Mbak Dari,  maksudnya bisa seperti kakek itu..yang mana..?? beli
kambingnya atau jadi pensiunannya???

 

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Siti Zaidari
Sent: Tuesday, November 27, 2007 12:09 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [exbe2de] FW: Idul Adha

 

Cerita yang luar biasa...............Bisa ga kita spt si kakek?????
Insya Allah, bisa

        -----Original Message-----
        From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Behalf Of Daryono
        Sent: 27 Nopember 2007 11:32
        To: [email protected]
        Subject: RE: [exbe2de] FW: Idul Adha

        Hebat Mar..., bener222 menyentuh ! Tks

         

                -----Original Message-----
                From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] Behalf Of Maryanto Sandy
                Sent: 27 Nopember 2007 11:11
                To: [email protected]
                Subject: [exbe2de] FW: Idul Adha

                Kiriman dari seorang Sahabat, agak panjang namun cukup
menyentuh...........

                Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan
hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga
hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di
tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga
ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut
menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul
Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak
dini tentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

                Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang
bertransaksi memilih hewan yang akan disembelih saat Qurban nanti.
Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran
badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

                "Berapa harga kambing yang itu pak?" ujarku menunjuk
kambing coklat tersebut.

                "Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super
dua juta rupiah tidak kurang" kata si pedagang berpromosi matanya
berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

                "Tidak bisa turun pak?" kataku mencoba bernegosiasi.

                "Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba
mahal" si pedagang bertahan.

                "Satu juta lima ratus ribu ya?" aku melakukan penawaran
pertama.

                "Maaf pak, masih jauh. " ujarnya cuek.

                Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan
penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan
menurunkan harganya.

                "Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima
puluh ribu?" kataku.

                "Masih belum nutup pak " ujarnya tetap cuek.

                "Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing
ikut naik?" ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

                "Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia
gak bisa datang ke sini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak,
dan mobil bahan bakarnya bukan rumput" kata si pedagang meledek.

                Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini.
Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi.
Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si
coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari
tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti
ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan
tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

                "Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?" kataku
kemudian.

                "Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima
puluh ribu rupiah" katanya.

                Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang
kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian
"korpri" yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

                "Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?" katanya
kagum.

                "Dua juta tidak kurang tidak lebih kek" kata si pedagang
setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

                "Weleh larang men regane (mahal benar harganya)?" kata
si kakek dalam bahasa Purwokertoan.

                "bisa di tawar-kan ya mas?" lanjutnya mencoba negosiasi
juga.

                "Cari kambing yang lain aja kek." si pedagang terlihat
semakin malas meladeni.

                "Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah
Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)
Duite (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas" katanya tetap
bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan
dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar
uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan
dikeluarkan dari dalamnya.

                "Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya)
dianter ke rumah ya mas?" lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

                Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang
memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si
pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya
perlahan lembar demi lembar uang itu.

                "Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah" si pedagang
mengeluarkan selembar lima puluh ribuan.

                "Ora ono ongkos kirime tho...?" (Enggak ada ongkos
kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih.

                "Dua juta sudah termasuk ongkos kirim" si pedagang yang
cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek.

                "Mau di antar ke mana mbah?" (tiba-tiba panggilan kakek
berubah menjadi mbah).

                "Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di
tabung neh (bisa ditabung lagi)" kata si kakek sambil menerimanya "
tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu
ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid
Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo
pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti
(InsyaAllah anak-anak sudah tahu)". Setelah selesai bertransaksi dan
membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah
sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari
X-Trail milikku. Perlahan diangkat dari sandaran, kemudian dengan sigap
di kayuhnya tetap dengan semangat.

                Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu,
semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua
pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup
membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya.

                Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang
diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid
Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata
penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan
pegawai rendahan. Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding
penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing, yang sanggup
membeli rumah di kawasan cukup bergengsi, yang sanggup membeli kendaraan
roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega
Super, yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan
memilikinya, yang sanggup mengkoleksi "raket" hanya untuk olah-raga
seminggu sekali, yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi
sekaligus. Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan
Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari
service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk
kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

                "Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati
manusia, balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah
orang yang pandai menSyukuri nikmatMu.

                 - Semoga bermanfaat - 

 

Kirim email ke