Edisi. 46/XXXV/08 - 14 Januari 2007
Laporan Utama

"JALAN LURUS KOKPIT BUTA"

Pilot Adam Air tak jarang menerbangkan pesawat dengan deretan instrumen di
kokpit yang rusak. Ada yang nyasar, yang lain memilih mundur.

Perhatian Kapten Pilot Sutan Solahu-din terhenti saat membaca satu bagian
pada catatan yang baru diterimanya. Laporan itu menyebut, Boeing 737-300
yang akan diterbangkannya sejam lagi mengalami kerusakan pada sistem
navigasinya. Catatan itu dibolak-balik, tetapi ia tak juga menemukan surat
keterangan dari bagian teknik bahwa pesawat layak terbang. Sutan menolak
menerbangkan pesawat milik maskapai Adam Air itu dari Jakarta ke Padang.
"Tapi saya ditekan pihak owner (pemilik) melalui telepon agar menerbangkan
pesawat itu," katanya.

Sutan akhirnya menyerah dan menerbangkan pesawat tanpa alat navigasi itu.
Pesawat itu terbang seperti orang berjalan dengan mata tertutup saja. Selama
penerbangan ia mengkhawatirkan keselamatan sekitar seratus penumpang yang
dibawa-nya. Dia harus memakai insting untuk mencari arah Kota Padang.
Untunglah, pengalaman terbang Sutan membuat pesawat tidak nyasar.

Setelah insiden itu, Sutan merasa tidak nyaman dan aman bekerja di maskapai
Adam Air. Saat dia berbagi cerita dengan kawan-kawannya sesama pilot,
ternyata peristiwa serupa pernah mereka alami. Akhirnya Sutan bersama 16
pilot lainnya memutuskan mengundurkan diri dari Adam Air, Mei 2005.

Ternyata keputusan mundur itu berbuntut panjang. Pihak Adam Air menuding
rombongan pilot itu menyalahi kontrak kerja. Perusahaan membawa kasus ini ke
pengadilan perdata. Mereka harus membayar semua biaya yang sudah dikeluarkan
perusahaan, plus ganti rugi imateriil. Rata-rata setiap pilot harus membayar
Rp 3,6 miliar. "Terus terang saya tidak sanggup membayar uang sebesar itu,"
kata Sutan saat mengadukan nasibnya ke Komisi V DPR, Maret tahun lalu.

Kasus ini mestinya putus Kamis pekan lalu. Tetapi Pengadilan Negeri Jakarta
Barat menundanya karena kuasa hukum Adam Air tidak hadir. Rumusan
fakta-fakta putusan juga belum selesai, salah satu anggota majelis hakim
sedang cuti. "Sidang ditunda selama dua minggu," kata ketua majelis hakim,
Zaenal Arifin.Penyelesaian melalui pengadilan tinggal menunggu waktu. Tetapi
pemogokan 17 pilot Adam Air dengan alasan keamanan dalam penerbangan
harusnya menjadi perhatian Direktorat Sertifikasi Kelaikan Udara di
Departemen Perhubungan sebagai otoritas penerbangan. Jika tudingan Sutan dan
kawan-kawannya benar, ratusan nyawa penumpang dan awak pesawat dalam setiap
kali penerbangan menjadi taruhan.

Mungkin saja kecelakaan pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan KI 574 di
atas langit Sulawesi juga berkaitan dengan sistem navigasi. Percakapan
terakhir yang terekam antara pilot Refri Agustian Widodo dan petugas air
traffic controller (ATC) atau pemandu lalu-lintas udara di Bandara
Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, menyangkut soal posisi pesawat.
Setelah pesawat bermanuver menghindari empasan angin, pilot bertanya di mana
posisinya. Padahal, sistem navigasi di kokpit pesawat cukup memberi
informasi itu—kalau alat itu bekerja baik.

Terbang buta tanpa navigasi bukan kali ini saja dilakukan pilot Adam Air.
Pesawat Adam Air yang berangkat dari Jakarta dengan tujuan Bandara
Hasanuddin juga pernah nyasar, Februari tahun lalu. Pesawat tiba-tiba
meminta mendarat di Bandara Tambolaka, Sumba, Nusa Tenggara Timur. Padahal
jarak bandara kecil itu dengan Kota Makassar lebih jauh dibanding jarak
Jakarta-Semarang.

Saat itu Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) meminta Kepala
Bandara Tambolaka menahan pesawat nyasar itu. Tetapi Adam Air justru
menerbangkan lagi pesawat menuju Makassar dengan mengganti pilot dan
kopilotnya. Keputusan memindahkan pesawat yang rusak dari lokasi kejadian,
memperbaiki, dan menerbangkan kembali tanpa izin merupakan pelanggaran
berat. Sebab, penerbangan lanjutan itu menghapus semua rekaman data dalam
kotak hitam yang bisa membongkar kejadian buruk yang terjadi sebelumnya.
Akibat kejadian itu, polisi menahan Kapten Tri Nusiyogo dan Kopilot Ahmad
Deni Syaifuddin.

Seorang mantan pilot Adam Air, yang menolak disebut namanya, mengaku campur
tangan manajemen cukup besar. Padahal pihak manajemen tidak paham masalah
pengoperasian pesawat. Dia menceritakan pengalamannya saat transit di Juanda
Surabaya, Jawa Timur, sebelum meneruskan perjalanan ke Ngurah Rai Denpasar,
Bali. Baru sepuluh menit penumpang meninggalkan pesawat, pilot dikagetkan
dengan penumpang yang sudah kembali masuk pesawat. Padahal saat itu
pramugari masih sibuk memeriksa perlengkapan dalam kabin, sementara pilot
sedang mengecek instrumen di kokpit. "Kok, penumpang sudah naik?" sang pilot
bertanya heran.
Seharusnya ramp atau petugas di darat menunggu pilot menyatakan pesawat siap
terbang. Setelah itu, mereka baru boleh memasukkan penumpang. Insiden itu
tampak sepele, tetapi bisa membahayakan penerbangan. Saat transit, harusnya
mesin dan rem pesawat diberi kesempatan melakukan pendinginan. "Paling tidak
pesawat butuh waktu 40 menit untuk transit," kata sang kapten. Tapi apa
boleh buat, pihak manajemen di Jakarta memerintahkan pesawat segera
berangkat.

Ada contoh lain. Dalam penerbangan dikenal istilah hold item list. Jika
terjadi gangguan pada instrumen tertentu, pesawat masih bisa terbang asalkan
perbaikan harus segera dilakukan. Misalnya ada gangguan sistem navigasi,
pesawat masih bisa terbang asalkan ada langkah-langkah teknik tertentu.
Biasanya pilot masih berani terbang jika jumlah gangguan dalam daftar ini
hanya terjadi pada satu atau dua instrumen. "Tapi kalau sampai lima item,
ngapain harus terbang. Kita kan lama-lama jadi takut setiap mau terbang,"
kata mantan pilot Adam Air ini.

Kalau saja maskapai penerbangan mengikuti aturan keselamatan penerbangan
atau CASR (Civil Aviation Safety Regulation) yang ditetapkan pemerintah,
keamanan pesawat lumayan terjamin. Mantan pilot Adam ini tak menampik
kenyataan bahwa maskapai yang pesawat pertamanya terbang pada Desember 2003
ini masih memperhatikan faktor keamanan. "Tetapi batas toleransinya
diturunkan," katanya. Toleransi penggunaan bahan bakar juga minim. Manajemen
menuntut pesawat terbang lurus ke bandara tujuan untuk menghemat bahan
bakar. Akibatnya, pilot tidak berani terlalu banyak bermanuver. Kalau
pesawat terus digeber seperti itu, "Saya punya insting maskapai ini
menjelang titik kritis." Dia akhirnya memutuskan ikut rombongan untuk
keluar.

Artinya, pemerintah perlu pasang mata lebih baik di era penerbangan murah
ini. Pemerintah tak boleh bertindak setelah kecelakaan terjadi seperti
selama ini. Pada September 2005, pesawat Mandala gagal terbang dari bandara
Medan. Pesawat ambruk dan menelan korban 101 penumpang tewas, bersama 42
penduduk setempat. Menteri Perhubungan kemudian melakukan inspeksi mendadak
ke Bandara Soekarno-Hatta, lima hari kemudian.

Hasil inspeksi mendadak itu mengagetkan. Saat itu ditemukan lima pesawat
yang tidak siap terbang dari maskapai Adam Air, Batavia, dan Mandala
Airlines. Itu pun yang dicek hanya pesawat Boeing 737-200 yang serinya sama
dengan pesawat Mandala yang terbakar. "Lima pesawat dikandangkan sampai item
yang rusak diperbaiki sesuai dengan standar," kata Hatta. Di depan Komisi V
DPR, Hatta berjanji stafnya akan melakukan pengecekan lebih sering,
setidaknya setiap dua bulan sekali.
Bagaimana keamanan Adam Air? Dihubungi Tempo, Direktur Komersial Adam Air,
Gugi Pringwa Saputra, mengakui maskapainya menerapkan efisiensi konsumsi
bahan bakar karena mengunyah 60 persen dari total pendapatan. "Kami bukan
mengurangi jatah, tapi memperpendek jarak tempuh," katanya. Misalnya rute
antarkota berbelok-belok, Adam Air meminta pihak pemandu lalu-lintas
penerbangan agar bisa menempuh rute yang lebih lurus. Hasilnya, mereka bisa
menghemat belanja sampai sepuluh persen. "Ini penghematan yang luar biasa,"
katanya.

Gugi menampik tudingan maskapainya menyepelekan keselamatan penumpang.
Menurut dia, sertifikat kelaikan penerbangan masih mentoleransi waktu
transit pesawat hanya 20 menit. Bahkan tidak transit pun bisa, langsung
terbang lagi asalkan tidak ada masalah dari segi mesin atau teknis.
"Penumpang sendiri kan ingin cepat," katanya. Soal intervensi pihak
manajemen kepada pilot? "Itu cerita lama dari seseorang yang tidak puas
dengan manajemen," kata Gugi.


Kirim email ke