Menyusuri Sungai Segah (4)
Dari Giram Lanuk ke Long Laai
Dicky Lopulalan
Dwi R. Muhtaman
Keluar dari tebing, sungai mulai berbatu dan memunculkan jeram-jeram
kecil di beberapa tempat. Semakin ke hulu, semakin rapat, batu-batu
besar kelihatan menonjol. Inilah pintu Giram Lanuk, Jeram Lanuk, yang
memiliki tingkat kesulitan di atas Giram Panjang karena memiliki jeram
yang lebih banyak, lebih besar dan areal yang lebih panjang. Motorist
pun harus meliuk-liukkan perahu menaiki alur air tak berbatu yang
berbentuk seperti jembatan melingkar-lingkar di antara batu-batu sungai.
Wah, mendebarkan apalagi bila berpapasan dengan perahu lain dari arah
hulu. Mau tidak mau, harus mengalah, menunggu salah satu lewat dulu.
Tepat di akhir jeram, ada baiknya merapatkan perahu ke dataran yang
beralaskan batu-batu kali kecil di pinggiran sungai. Ini tempat yang
sangat bagus untuk beristirahat ataupun makan siang. Seperti berada di
sebuah balkon penonton gedung teater yang menjorok ke tengah sungai,
dengan dekorasi aneka bunga-bunga hutan di antara bercak-bercak sinar
matahari yang terhalangi daun-daunan. Ini pengalaman yang menyenangkan,
duduk di permadani batu-batu kali di antara belasan kumpulan kupu-kupu
berwarna-warni, di bawah keteduhan pohon-pohon berhiaskan warna-warna
kuning bunga sempur dan warna lembayung muda bunga bungur.
Pertunjukannya adalah burung-burung pemangsa ikan sungai yang sedang
memamerkan strateginya masing-masing.
Burung Raja Udang yang berwarna cerah kuning, ungu dan biru
langsung terlihat dengan mencolok, menukik dari tempatnya bertengger,
terbang rendah mendatar 30 cm di atas permukaan air sungai sepanjang
puluhan meter, sebelum menyelam dan menusuk mangsanya dengan paruhnya
yang besar dan kembali ke atas dahan untuk menikmati hasil buruannya.
Belum lama Raja Udang berlalu sepenggal sungai panjang yang ada di
hadapan telah menghadirkan sosok Pecuk Ular yang bertubuh aneh dengan
leher panjang yang lentur dan kepala yang kecil. Turun dari dahan,
burung Pecuk Ular menyelam ke bawah permukaan sungai dan mengejar ikan
di dalam sungai. Usai berburu, burung ini akan duduk berjam-jam di
cabang pohon di tepi sungai dengan sayapnya terbentang untuk
mengeringkan bulu-bulunya di bawah matahari. Sebabnya, bulu-bulu Pecuk
Ular hanya mengandung sedikit minyak, sehingga air mudah meresap.
Keuntungannya, daya apungnya berkurang sehingga burung ini dapat
berenang di bawah permukaan air.
Sedang Pecuk Ular berjemur, burung elang bondol dengan badannya berwarna
pirang dan kepala putih turun dengan deras dari atas pokok kayu dan
menyambar ikan sedikit di bawah permukaan air dengan kuku-kukunya yang
melengkung. Lalu, membawanya ke atas dahan pohon dan memakannya.
Kebanyakan ikan tertipu dengan bulu-bulu berwarna putih pada sisi bawah
burung elang bondol ini. Ikan yang menengok ke atas tidak dapat
membedakan garis putih di udara, sehingga elang itu punya peluang yang
lebih baik untuk menyergap mangsanya.
Tontonan di sepenggal sungai yang tidak ada duanya. Tidak berarti dari
dalam perahu yang melawan arus sungai tidak nyaman, justru perahu adalah
tempat duduk yang paling istimewa selama mengarungi "river world" dan
"forest world". Keunikan hutan dan pinggiran sungai dapat terlihat
dengan nyata sepanjang perjalanan. Berkali-kali elang dan pecuk ular
menampilkan kebolehannya. Begitu pula kehadiran binatang-binatang
seperti bekantan, lutung dan monyet ekor panjang di atas dahan dan
cabang pepohonan di pinggiran sungai.
Selepas pertemuan Sungai Segah dan Sungai Malinau, arah Sungai Malinau
hutan terlihat mulai menipis dengan ladang-ladang penduduk di beberapa
tempat dengan tanaman yang cukup tinggi-tinggi. Di tempat lain, ladang
yang sedang diberakan dan nampak seperti hutan-hutan terlihat bertebaran
di beberapa bagian pinggiran sungai dan pinggiran bawah pegunungan yang
terlihat nyata dengan puncak lebih banyak tertutup awan dibungkus
sebiru-birunya langit di udara tanpa polusi dan halangan. Pondok-pondok
penunggu ladang mulai kelihatan satu demi satu. Mula-mula jaraknya 500
meter, tapi lama kelamaan satu pondok dan pondok lainnya hanya berjarak
100-150 meter. Satu demi satu rumah mulai dilewati, semakin lama semakin
rapat, dan sampailah di dermaga sungai Kampung Long Laai, kampung
terbesar di Hulu Sungai Segah ini. Yang disebut dermaga sebenarnya
hanyalah pinggir sungai tempat menambat perahu yang terletak tiga meter
di bawah permukaan tanah, dengan sendirinya sepanjang sungai itu
terdapat banyak dermaga karena kebanyakan pemilik perahu menambatkan
ketintingnya di tempat yang paling dekat dengan rumah masing-masing.
Untuk naik, disediakan batang-batang pohon kelapa atau kayu hutan yang
ditakik-takik dan diletakkan miring, sehingga dapat menjadi tangga untuk
sampai ke dataran perkampungan.
Kampung ini memang besar. Kesimpulan itu langsung bisa ditarik begitu
kepala menjenguk permukaan tanah, dan menyaksikan deretan rumah-rumah
yang menghadap ke sungai. Antara rumah dan sungai dibatasi halaman
rumah yang cukup lebar dan jalan bersemen selebar dua meter, juga
pinggiran sungai yang biasanya digunakan untuk menjemur padi.
Rumah-rumah panggung berderet rapi dan berlapis dua sepanjang satu
kilometer. Di kedua ujungnya mengapit sekolah dasar dan gereja. Juga,
rumah adat di samping gedung SD.
Ada satu rumah dari masa lampau, berdiri sejak 80 tahun lalu, yang masih
tegak kuat dengan tiang-tiang penopang setinggi tiga meter. Untuk keluar
masuk rumah itu menggunakan satu tangga dan pintu di bagian belakang,
dapur. Bagian dalam rumah terbagi atas dua ruangan: dapur dan ruang
besar tanpa pembatas, pun tanpa jendela. Rumah ini adalah kediaman
seorang janda tua berusia lebih dari 100 tahun yang masih menggantungkan
cincin-cincin timah di telinganya sehingga membentuk cuping telinga yang
memanjang sampai ke bawah bahunya. Sayangnya, tak banyak cerita masa
lalu yang bisa didapatkan manakala berbincang-bincang dengan nenek
tersebut. Selain faktor bahasa, tak banyak yang masih diingatnya. Begitu
terkenalnya rumah ini, sampai-sampai setiap kali ada kunjungan pejabat,
rumah ini pasti didatangi dan si nenek dipotret. Tak heran bila ada
orang membawa kamera datang ke rumahnya, si nenek pun segera mengenakan
kebaya berwarna terang dan kain serta hiasan kepala dan mengambil posisi
duduk dengan ekspresi tenang dan pandangan ke muka. Berpose, siap
difoto. Biasanya, setelah itu sang nenek akan minta bayaran. Rupanya,
selama ini, setiap kali ada pejabat yang memotret atau difoto bersama
sang nenek, uang honor sebagai model telah terbiasa diberikan.
Kampung Suku Gaai ini memiliki periode yang sama dengan Kampung Long
Ayan, sekaligus menjadi dua kampung tertua di wilayah Segah. Seperti
juga di Long Ayan, masyarakat adat Gaai telah berada di sini semenjak
abad ke-18, bersamaan dengan gelombang migrasi besar-besaran Suku Kayan,
Kenyah dan Iban yang membawa tradisi pengayauan. Sekarang ini, Kampung
Long Laai dihuni 130 kk yang sebagian besar beragama Kristen, hanya 15
jiwa yang beragama Islam.
Di kampung ini, anjat -tes gendong berbahan rotan-yang dalam bahasa Gaai
disebut tun, dibuat sendiri oleh beberapa orang di kampung itu. Demikian
pula hawat (gendongan anak-anak), topi caping, tempat sirih dan pinang,
masih dapat ditemui di tempat ini. Di masa-masa perburuan dan panen,
aneka produk hutan seperti madu, daging babi hutan dan rusa,
buah-buahan, gaharu, rotan, seringkali diperdagangkan dengan menggunakan
alat tukar uang maupun sistem barter. Di tebing-tebing dalam hutan
sejauh 20 km dari kampung, dipercaya orang Long Laai sebagai kuburan
para raja mereka di masa lampau.
Aneka kesenian nyanyi dan tari juga masih menjadi tradisi yang kuat,
terutama di saat pesta panen sekitar bulan April-Mei. Biasanya, selama
dua hari seluruh anggota masyarakat kampung akan menyelenggarakan pesta
sebagai cara untuk mengucapkan syukur atas hasil yang mereka dapatkan.
Salah satu tarian yang dipertunjukkan, tari ngejiak yang menyertakan
muda-mudi untuk membentuk lingkaran sambil berputar dan bernyanyi.
Atraksi kesenian dan aneka hiasan dayak juga dimunculkan dalam pesta
perkawinan.
Aktivitas kehidupan masyarakat sendiri seperti sebuah siklus. Usai
panen, biasanya dilangsungkan perkawinan, kemudian berburu dan mendulang
emas untuk mendapatkan modal membuka ladang baru.