BUDAYA MALU DIKIKIS HABIS GERAKAN SYAHWAT MERDEKA
Sumber: Taufiq Ismail (25/12/2006)

TIM Jakarta, Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai
Indonesia, naik ke daratan, masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang
ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika
reformasi meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi
terpimpin dan Demokrasi pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela
Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu berganti dengan
kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang
semakin kencang dan arus menderu-deru.

Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya
partai-partai politik baru, keleluasan berdomenstrasi, ditiadakanya
SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik,
diselenggarakan pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya,
dinikmati beum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening
reforasi ternyata mahal sekali.

Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan
menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak 1998
naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah
gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok
organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjsama bahu-membahu
melalui jaringan menduinia, denga nkapital raksasa mendanainya, ideologi
gabungan yang melandasinya, dan banyak medi amassa cetak dan elektronik
jadi pengeras suaranya.

Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?
Pertama adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam
perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan
semunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga
normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.

Kedua, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiasa
perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu
menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat
nomor telepon genggam serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan
(kue pancong berkumis dan lemper baterai) dan boneka karet perempuan
yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

Ketiga, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat.
Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa
dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial ditayangkan
pada jam prime time, kalau emainnya terenal . remaja berseragam OSIS
memang menjadi sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ihi, beberap
aguru SMA menyampaikan keluhan pada saya. "Citra kami guru-guru SMA
di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan
memalukan." Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar
kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa.
Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

Keempat, 4.200.000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100.000
(seratus ribu) situs porno indonesia di internet. Dengan empat kali klik
di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus
fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dlakukan baik
dari San Fransisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten.

Pornografi fgratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang
sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di
negaranya bagaikan `gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami
melawannya dengan dua telapak tangan."
Di singapura, malaysia, korea selatan situs porno diblokir pemerintah
untuk terutama melindumngi anak-anak dan remaja. Pemerintah kita tidak
melakukan hal yang sama.

Keempat, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat % sastra dan
sastra. Di malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis
pria. Di indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan
sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia
berkata:" Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani.
Kok mereka tidak malu, ya?" memang begitulah, rasa malu itu yang
sudah terkikis, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s.
(sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banya
bagian dari bangsa.

Kelima, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan
terbitan jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu
tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar
hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu Guru.
Harganya Rp 2.000. sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja,
tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya dalah anjuran perlawanan
pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan ini itu, termasuk
terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya baca kecaman yang
paling sengit adalah pada menteri pendidikan jepang. Tentu saja dalam
teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya menteri pendidikan
nasional kita.

Keenam, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD
biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia,
diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan
tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta- 20 juta
keping setahun. Harga yang dulu Rp 30.000 sekeping, kini turun menjadi
Rp 3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek
yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD bitu dengan
pelaku kulit putih dalm 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak
Sd kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturan pemerintah.
Seorang peneliti mengabarkan bahwa di jakarta pusat ada murid-murid
laki-laki yang kumpul dua sore seminggu di rumah salah seorang dari
mereka, lalu menayangkan VCD/DVD porno. Sesudah selesai mereka onani
bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD, kelas lima.
Tak diceritakan apa akses selanjutnya.

Ketujuh, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai
merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan boto kecil
diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios
tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas membelinya. Di
amerika dan eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita
pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.

Kedelapan, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan
Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan kini sampai pada
derajat produsen dunia. Enam juta anak muda indonesia terperangkap
sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

Kesembilan, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun
nikotin 57.000 orang/tahun, maknanya setiap 156 orang mati, atau setiap
9 menit seorang pecandu rokok meninggal di dunia. Pemasukan pajak 15
trilyun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya 30
trilyun rupiah. Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam
kategori kontributor atas syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya,
kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga
addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat
permissif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin,
akrab sekali, sukar dipisahkan. Interaksi ini keudia dilengkapi dengan
tindak kriminalitas berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai
pembunuhan. Setiap hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

Kesepuluh, pengiklan perempuan dan laki-laki penggilan. Dalam masyarakat
permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang
diperlukan.

Kesebelas, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat
suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, huungan dalam bentuk
perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi
berfungsi.

Keduabelas, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama
di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan meningkat
drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak
SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan
pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa sebab
dia/mereka memeprkosa, selalu dijawab ` karena terangsang sesudah
menonton VCD?DVD biru dan ingin mencobakannya.' Praktisi aborsi
gelap menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi.

Seorang peneliti dari sebuah universitas di jakarta menyebutkan bahwa
angka abprsi di indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya stiap 15 detik
seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari
salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah produk akhirnya.
Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya.

Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi fan
pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi
pro-kontra RUU APP.

Karena satu-dua- atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total
kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang geraan syahwat
merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa di
dlamnya.

Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnakan adalah
perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap kekerasan
pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa
dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar pornografi,
situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40%
anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan seks
pra-nikah. Sementara anak-anak di amerika serikat dilindungi oleh 6
undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada.
KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang syahwat
merdeka yang menolak totl RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu
kita sendiri.

Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi
bahu-membahu menumpang gelombang mass, reformasi mendestruksi moralitas
dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya
materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.

Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya
yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, " Kalau cerpen saya itu
dianggap pornografis, wah, sedihlan saya." Saya waktu itu belum
sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai
pornografi.

Begini. Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji
karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bil atokoh-tokoh di dalam karya
saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, istri, anak, kakak atau
adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu,
mertua, istri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota
pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu, tiada
dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tak jijik karenanya,
maka karya saya itu bukan karya pornografi.

Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya
merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak
dan jijik, maka kara saya itu pornografis.

Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya
menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama
juga,yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa
melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini
luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu banyak
hal.

Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy,, menumpang
taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di
indonesia. Majalah ini medium awal masturbasi pembaca amerika, dan kini,
beberpaa puluh kemudian, dikalahkan oleh situs porno internt, sehingga
jadilah publik pembaca dan publik langganan internet amerika tukang
onani terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit
tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk eksploitasi kaum hawa di
negeri kita yang pangsa pasarnya luar biasa ini. Bila mereka berhasil,
maka bakal berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh
perempuan dan fundamentalis-syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler,
Celebrity skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX teens dan
seterusnya.

Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy
Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan percobaan, yaitu
mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu
mertua, kakak, adik, istri dan anak perempuan meeka sendiri. Sesudah
dimuat, promosikan foto-foto itu di 10 saluran televisi dan 25
suratkabar.
Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirakan
mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya
pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang memberi
sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin, apalagi kalau
denga njelas mendeskripsikan adegannya, apakh dengan kata-kata indah
yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal, maka pembaca akan
terangsang.

Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat
akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu
anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjasi terhadap anak-anak
kecil masih bau susu bubuk belum haid yang di rumah sebdiriab karena
papi-mami pergi kerja, pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya
kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka
teransgang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati
peempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang
sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S3 lewat
tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membca
cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan
penyakit kelamin gonnorhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di
kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol
dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis
cerpen-puisi-novelis erotis yang umumnya asyik berdandan dengan dirinya
sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuju, tidak
pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh
tulisannya. Sejumlag cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan
orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka membayangkan,
bahwa sesudah sbuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit,
maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh
melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan
segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu,
beradik-kakak dengan destruksi yang dilakaukan
prodsen-pengedar-pembajak-pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan)
sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita,
masyarakat konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu
harganya Rp 30.000 sekeping, kini Rp 3.000, sama murahnya dengan 3
batang rokok kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanta dengan
memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 60 menit itu.
Bersama dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar
telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif
serba-boleh-apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa yang
mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan
moralitas anak bangsa.

Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis
yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu lancar
dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis
pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu
pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing
negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki indonesia lupa istri di
kapung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuaman. Begitu saja.

Dalam interaksi yang kelihataniseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap
yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana huungan itu
berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pad aphubungan
pernikahan atau perzinaan, kabur adanya.

Perzinaan adalah sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak
orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara
tidak sah. Pezina melakukan intervensi terhadap ruang privat alat
kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai
bersekongkol dengan yang melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak
amengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang
yang diperkosa. Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga
pernikahan yang suci adanya.

Para pengarang yang terang-terangan tidak stuju pada lembaga pernikahan,
dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yag tokoh-tokoh dalam
karyanya diberi peran syahwt merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh
sinar rembulan dan matahari. Mereka maling tersamar. Mereka celakanya,
tidak merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra
menghadiahi mereka glorifikasi, dan penerbit menyediakan gratifikasi.
Propagandis dan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi,
berkomplot dengan maling.

Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang diangap) sastra, tapi juga
untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori
semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan
cara berzina, lengkap dengannama dan alamat tempat berkumpulnya
alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai
atau dengan kartu kredit gesekan.

Sastra selangkang adalah sastra yang asyik denganberbagai masalah
wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di malaysia pengarang-pengarang
yang mencbul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di indonesia pengarang
sastra selangkang mayoritas perempuan. Beberapa di anataranya mungkin
memang nymphomania atau gila syahwat, ingga ada kritikus sastra sampai
hati menyebutnya "vagina yang haus sperma". Mestinya ini sudah
mejadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang kemungkinannya jadi
epidemi, dan harus dikasihani.

Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan aceh, jawa dan sulawesi
selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, sultanah atau
ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini
sejumlah perempuan indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok
permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya
jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin tersendiri, yang bagi
mereka parfum sehari-hari.

Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi peyair tamu di Iowa Writing
Program, Uiversitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya gelombang
gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, aus riaknya sampai ke
Indonesia. Kaum feminis amerika waktu itu sedang gencar-gencarnya
mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi,
kebebasan berkelamin, di koran, majlaah, buku dan televisi.

Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang
lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti
Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya.
Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang
meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang
laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan
yang bablas itu.

Di stasiun kereta api bawah tanah new York, seorang laki-laki korban
HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka
menusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar
matanya kosong, suaranya parau.

Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di
tahun 1970-an, tulis seorang esais, bagaikan kematian di medan perang
Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di new york, anggota-anggotanya
bergi;iran mati saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba,
akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh
pada bencana menimpa bangsa karen asyik mendandani penampilan selebriti
dir sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan.

Kalimat bersayap mereka adalah, "This is my body. I'll do
whatever I like whit my body." "ini tubuhku. Aku akan lakukan
apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini." Congkaknya luar biasa.
Seoalh-olah tubh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubh itu
pinjaman kredit mencicil dari tuhan, Cuma satu tingkat di atas sepeda
motor jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran.

Mereka tak ada urusan dengan maha Produser tubuh itu. Penganjur
masyarakat permissif di mana pun juga, tidka suka Tuhan dilibatkan dalam
urusan. Jangan bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama
Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita ini merupakan riak-riak
gelombang dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya
dengan semangat dan stamina mirip anak-anak remaja bertopi beisbol yang
selalu meniru membeo ap asaja yang berasal dari Amerika Utara itu.

Ciri kolektif seluruh komponen gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya
malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan batang
tubuh mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan
kelamin orang lain yang disabet-diserimpung-dikorupsi dengan entengnya.
Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya
Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat
dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi perantara kriminalitas di
masyarakat luas, mencecerkan HIV-AIDS dan aborsi, berseluruh bulan dan
matahari.

Kirim email ke