Cerita ini cukup menyentuh hati.....namun menurut saya harus diteliti
juga apakah memang harga kambing dimaksud benar-benar mencerminkan harga
yang "wajar". Terkadang di lapangan saya perhatikan harga hewan korban
sangat tidak wajar diakibatkan adanya "permainan" harga atau hal apapun
yang intinya adalah untuk meraup keuntungan yang sebesar-besarnya
padahal sudah jelas pembelian hewan korban adalah dimaksudkan untuk
ibadah dan bukan untuk kepentingan lain. Hal ini tercermin dari harga
hewan korban yang begitu mahal namun menjelang atau sesudah sholat idhul
adha maka harga hewan korban bisa turun jauh sekali. Padahal kalau saja
harga hewan korban yang ditetapkan itu wajar saya yakin hal ini tidak
akan terjadi.

Seringkali saya dengar dalam majelis-majelis taklim dikumandangkan bahwa
umat muslim yang mampu disarankan untuk berkurban setiap tahunnya
(walaupun hanya satu kali yang diwajibkan) bahkan ada yang berpendapat
haram hukumnya apabila menawar harga hewan korban (padahal setahu saya
dalam jual beli menurut islam, tawar menawar itu diperbolehkan) namun
saya tidak pernah mendengar adanya anjuran yang pada prinsipnya meminta
agar umat muslim yang terkait dengan pengadaan hewan korban (peternak,
tengkulak, bandar, pedagang, tramtib dan spekulan) untuk bersama-sama
membantu agar ibadah ini bisa dilaksanakan dengan sukses oleh umat islam
(khususnya yang penghasilannya pas-pasan namun memiliki niat untuk
ber-qurban) misalnya mengambil keuntungan atau pungutan yang wajar,
tidak menghalangi supply hewan korban dan lain-lain. Dengan harga jual
hewan korban bisa ditekan sedemikian rupa maka akan dapat membuat
semakin banyak umat islam yang bisa melaksanakan ibadah ini.  

Intinya jangan sampai ada anggapan terdapat pihak-pihak yang mengambil
keuntungan yang berlipat dari adanya ibadah ini (dan jangan sampai
pemerintah mengambilalih masalah ini dan menetapkan diperlukan adanya
Tata Niaga Hewan Korban) 

Menyimak cerita tadi kalo saja harga kambing tersebut bisa ditekan
sampai separuhnya tentunya mbah sutrimo bisa juga membeli kambing korban
untuk satu orang keluarganya.

Mohon maaf apabila ada pihak-pihak yang tidak berkenan atas pendapat
saya ini.....      

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Daryono
Sent: Tuesday, November 27, 2007 11:32 AM
To: [email protected]
Subject: RE: [exbe2de] FW: Idul Adha

 

Hebat Mar..., bener222 menyentuh ! Tks

 

        -----Original Message-----
        From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of Maryanto Sandy
        Sent: 27 Nopember 2007 11:11
        To: [email protected]
        Subject: [exbe2de] FW: Idul Adha

        Kiriman dari seorang Sahabat, agak panjang namun cukup
menyentuh...........

        Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan
Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku,
dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu
sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu
berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut
menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul
Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak
dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

        Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi
memilih hewan yang akan disembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju
pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar
melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

        "Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk kambing
coklat tersebut.

        "Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta
rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling
sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

        "Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

        "Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal" si
pedagang bertahan.

        "Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran pertama.

        "Maaf pak, masih jauh. " ujarnya cuek.

        Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran
terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan
harganya.

        "Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?"
kataku.

        "Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek.

        "Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut
naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

        "Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa
datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil
bahan bakarnya bukan rumput" kata si pedagang meledek.

        Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak
menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi.
Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si
coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari
tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti
ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan
tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

        "Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku
kemudian.

        "Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu
rupiah" katanya.

        Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek
menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian
"korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

        "Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya kagum.

        "Dua juta tidak kurang tidak lebih kek" kata si pedagang
setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

        "Weleh larang men regane (mahal benar harganya)?" kata si kakek
dalam bahasa Purwokertoan.

        "bisa di tawar-kan ya mas?" lanjutnya mencoba negosiasi juga.

        "Cari kambing yang lain aja kek." si pedagang terlihat semakin
malas meladeni.

        "Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun
iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini) Duite
(uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas" katanya tetap bersemangat
seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain
perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang
seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan
dari dalamnya.

        "Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke
rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

        Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang
memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si
pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya
perlahan lembar demi lembar uang itu.

        "Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang
mengeluarkan selembar lima puluh ribuan.

        "Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos kirimnya ya?)
si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih.

        "Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yang cukup
jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek.

        "Mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek berubah
menjadi mbah).

        "Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh
(bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya " tulung anterke
ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene
ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae
umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir
Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah
tahu)". Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di
sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di
sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku.
Perlahan diangkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap
dengan semangat.

        Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya
berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan
pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan
Qurban yang terbaik untuk dirinya.

        Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima
setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid
Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata
penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan
pegawai rendahan. Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding
penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing, yang sanggup
membeli rumah di kawasan cukup bergengsi, yang sanggup membeli kendaraan
roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega
Super, yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan
memilikinya, yang sanggup mengkoleksi "raket" hanya untuk olah-raga
seminggu sekali, yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi
sekaligus. Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan
Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari
service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk
kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

        "Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia,
balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang
pandai menSyukuri nikmatMu.

         - Semoga bermanfaat - 

 

Kirim email ke