http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/19/opini/3249831.htm
<http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/19/opini/3249831.htm>
Petaka Sodom dan Gomora

F Rahardi
Flu burung (avian influenza, AI) tiba-tiba menjadi hantu yang sama
menakutkan dengan AIDS. Inilah kutukan dari Sodom dan Gomora modern.
Agroindustri unggas modern sebenarnya telah menentang alam, sekaligus
menantang hukum Allah. Itulah yang harus diubah, bukan hanya sekadar
restrukturisasi menyangkut pembagian kapling.
Flu sebenarnya merupakan penyakit lama. Ada tiga tipe virus influenza:
tipe A yang bisa menyerang hewan maupun manusia dan tipe B serta C yang
hanya bisa menyerang manusia. Virus tipe A masih terdiri atas beberapa
subtipe, yakni H (1-15) dan N (1-9). AI sendiri sudah terdeteksi sejak
1978 di Italia, tetapi AI subtipe baru dengan virus H5N1 pertama kali
terdeteksi di Hongkong tahun 1997. Sejak itu, flu burung menjadi mirip
AIDS, menimbulkan gejolak atas bisnis perunggasan, sekaligus mengancam
hidup manusia.
Ketika AI menyerang unggas, virus ini belum menjadi wabah yang mendunia.
Agroindustri perunggasan lalu menjadi massal dan mendunia, dengan benih
(DOC/DOD), pakan, hormon pertumbuhan, antibiotik, dan obat-obatan dalam
dosis tinggi secara intensif. Inilah pemicu utama terciptanya virus
subtipe baru. Terlebih setelah agroindustri peternakan hanya
mementingkan keuntungan, tanpa memikirkan dampak negatif yang
ditimbulkan.
Wabah sapi gila di Inggris juga kutukan. Virus penyakit gila ini
sebenarnya hanya berjangkit pada domba, dan tidak pernah menjadi wabah.
Namun, agroindustri peternakan di Inggris terlalu rakus. Limbah dari
rumah potong hewan, terutama tulang-tulang—terdiri tulang domba,
kambing, sapi, babi, dan ternak lain—digiling dan dicampurkan ke
konsentrat. Tujuannya adalah efisiensi. Dampaknya, terjadi degradasi
genetik dan penularan penyakit. Penyakit gila yang sebelumnya hanya
menyerang domba berjangkit pula ke sapi.
"Nuggets" dan sosis tulang
Pada agroindustri perunggasan, terutama ayam petelur, yang akan
dipelihara hanyalah DOC betina. DOC jantan harus dibuang. Jika DOC
jantan diberikan kepada ikan, dampak negatifnya hampir tidak ada. Namun
sekali lagi demi efisiensi, DOC jantan langsung dimasukkan ke
penggilingan dan dicampurkan ke pakan. "Kanibalisme" inilah antara lain
yang telah mengakibatkan degradasi genetik, sekaligus ikut berperan
memicu terciptanya virus AI subtipe baru.
Namun itu semua belum terlalu mengerikan. Kini, tampaknya konsumen
kurang jeli melihat (atau tidak menduga) sosis (sapi dan ayam), nuggets
(ayam), dan kornet (sapi), yang dikonsumsi, sebenarnya bukan dari
daging, tetapi limbah tulang-belulang. Limbah rumah pemotongan hewan dan
rumah pemotongan ayam selalu menghasilkan limbah berupa tulang keras,
tulang rawan, sumsum, urat, dan sedikit daging yang masih melekat.
Tulang kerasnya dipisahkan dan disebut MBM atau meat and bone meal. Ini
merupakan bahan campuran industri pakan ternak, termasuk unggas.
Tulang rawan, urat, sumsum, dan daging disebut meat and debone meal
(MDM). Produk inilah yang semula menjadi bahan campuran industri sosis,
kornet, dan nuggets. Kini, MDM menjadi bahan utama makanan pabrik itu.
Terlebih dalam sosis ayam. Yang dimaksud MDM unggas sebenarnya semua
limbah ayam digiling, sebab sekeras apa pun tulang ayam masih amat lunak
untuk menjadi sosis dan nuggets. Kita tidak pernah diberi tahu oleh
Asosiasi Produsen Makanan Olahan Daging (National Association Meat
Producer = NAMPA), berapa persen sebenarnya kandungan MDM pada tiap
sosis dan nuggets. Jangan-jangan sudah 100 persen.
Pola industri ternak seperti ini sebenarnya sudah melawan hukum alam,
sekaligus hukum Allah. Sapi dan domba aslinya herbivora. Dalam industri
modern mereka dipaksa menjadi karnivora, bahkan kanibal. Unggas makan
biji-bijian dan kadang serangga serta cacing. Tetapi mereka tidak pernah
kanibal. Bahkan elang dan gagak yang karnivora pun tidak pernah kanibal.
Tetapi manusia telah memaksa ayam dan itik menjadi kanibal. Bahkan DOC,
anak ayam yang baru menetas pun, harus kembali digiling untuk dimakan
oleh induk-induk mereka. Ini sudah lebih sadis dibanding kisah Sodom dan
Gomora.
Limbah dari AS
Rakyat AS relatif cerdas dalam melihat "penyimpangan" atas hukum alam
ini. Selain cerdas, mereka kaya. Itu sebabnya mereka tidak menyantap
bagian lain dari ayam, kecuali daging dada. Kulit, daging paha, daging
sayap, hati, ampela, tabu disantap. Apalagi kepala, leher, pantat, dan
ceker. Semua itu harus dibuang. Lembaga konsumen AS juga ketat hingga
limbah itu tidak bisa digiling begitu saja dan dijadikan pakan. Kasus
sapi gila di Inggris membuat rakyat AS lebih waspada.
Ke manakah limbah yang masih layak makan itu dibuang? Tentu ke negara
yang penduduknya banyak dan ekonominya lemah. Sasaran utama membuang
paha dan sayap ayam adalah RRC, India, dan Indonesia. MDM hasil
penggilingan limbah unggas juga dibuang ke negara berkembang dan negara
miskin. Untuk sarana pembuangan, kota-kota besar di negara berkembang
siap dengan restoran cepat saji dan pasar swalayan. Saat memungut sosis
ayam dan nuggets, ibu-ibu pasti tak pernah membayangkan, bahan utama
produk itu bukan daging, tetapi limbah.
Sebenarnya pemerintah harus mulai memperkuat agroindustri perunggasan
tradisional peternakan itik sebagai penyeimbang. Kelembagaan peternakan
rakyat ini sebenarnya sudah amat kuat. Hanya alokasi modal dan fasilitas
lain tidak pernah tertuju ke mereka, sebab mereka bukan pengusaha yang
punya kapling dalam Gabungan Perusahaan Perunggasan Indonesia (Gappi).
Jika para peternak itik yang sudah massal pun tak tersentuh perhatian
pemerintah, ayam kampung lebih tak terperhatikan lagi. Rakyat memang
harus tabah dalam menerima petaka Sodom dan Gomora modern berupa wabah
flu burung.
F Rahardi Wartawan; Penyair

Kirim email ke