
usaha-usaha perbaikan diri bawahan, mengerti kebutuhan dan keinginan
mereka, dsb. Sebagai contoh: anda harus dapat membedakan apakah bawahan
anda lebih tertarik pada kesempatan dan tantangan karir atau pada materi
seperti uang atau lebih pada status. Jika anda dapat mengindentifikasi hal
ini maka akan lebih mudah bagi anda untuk mengarahkan dan memotivasi
bawahan anda.

Anda sudah semestinya anda mengenal bawahan anda, jika tidak secara
pribadi sekurang-kurangnya anda mengenali karakter-karakter penting yang
berguna bagi produktivitas bawahan tersebut. Beberapa supervisor/manajer
merasa takut untuk mengenal lebih dekat bawahannya, karena dengan
kedekatannya itu maka mereka akan menjadi terlalu lunak dan salah dalam
menilai prestasi bawahan. Pendapat semacam itu sebenarnya merupakan suatu
kekeliruan, karena mengenali seseorang dan menghargai kepribadian serta
keunikan yang dimilikinya tidaklah berarti bahwa anda tidak menuntut ia
untuk bekerja dengan sebaik-baiknya sesuai dengan aturan yang berlaku.




4. Kenali Perlombaan yang Ingin Anda Lakukan


Sebagai pejabat baru dan masih berada dalam semangat yang menyala-nyala
untuk mendorong dan memotivasi bawahan anda, anda mungkin terus memacu
bawahan anda untuk melakukan sesuatu, yang sesungguhnya tidak terlalu
signifikan. Hal tersebut merupakan suatu hal yang wajar karena anda
mungkin masih dalam tahap ingin menunjukkan jati diri sebagai atasan yang
pantas menduduki jabatan tersebut. Namun demikian kondisi ini harus
benar-benar diwaspadai mengingat bahwa tidak ada seorangpun bawahan yang
mampu bekerja dalam kondisi yang tetap maksimal setiap hari. Jadi
janganlah anda terus-menerus berteriak "awas ada macan", sampai anak buah
anda kelelahan dan akhirnya ketika "macan" yang sesungguhnya tiba anak
buah anda sudah kehabisan tenaga dan tidak memiliki semangat lagi.

Selain itu bawahan anda mungkin akan merasa bosan dan jengkel karena
dorongan-dorongan anda untuk bekerja lebih giat dan bersemangat, sementara
mereka mengetahui bahwa pekerjaan yang dikerjakan tersebut tidak begitu
penting. Contoh: anda memberikan tugas atau proyek khusus kepada bawahan
anda tanpa ada kejelasan apa tindak lanjutnya, kapan diaplikasikan dan
tidak ada target pasar yang jelas, sementara bawahan anda tersebut masih
harus mengerjakan tugas-tugas rutin yang sudah snagat jelas manfaatnya
bagi perusahaan. Oleh karena itu amat sangat penting bagi anda selaku
atasan untuk dapat menentukan prioritas pekerjaan yang harus dilakukan,
sehingga tidak ada kegiatan yang terlihat "mubazir" dan hanya sekedar
membuat bawahan anda terlihat sibuk. Tanpa kemampuan untuk menentukan hal
ini maka bawahan anda akan cenderung tidak tidak bisa membedakan antara
suatu pekerjaan yang urgent dengan yang rutin karena setiap hari mereka
selalu dikejar-kejar.




5. Gunakan Peristiwa-Peristiwa Khusus


Dalam aktivitas kerja selalu saja ada kejadian-kejadian atau
peristiwa-peristiwa khusus yang dapat dijadikan bahan atau contoh untuk
membangun semangat kerja bawahan anda. Contoh: Keberhasilan divisi anda
dalam memenangkan suatu proyek atau keberhasilan divisi dalam memangkas
biaya produksi atau pun penghargaan yang diberikan oleh media massa
(masyarakat) kepada teamwork anda. Sebaliknya ada juga peristiwa-peristiwa
dimana anda dan bawahan anda mungkin mengalami kegagalan. Gunakan
keberhasilan ataupun kegagalan tersebut sebagai bahan pembelajaran.
Tunjukkan kepada bawahan anda faktor-faktor apa saja yang membuat divisi
anda meraih sukses. Dan tunjukkan juga faktor-faktor atau perilaku apa
saja yang menyebabkan divisi anda mengalami kegagalan. Dalam menyikapi
kegagalan, carilah alternatif solusi secara bersama-sama, usahakan banyak
ide-ide yang dapat diutarakan, dan jangan sekali-kali mematahkan semangat
bawahan anda sebab bila ia patah semangat maka banyak hal yang tidak akan
tercapai. Sebagai atasan, anda harus jeli memanfaatkan peristiwa yang ada
untuk  mengarahkan bawahan dalam memahami dan menghadapi fakta atau
realitas dalam pekerjaan sehari-hari.




6. Berikan Kesempatan


Kesalahan-kesalahan yang dilakukan bawahan dalam bekerja jarang sekali
berakibat fatal. Artinya dari kesekian banyak kesalahan yang mungkin
dilakukan masih terdapat peluang untuk diperbaiki dan diberikan kesempatan
untuk berubah. Oleh karena itu, janganlah semata-mata memberikan hukuman
kepada bawahan yang kebetulan melakukan kesalahan, tapi tolonglah dia dan
berikan kesempatan kedua untuk memperbaiki dirinya.

Jika anda memang sudah menyerah terhadap kemungkinan perbaikan dari
seorang bawahan, yaitu jika anda merasa bahwa pekerjaannya sangat tidak
memuaskan dan dia tidak mungkin lagi dapat memaksimalkan pekerjaan
tersebut (meski sudah dilakukan bimbingan dan pelatihan), janganlah
berpura-pura menolongnya dan hentikanlah usaha-usaha melakukan kritik yang
konstruktif, karena semua itu  tidak akan berguna lagi. Katakanlah
kepadanya dengan terus terang bahwa pekerjaan yang dia lakukan tidak
berhasil. Kemudian sarankan suatu mutasi ke bidang lain yang lebih sesuai,
jika hal itu memungkinkan, atau berhentikan orang tersebut melalui
prosedur yang berlaku.




8. Delegasikan Tanggungjawab


Salah satu hal penting dari sifat-sifat seorang atasan adalah bagaimana ia
dapat mendelegasikan atau mewakilkan tanggungjawab dan wewenang kepada
bawahannya. Seorang atasan yang buruk tidak akan pernah mau dan mampu
mendelegasikan tanggung jawab dan wewenang kepada bawahannya. Sebaliknya
atasan yang lemah akan terlalu mudah mendelegasikan tanpa adanya
pengawasan atau kontrol yang cukup. Sementara itu jika anda ingin menjadi
atasan yang  yang baik maka delegasikan tanggung jawab dan wewenang anda
dengan suatu catatan atau agenda yang memuat waktu penyelesaian pekerjaan
tersebut. Mintalah laporan perkembangan pekerjaan pada waktu-waktu
tertentu dan lakukan tindakan-tindakan yang positif jika permasalahan
muncul atau terjadi.




9. Patuhi Batas-batas Peran Anda


Sebagai atasan anda harus menyadari benar kemampuan anda, anda tidak dapat
mengubah semua hal sesuai dengan keinginan anda. Anda harus menyadari
bahwa anda bukanlah dokter bedah otak, yang dapat mengoperasi setiap orang
sesuka hati anda, anda juga bukanlah pendeta/kiai bagi bawahan anda dan
anda juga bukan ahli psikologi yang dapat menyembuhkan berbagai masalah
psikologisnya. Ingatlah bahwasanya ada tiga jalan yang fundamental untuk
mengubah seseorang: yaitu tobat keagamaan, psikoterapi dan operasi otak.
Anda adalah seorang pemimpin, janganlah memaksakan diri untuk melakukan
ketiga hal tersebut. Salah-salah anda akan menjadi korbannya.




Selain beberapa hal diatas pasti masih banyak cara untuk meningkatkan
kemampuan managerial anda dalam meningkatkan kinerja para bawahan anda.
Dengan tulisan ini kami berharap bahwa hal-hal diatas dapat memperkaya
wawasan anda sehingga lebih percaya diri dalam membimbing bawahan anda.
Selamat  mencoba. (jp)

Kirim email ke