Transaksi Kehidupan


Oleh Ubaydillah, AN


Jakarta, 18 September 2003


Salah satu hukum bisnis menyatakan bahwa kualitas keuntungan tidak
ditentukan oleh kuantitas aktivitas bisnis tetapi oleh kualitas transaksi.
Tidak sedikit orang menciptakan banyak transaksi tetapi kualitas
keuntungan didapat tidak sebanyak jumlah transaksi yang diciptakan.
Padahal apa yang kita inginkan adalah transaksi sebanyak mungkin dengan
keuntungan sebesar mungkin. Transaksi adalah pelaksanaan keputusan dealing
tentang tawaran yang kita setujui dan tawaran yang kita ajukan.
Selanjutnya transaksi menciptakan harga (price of value).

Pada dasarnya semua orang sudah ditakdirkan hidup dengan ‘business of
selling’, terlepas apakah ia pengusaha atau pun orang biasa. Karena takdir
itulah, maka sebagian hukum alam yang mengatur kehidupan ini adalah hukum
untung rugi. Dalam menyikapi hukum diperlukan kepemilikan sikap mental
pengusaha (the entrepreneurship mental attitude). Atau sosok yang
bermentalitas 'creating' dan bertanggung jawab atas resiko keputusan yang
diambil serta menerima resiko sebagai pemilik.

Terlepas dari job title yang anda sandang saat ini maka anda adalah
pengusaha di mana setiap  keputusan yang anda ambil, maka andalah yang
akan merasakan rugi dan untungnya. Buktinya, setiap saat kita menciptakan
transaksi dari tawaran kehidupan. Hanya saja yang sering membuat kita
menderita kerugian adalah keputusan transaksi yang tidak didukung dengan
mentalitas pengusaha. Banyak sekali komoditas peristiwa hidup yang
ditawarkan tetapi tidak kita ciptakan transaksi yang bertanggung jawab
untuk memiliki keuntungan dari kerugian atau dari keuntungan.

Walhasil, kita lebih sering menjadi pengusaha yang rugi. Contoh paling
riil adalah kegagalan. Baik terjadi pada orang lain dan diri kita, atau
baik disebabkan oleh orang lain atau kesalahan kita, sebenarnya peristiwa
ini adalah komoditas yang ditawarkan oleh kehidupan. Kegagalan itu bisa
menjadikan kita rugi atau untung. Bukan karena kegagalan ‘as matter’
tetapi karena  keahlian bertransaksi. Kita apakan kegagalan itu setelah
terjadi. Banyak pengusaha yang bisa menjadikan kegagalan sebagai the
moment of truth untuk membangun keuntungan. Sebaliknya tidak sedikit yang
menjadikan kegagalan hanyalah kegagalan – komoditas yang merugikan.


Watak Tawaran


Tawaran bisnis memiliki dua watak yang menonjol: menarik (to attract)  dan
mendorong (to push).  Kalau anda pergi ke Mall  maka semua komoditas yang
dijajakan sudah didesain menarik dan punya daya tarik untuk menggoda
kantong anda. Demikian juga kalau anda mengunjungi lokasi pasar kaki lima.
Meskipun teknik penjajaan komoditas tidak didesain semenarik apa yang ada
di  Mall tetapi teknik rayuan dan gertakan yang dijalankan para pedagang
di sana mendorong anda untuk membeli seakan-akan anda merasa bersalah
kalau tidak membeli tawarannya.

Tidak berbeda dengan komoditas hidup yang ditawarkan kepada anda.  Baik
orang pintar atau orang bodoh, orang bawah atau orang atas, orang terhina
atau orang terhormat mendapatkan peristiwa yang sama. Kegagalan,
tantangan, dan kesulitan adalah tawaran yang menarik/mendorong semua orang
untuk berpikir negatif dan tidak mau bertanggung jawab apalagi
memilikinya. Seakan-akan aib yang memalukan. Perbedaannya adalah apakah
anda akan menjadikan semua peristiwa yang tidak diinginkan itu sebagai
tawaran yang perlu diciptakan transaksi atau anda bayar langsung.

Ketika anda membayar langsung hanya karena dorongan (being pushed) atau
terkesima oleh godaan daya tarik (being attracted), maka kemungkinan
paling dekat adalah anda tidak puas atau anda baru bisa mengakui barang
yang anda beli tanpa transakis itu berguna setelah barang itu lusuh. Orang
terkadang baru sadar ternyata peristiwa yang tidak diinginkan itu berguna
setelah peristiwa menelan banyak pengorbanan alias lusuh.


Penyebab Kerugian


Meskipun dunia ini terus berubah,  tetapi tidak berbeda  dalam satu hal:
terjadi perbandingan yang tidak seimbang antara jumlah populasi dunia yang
beruntung dan merugi. Survey  yang diadakan Hartford company menemukan
bahwa dari 100 orang yang disurvey ternyata tidak mencapai 20 orang yang
dikategorikan beruntung.

Dengan kemajuan pengetahuan yang datang untuk mencerahkan, memang membuat
orang punya lebih banyak pilihan untuk menjadi pengusaha yang beruntung
tetapi lagi-lagi semua akan kembali pada kualitas memilih (baca:
transaksi). Tekhnologi dan pengetahuan hanyalah memudahkan dan
memperbanyak pilihan. Untung-rugi adalah kualitas memilih dari yang kita
ciptakan. Wajarlah kalau dikatakan, satu temuan tekhnologi bisa
menggantikan pekerjaan ratusan orang biasa-biasa tetapi  ratusan
tekhnologi tidak akan bisa menggantikan pekerjaan satu orang ahli.
Transaksi adalah keahlian dan tidak bisa didelegasikan kepada tehnologi.

Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kebanyakan kerugian transaksi
kehidupan disebabkan oleh hal-hal berikut:




1.


Tidak tahu harga / nilai komoditas


Pengusaha yang tidak tahu nilai komoditas akan membuat usahanya tidak
untung atau salah menilai harga jual-beli komoditas. Contoh sederhana:
buah mengkudu telah bertahun-tahun disia-siakan orang di sejumlah pedesaan
di Indonesia. Setelah diketahui kandungan khasiatnya, barulah mengkudu
perlu dibudidayakan. Nah, ada sejumlah peristiwa di dalam hidup kita yang
bernasib sama dengan buah mengkudu. Kita menganggapnya tumbuhan liar yang
perlu disingkirkan. Hanya orang yang telah berhasil lolos dari penyakit
yang tahu nilai penyakit dan kesehatan. Hanya orang yang sudah berhasil
menciptakan kesuksesan dari kegagalan yang tahu kegagalan bukanlah dosa
laknat yang harus dihindari tetapi peristiwa hidup yang kita butuhkan.




2.


Tidak tahu Indeks Pasar


Supaya transaksi bisa untung perlu dukungan data, informasi, pengetahuan
dan pemahaman tentang harga yang berlaku bagi komoditas tertentu di
pasaran. Demikian juga dengan diri kita. Teori apapun tidak berani
memastikan berapa jumlah kuantitatif dan kualitatif komoditas yang kita
amiliki di dalam untuk ditawarkan kepada kehidupan. Komoditas itu bisa
bernilai tinggi sehingga layak disebut  aset utama tetapi ada yang
bernilai lebih rendah dari komoditas yang dimiliki oleh hewan.

Selama bertahun-tahu militer Amerika dan juga dunia termasuk pendidikan
menjadikan IQ sebagai ukuran tunggal untuk menilai kecerdasan seseorang.
Begitu EQ ditemukan lalu disusul temuan SQ, maka peta tolok ukur
kecerdasan manusia berubah. Ketika indeks pasar sudah berbicara bahwa
ternyata perasaan itu berperan penting sementara anda masih berpedoman
tidak penting atau tidak tahu kegunaannya, maka telah terjadi pengabaian
yang menyebabkan transaksi anda dengan kehidupan ini rugi.

Perkembangan eksplorasi ilmiah itu adalah gambaran bahwa anda tidak
sekedar memiliki ketiga kecerdasan tetapi masih banyak yang belum diungkap
dan belum digunakan sebagaimana mestinya padahal itu penting. Sekedar
gambaran, Charles Handy menulis bahwa di luar  pembahasan teori 
kecerdasan yang ada, manusia masih banyak menyimpan kecerdasan lain yang
perlu diasah karena penting, seperti kecerdasan practical, logical,
interpersonal, intrapersonal, verbal, dll.  Semua keahlian yang anda
miliki apabila dicerdaskan akan membuat transaksi untung karena akan
didukung dengan akurasi pengetahuan dan keahlian.




3.


Tidak menguasai unsur hal tekhnis


Transaksi membutuhkan penguasaan tekhnis baik di bisnis apalagi transaksi
harga peristiwa kehidupan yang terjadi. Mungkin bentuknya sangat variatif.
Penguasaan tekhnis kalau dirujukkan pada  ajaran KOKORO (The heart of
warrior) milik Yamaoko (1836-1888) bukan semata bergantung pada gerakan
fisik. Yamaoko menulis:  "Kalau muatan pikiran anda tidak punya
akses-langsung ke tangan anda maka ribuan tehnik yang anda kuasai tidak
ada gunanya". Tidak hanya sebatas penguasaan pedang tetapi tombol
telephone pun demikian. Apalagi menghadapi orang atau peristiwa.

Ibarat  seorang sopir kendaraan. Kalau hanya jasat  sopir saja yang
mengendalikan kendaraan, maka armada temuan tehnologi manapun tidak akan
bisa membantu menghindarkan dari tabrakan. Demikian juga dengan hidup
kita. Yang menentukan pada akhirnya bukan atribute eksternal tetapi murni
bagaimana diri kita.  Fasilitas digunakan untuk memudahkan atau
memperindah tetapi kualitas keuntungan transaksi tidak bisa bergantung
pada keahlian di  bagian luar diri kita. Karena sesungguhnya yang di dalam
itulah yang menampilkan apa yang di luar dan menciptakan ke luar.


Apa yang bisa anda lakukan?


Supaya bisa menciptakan transaksi yang menguntungkan, pembelajaran hidup
yang perlu dijalani adalah seperti dikatakan Covey: mengasah gergaji.
Untuk mengetahui apa saja yang harus anda asah, ada baiknya anda
mempertajam gergaji berikut ini:




1.


Kepercayaan Diri


Pengusaha yang untung dalam menciptakan transaksi umumnya cakap dalam
mengungkap keunggulan komoditas setinggi-tingginya sehingga orang lain
percaya. Maka, terciptalah transaksi kepercayaan yang menguntungkan.
Tetapi kecakapan itu bukan peristiwa dadakan (dramatic event) melainkan
keahlian yang diasah untuk menemukan keunggulan diri (negotiation skill)
dan pengetahuan menyeluruh tentang konstelasi komoditas.

Ketika anda menerima peristiwa hidup yang tidak diinginkan, maka
untung-rugi sebuah transaksi ditentukan oleh sejauhmana anda percaya bahwa
peristiwa itu berharga, dan bahwa nilai yang dikandung di dalamnya bisa
anda gunakan. Kalau anda tidak tahu harga dan tidak tahu kegunaanya
(keunggulan) maka tawaran yang anda lakukan tidak akurat alias banyak
melesetnya. Jadi belajarlan menemukan keunggulan dari semua tawaran
peristiwa agar anda tidak menciptakan transaksi hanya karena didorong atau
ditarik melainkan murni keputusan berdasarkan pengetahuan fakta optimal.




2.


Mentalitas


Belajar pada teori militer, sensitivitas-diri seorang prajurit dibentuk
dengan menggembleng doktrin yang membuatnya merasa “BE” (menjadi). Ketika
sudah merasa “BE” maka gampang untuk “KNOW”. Ketika sudah “BE & KNOW” maka
akan menjalankan “DO”. Demikian pula dengan doktrin pengusaha.  Pertama
kali adalah tanggung jawab atas resiko, dan kedua, menerima resiko itu
dengan rasa memiliki.

Banyak peristiwa hidup yang terjadi begitu saja dan umumnya tidak kita
inginkan. Perbedaan “BE pengusaha” dan tidak adalah bagaimana orang
menerimanya. Pengusaha akan menerima sebagai materi tanggung jawab untuk
diubah menjadi peristiwa yang diinginkan. Sementara orang yang bukan “BE
Pengusaha” akan menerima sebagai materi apa adanya atau hanya menjadi
bahan mengeluh dan bahan menyalahkan.

Gergaji kedua ini adalah lanjutan dari gergaji pertama. Tidak cukup anda
meyakini kandungan makna di dalam setiap peristiwa hidup yang anda terima
tetapi perlu mentalitas pengusaha untuk menemukan lalu memberdayakannya
sebagai modal untuk melakukan transaksi selanjutnya. Syarat mutlak yang
harus anda penuhi adalah tidak membiarkan peristiwa hidup anda dimiliki
oleh orang lain melalui proses menyalahkan atau membiarkan. Kalau anda
menyalahkan dengan dukungan alasan akurat, mungkin itu benar tetapi yang
perlu diingat adalah tanggung jawab memberdayakan makna tidak akan menjadi
milik siapa pun kecuali anda sendiri. Ajaran leadership menyatakan
tanggung jawab tidak bisa didelegasikan.




3.


Kendali


Gergaji ini berfungsi untuk menjalani proses mengasah secara
terus-menerus. Kalau harus berhenti niatkan hanya untuk istirahat bukan
meninggalkan. Begitu anda mendapat stimuli merugikan segeralah kembali
pada predikat pengusaha dengan misi yang anda emban. Tanpa mengasah secara
terus-menerus maka perubahan nilai komoditas, indek pasar dan penguasaan
tehnis yang anda miliki akan ketinggalan dengan perubahan dunia yang
sedemikian rupa. Karena tumpul, akibatnya bisa membuat anda tidak ‘pede’
lagi ketika tawaran transaksi muncul.


Tidak ada pengusaha yang langsung sukses; mendapatkan keuntungan banyak
(80%) dari upaya sedikit (20%) dengan menjadi investor. Sebagai muatan
mindset (vision), keinginan untuk menjadi investor dengan aplikasi 80:20
jelas sangat dibutuhkan. Hanya saja ketika muatan tersebut harus
diimplementasikan dalam sebuah tindakan, maka mengasah gergaji adalah
rumusan yang harus dilakukan. Kesuksesan itu seperti kata orang tidak
sebagaimana jalan tol melainkan tangga.  Kalau anda sudah berhasil
menapakaki tangga pertama, logikanya anda berpotensi kuat untuk menaiki
tangga kedua, ketiga dan seterusnya. Demikian pula kalau anda sudah bisa
menghasilkan keuntungan sedikit. Logikanya anda punya potensi-diri dan
peluang untuk menciptakan transaksi dengan keuntungan banyak hanya saja
tidak langsung. Mudah-mudahan bisa anda jadikan bahan bertransaksi
menguntungkan.(jp)

Kirim email ke