---- 

Menyusuri Sungai Segah (5-Habis)

Nenek dan Cuping  

 Dicky Lopulalan

                  Dwi R. Muhtaman

Dua kampung paling ujung di hulu Segah adalah Kampung Long Pai atau
Punan Mahakam dan Long Oking atau Punan Segah. Long Pai dihuni oleh 40
kk Suku Punan yang dikenal pula dengan nama Punan Mahakam karena
kebanyakan dari mereka tinggal di hulu Sungai Mahakam. Tidak ada sejarah
tercatat yang bisa membuka cerita masa lalu kampung ini, kecuali dari
penuturan yang mengatakan para penduduk di tempat itu adalah keturunan
semacam prajurit-prajurit kerajaan Gaai. Jarang dari mereka menanam
padi, sebagian besar mendulang emas, berburu, dan mengumpulkan hasil
hutan, seperti gaharu dan madu. 

Di atas Kampung Punan Mahakam, terdapat Gunung (Bukit) Tip  yang
membelah sungai. Nama tip sendiri di ambil dari kata sempit karena
sungai di dekat gunung yang berupa dinding batu menjulang itu mengalami
penyempitan. Di bagian hulu, ada daerah jeram yang cukup panjang. 

Kampung Long Oking yang biasa juga disebut Punan Segah, karena
kebanyakan orang Punan yang berdiam di tempat ini memang berasal hulu
Segah,  hanya dihuni 18 KK. Sejarah keberadaan orang Punan di Kampung
ini tidak terlalu jelas dan tidak memiliki peninggalan sejarah.
Kebutuhan hidup dipenuhi dengan berburu, mengumpulkan hasil hutan, dan
berlandang ala kadarnya. Di kampung terujung di hulu Sungai Segah juga
membuat kerajinan anjat (tas gendong) dari rotan, yang memang menjadi
kebiasaan dan kebisaan rata-rata orang Punan. 

 

Nenek dan Cuping

Ia duduk bersenda gurau dengan cucu dan anaknya di pintu rumah panggung
itu.  Tidak ada yang mengetahui dengan pasti berapa usianya kini.
Mungkin sudah lebih dari 70 tahun.  Raut mukanya mencatat jejak jalan
yang begitu panjang. Ia mungkin merupakan generasi-generasi terakhir
yang masih menyisakan budaya Dayak: cuping telinganya yang jatuh
memanjang dengan beberapa anting-anting tembaga, dan tato terlukis di
pergelangan tangan dan kaki.  Dan itu  mengatakan bahwa nenek tua itu
dari Dayak Kenyah, suku bangsa yang jauh, suku bangsa yang dalam.

Cuping panjang barangkali adalah sebuah simbol kecantikan yang kini
telah ditanggalkan oleh anak dan cucunya.  Tanpa ia sesali.  Bukankah
sungai yang sama selalu dialiri air yang berbeda, dan gelombang yang
berbeda?  Ia mencoba tersenyum ketika kami datang dan meminta ijin untuk
mengabadikannya.  Mengabadikan sebuah senyum yang tidak ditemukan lagi
nanti. Saya mengajaknya ngobrol tentang sejarah desa dan tentang
kehidupan nenek.  Ia tidak bisa berbahasa Indonesia.  Putrinya menjadi
penerjemah. Dengan segala kesulitan untuk membangun percakapan, akhirnya
ia memutuskan untuk hanya tersenyum, bahkan pada akhirnya kami tertawa.
Sebuah tawa dari dua generasi, dua budaya dan berasal dari dua rumah
yang berbeda.

Meski sudah terletak di sebuah ketinggian dari pinggir sungai,
rumah-rumah di sepanjang sungai itu tetap menunjukkan ciri khasnya:
panggung dengan beberapa tonggak kayu menyangga rumah 1-1,5 meter dari
permukaan tanah.  Termasuk rumah nenek di bawah pintu itu.  Di kolong
rumah dimanfaatkan untuk menyimpan kayu bakar, perabot ladang atau
tempat bagi ternak peliharaan seperti babi, ayam atau anjing.  Seperti
arus sungai di depan rumahnya, kebudayaan juga mengalami pasang surut.
Ketika sebuah kebudayaan tidak mampu lagi beradaptasi dengan lingkungan
sekitarnya, lingkungan di luarnya, maka kebudayaan itu mungkin akan mati
atau menjelma menjadi bentuk kebudayaan lainnya. Seperti cuaca yang
dalam, deep weather.  Ada kegembiraan, tetapi juga kecemasan menyelinap
dalam menyambut sebuah perubahan. Perubahan cuaca atau kebudayaan,
perubahan dalam hidup. 

Sungai Siduung, Sungai  Pampang  Aji Kuning dan Isapan Payau

 

                        Perjalanan menggunakan ketinting menyusuri
Sungai Siduung sama artinya dengan bersantai di alam aneka warna hijau,
hijau muda, hijau tua, hijau pupus, olive green, lime, dark green,
bright dan light green. Seperti pagar-pagarnya, pohon-pohon tengkawang
dan kayu ulin yang menjulang tinggi, bersama pohon kruing dan merbau.
Pagi sampai sore hari, alunan orkestra burung, ratusan monyet bekantan
yang bertengger di pohon, pameran sayap indah kupu-kupu akan jadi menu
harian. Juga, tak jarang muncul kehadiran lutung dewasa yang berwarna
hitam keperak-perakan dan lutung anakan berwarna jingga cerah. Malamnya,
suara serangga, paduan suara ribuan kodok, gemerisik bajing terbang,
rombongan kalong raksasa yang terbang dalam formasi pita panjang, dan
rusa atau payau (Isapan payau dalam bahasa setempat) yang sedang minum
di hutan, adalah sajian bagi mereka yang tidak terburu-buru meninggalkan
tempat itu manakala senja mulai jatuh. Bagi yang memiliki hobi
memancing, tempat ini sangat ideal dijadikan sebagai arenanya karena
berbagai ikan air tawar seperti sapan, gabus, urungan dan lain-lain
terdapat ditempat ini.

Ikan-ikan yang hidup di wilayah ini merupakan perenang-perenang yang
kuat dan kebanyakan mempunyai tubuh yang langsing. Jenis-jenis lainnya,
sebangsa ikan serowot Cobitidae yang berbentuk pipih, menggunakan
sebagian besar waktunya di dasar  sungai, hidup di antara batu-batuan,
dan pada umumnya menghindari arus yang terkuat. Matanya terletak dekat
permukaan punggung dan mulutnya terletak di bagian bawah tubuh untuk
mengais makanan di dasar sungai. Banyak di antaranya memiliki gelembung
renang yang tereduksi untuk mengurangi daya apungnnya. Sejumlah ikan
mengembangkan alat penghisap untuk melekat pada batu-batuan, misalnya
ikan selusur Gastromyzon borneensis yang bahkan dapat mempertahankan
pegangannya di  dalam riam yang mengalir cepat, di tempat ikan tersebut
bergerak perlahan-lahan di atas batuan untuk menyenggut ganggang.

 

 

 

 

Kirim email ke