Economy Sun, 24 Dec 2006 09:30:00 WIB
Oleh: Hery Trianto

Kamis malam di penghujung November, Budi Mulya, Direktur Direktorat
Pengkajian Strategis dan Humas Bank Indonesia menjawab telepon Bisnis
dengan riang. Sekilas, diapun bercerita tentang hasil pertemuan bank
sentral dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat membahas anggaran
belanja BI. "Pembicaraan berlangsung hangat, dan persetujuan juga
dicapai," katanya.

Seolah meneguhkan keriangan Budi, Senin sore (4 Desember), Dewan
Perwakilan Rakyat secara aklamasi menyetujui anggaran operasional Bank
Indonesia 2007. Anggaran tersebut meliputi anggaran untuk bidang sumber
daya manusia, pengelolaan logistik dan pelaksanaan pendukung lainnya
sebesar Rp4,19 triliun.

Anggaran bidang sumber daya manusia dipatok sebesar Rp2,84 triliun, atau
meningkat Rp18 miliar dari tahun sebelumnya. Untuk bidang pengelolaan
logistik, tersedia dana sebesar Rp789 miliar dan anggaran pendukung
lainnya sebesar Rp568 miliar.

Kendati anggaran sumber daya manusia 2007 hanya meningkat Rp18 miliar,
secara faktual gaji Dewan Gubernur Bank Indonesia naik sebesar 3%-4%.
Para pegawai juga tak perlu berkecil hati, kenaikan 7% untuk golongan
V-VIII, dan 10% untuk golongan I-IV pasti akan diperoleh tahun depan.

Biaya SDM Rp2,84 triliun

Dengan hanya sekitar 5.999 karyawan (data Laporan Tahunan 2005 BI) dan
dan biaya SDM Rp2,84 triliun maka pegawai BI barangkali adalah yang
paling sejahtera diantara pegawai pemerintahan lain ataupun pegawai bank
yang diawasinya. Bila dipukul rata, maka biaya rata-rata pegawai
pertahun adalah Rp473 juta perorang.

Di Indonesia, dengan pendapatan perkapita penduduk hanya US$1.500
pertahun, maka bekerja di Bank Indonesia mungkin menjadi impian jutaan
calon tenaga kerja. Biaya yang dikeluarkan bank sentral bagi pegawainya,
juga jauh di atas biaya yang dikeluarkan oleh bank-bank yang diawasinya.

Sayang, dalam sebuah riset tempat kerja paling favorit yang dilakukan
sebuah majalah ekonomi, Bank Indonesia luput menjadi pilihan. Para
pencari kerja justru memfavoritkan perusahaan seperti PT Unilever
Indonesia Tbk, PT Astra Internasional Tbk ataupun PT Bank Mandiri Tbk.

Padahal, Bank Mandiri,-dalam riset ini menempati favorit kelima-pada
2005 menyediakan biaya SDM Rp3,18 triliun untuk 21.192 pegawai. Itu
artinya biaya rata-rata perorang Rp150 juta, terbesar dibandingkan
dengan bank komersial manapun di Indonesia. Tetapi, bila dibandingkan
dengan biaya pegawai Bank Indonesia angka tersebut hanya kurang dari
sepertiganya.

Bank swasta malah lebih murah dalam menyediakan biaya bagi para pegawai.
PT Bank Niaga Tbk, misalnya, memiliki pegawai hampir sama dengan Bank
Indonesia (sekitar 5.000 orang) rata-rata biaya pegawai hanya Rp80,3
juta atau hanya mengeluarkan total biaya Rp401 miliar dalam satu tahun.

Membandingkan gaji pegawai bank sentral dengan departemen di pemerintah?
Tentu bukan hal yang setara. Di Departemen Keuangan sekalipun, tempat
segala macam biaya operasional pemerintahan bermuara, sering terdengar
bisik-bisik betapa senjangnya kehidupan para pegawai di Lapangan Banteng
(Depkeu) dan Thamrin-sebutan lain untuk kantor BI.


Anggaran pengelolaan sumber daya manusia   Bank Indonesia  Pos Nominal
(Rp miliar)  Gaji, manfaat dan insentif 1.544  Honorarium dan uang
lembur 22  Pajak penghasilan 301  Imbalan kerja jangka panjang 206 
Imbalan pascakerja 642  Fasilitas kesehatan 126  Total Biaya SDM 2007
2.841  Jumlah karyawan 5.999 orang  Biaya rata-rata Rp743 juta perorang 
Bank Mandiri  Pos Nominal
(Rp miliar)  Gaji, upah, pensiun dan pajak 1.547  Cadangan penghargaan
pegawai 456  Tunjangan hari raya 356  Kompensasi opsi saham 169 
Kesejahteraan pegawai 163  Pendidikan & latihan 127  Bonus dan lainnya
366  Total Biaya SDM 2005 3.187  Jumlah karyawan 21.192 orang  Biaya
rata-rata Rp150 juta perorang  Bank Rakyat Indonesia  Pos Nominal
(Rp miliar)  Gaji 2.390  Bonus 739  Pemutusan hubungan kerja 183  Tanda
jasa 100  Kesehatan 74  Pendidikan & latihan 114  Total Biaya SDM 2005
4400  Jumlah karyawan 37.545 orang  Biaya rata-rata Rp117.38 juta
perorang  Bank Central Asia  Pos Nominal
(Rp miliar)  Gaji & upah 1.183  Konpensasi 886  Pelatihan 47  Total
Biaya SDM 2005 2.117  Jumlah karyawan 20.748 orang  Biaya rata-rata
Rp102 juta perorang  Bank Negara Indonesia  Pos Nominal
(Rp miliar)  Gaji 1.629  Tunjangan 904  Pendidikan & latihan 103  Total
Biaya SDM 2005 2.637  Jumlah karyawan 19.471 orang  Biaya rata-rata
Rp135 juta perorang  Bank Niaga    Nominal
(Rp miliar)  Total Biaya SDM 2005 401  Jumlah karyawan 4.995  Biaya
rata-rata Rp80,3 juta perorang  Bank NISP    Nominal
(Rp miliar)  Total Biaya SDM 2005 253  Jumlah karyawan 3.616  Biaya
rata-rata Rp70 juta perorang
Secara kasat mata, perbedaan juga tecermin dari kondisi gedung BI dan
Depkeu. Tidak saja dari luar, tapi juga saat telah berada di dalam.
"Bila di Thamrin keluar lift langsung disambut bau wangi, di Lapangan
Banteng, aroma karbol toilet di samping lift yang Anda dapatkan
pertama," kata seorang pejabat Depkeu setengah berkelakar.

Berkurang

Benarkah biaya SDM yang besar berarti gaji besar bagi pegawai BI?
Ternyata tidak selalu begitu. Seorang pegawai baru lulusan sarjana
mengaku membawa pulang sekitar Rp6 juta ke rumah. "Itu memang di atas
rata-rata gaji pegawai baru pada umumnya, namun untuk selanjutnya tidak
jauh beda dengan yang lain," kata Budi Mulya, kemarin.

Menurut dia, biaya SDM untuk 2007 malah bisa dikatakan berkurang karena
sejumlah program pengembangan dan pelatihan tidak bisa dijalankan tahun
ini. "Untuk pengembangan SDM memang sangat kami perhatikan, dan tentu
hal tersebut memerlukan biaya yang tidak kecil."

Hanya saja, bila melihat rincian pos biaya sumber daya manusia BI, biaya
pengembangan dan pelatihan justru tidak masuk di dalamnya. Total biaya
Rp2,84 triliun murni untuk gaji, pajak, uang lembur, pensiun dan
fasilitas kesehatan.

Hal tersebut berbeda dengan rincian pos biaya SDM yang dirilis oleh
sejumlah bank. Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA, misalnya, menyediakan
anggaran pendidikan dan latihan masing-masing Rp127 miliar, Rp103
miliar, Rp114 miliar dan Rp47 miliar.

Taruhlah untuk komponen gaji, manfaat dan insentif, tersedia dana Rp1,54
triliun. Itu artinya biaya setiap pegawai mencapai Rp256,7 juta. Padahal
di Bank Mandiri, dana dengan jumlah yang sama dialokasikan untuk gaji,
upah, pensiun, dan pajak. Khusus untuk pajak, BI menyediakan dana Rp301
miliar, lebih dari cukup untuk mengganti seluruh biaya SDM Bank NISP
(3.616 karyawan).

Anggaran SDM yang besar tentu saja berimbas pada gaji yang memadai bagi
Dewan Gubernur Bank Indonesia. Untuk tahun ini, gaji yang diterima
Gubernur BI dalam satu tahun Rp1,88 miliar sementara gaji deputi senior
gubernur sebesar Rp1,57 miliar dan deputi gubernur Rp1,42 miliar.

Perincian gaji Gubernur BI selama satu tahun, berupa gaji pokok Rp29,88
juta per bulan, tunjangan konjungtur Rp54 juta per bulan, tunjangan
lain-lain Rp11 juta, tunjangan prestasi total setahun Rp546 juta, dan
tunjangan hari raya Rp95 juta.

Adapun Deputi Senior Gubernur BI mendapatkan gaji pokok Rp24,92 juta per
bulan, tunjangan konjungtur Rp45 juta per bulan, tunjangan lain-lain
Rp10 juta per bulan, tunjangan prestasi setahun Rp450 juta, dan
tunjangan hari raya Rp80 juta.

Deputi gubernur menerima gaji pokok Rp22,038 juta per bulan, tunjangan
konjungtur Rp41 juta per bulan, tunjangan lain-lain Rp8 juta per bulan,
tunjangan prestasi dalam setahun Rp419 juta, dan tunjangan hari raya
Rp72 juta.

Nilai tersebut turun dari usulan bank sentral sebelumnya di mana gaji
dan tunjangan untuk Gubernur BI sebesar Rp2,69 miliar, untuk Deputi
Senior Gubernur BI Rp2,25 miliar, dan Deputi Gubernur Rp2,04 miliar.
Perlu juga diingat, BI sempat mendapat kritikan hebat dari publik saat
anggaran gaji dewan gubernur diajukan ke Dewan Perwakilan Rakyat.

Budi menolak jika BI disebut menggaji karyawannya terlalu tinggi. Bank
sentral, kata dia, memiliki data komparasi yang sangat lengkap sebelum
menentukan besaran remunerasi bagi para pegawainya.

Namun, dia mengakui bila gaji pegawai BI lebih tinggi dari
departemen-departemen di pemerintahan. "Itu memang beda," katanya.

Kemungkinan besar, gaji pegawai baru yang di atas rata-rata, menjadi
sebab mengapa setiap penerimaan pegawai baru, Bank Indonesia selalu
kebanjiran peminat. Sebagaimana dikatakan Budi, dalam program penerimaan
terakhir, 36.000 pendaftar datang untuk memperebutkan 100 kursi. "Itu
membuat kami harus menambahnya menjadi 200 kursi."

Bisa memberikan kompensasi yang memadai bagai pegawai tentu merupakan
figur ideal pemberi kerja. Namun, untuk sebuah mesin birokrasi seperti
BI dalam situasi makin defisitnya keuangan negara, maka hal itu bukanlah
hal yang mudah. Uniknya, bank sentral kita bisa melakukannya. (*)


Sumber: Bisnis Indonesia <http://www.bisnis.com/>

Kirim email ke