Koran <http://202.155.15.208/koran.asp>   ยป Berita Utama
<http://202.155.15.208/koran.asp?kat_id=3>            
[http://202.155.15.208/images/icon/icoEmail.gif] Sampaikan kepada rekan 
[http://202.155.15.208/images/icon/icoPrinter.gif] Cetak berita ini 
Minggu, 06 Januari 2008

Rahasia Umur Panjang




Meski bertubuh pendek, orang Jepang berumur panjang. Sebut saja nama
Okinawa. Provinsi di utara Tokyo ini adalah surga manusia lanjut usia.
Ketika Prof Hardiansyah melakukan riset di Okinawa 20 tahun silam, ia
menemukan banyak penduduk berusia 140 tahun di situ. Bahkan, kata dekan
Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) itu,''Ada yang
sampai 160 tahun,''.

Jepang adalah sebuah fenomena. Satu dasawarsa sebelum Perang Dunia II,
usia harapan hidup (UHH) orang Jepang hanya 45 tahun. Tapi kini,
rata-rata penduduk Jepang meninggal pada usia 82,4 tahun -- UHH
tertinggi di dunia. Jepang melampaui semua negara Barat soal UHH,
termasuk Amerika Serikat (AS), negeri yang menaklukkannya pada Perang
Dunia II. Bagaimana dengan Indonesia? Penduduk negeri ini hidup lebih
sebentar ketimbang warga Jepang, yakni hingga usia rata-rata 70,9 tahun.
(lihat table).

Sukses orang-orang Jepang adalah sebuah pesan yang tegas : siapa pun
berpeluang meningkatkan usia harapan hidupnya. Pakar andrologi dari
Universitas Udayana Denpasar, Prof Dr dr Alex Pangkahila SpAnd MSc,
menilai umur panjang bisa 'direkayasa'. Caranya, kata dia, dengan
melakukan pola hidup sehat. Pola hidup, sambung Alex,''Berpengaruh
sekitar 64 persen terhadap umur manusia. Selebihnya adalah faktor
penyakit, lingkungan dan genetika,''.

Tak syak lagi, pola hidup yang utama adalah pola makan. Dalam risetnya
dua dasawarsa silam, Prof Hardinsyah menemukan pola makan unik yang
dilakoni penduduk Okinawa. ''Warga di sana tak mengenal kata gorengan,''
kata ketua umum Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan Indonesia. Semua
pangan dimasak dengan cara direbus, dikukus, atau dibakar. Inilah
rahasia umur panjang penduduk Okinawa : pola makan bebas lemak .

Seperti mengamalkan slogan back to nature, penduduk Okinawa amat doyan
sayuran dan umbi-umbian. Mereka memetik sendiri sayuran di depan
rumahnya sebagai makanan sehari-hari. Sayuran-sayuran ini tanpa
pestisida. Adapun sumber pangan utama adalah ubi merah, tanaman lokal
yang tumbuh subur di daerah tersebut. Sebagai menu tambahan, penduduk
Okinawa menyantap ikan laut, rumput laut, dan buah paria. Tak ada junk
food. Tak ada produk makanan olahan dalam kaleng.

Toh, ini adalah resep universal. Apih Tajidin, yang terpisah jarak
ribuan kilometer dari Okinawa, sudah melakoni pola makan serba alami dan
tanpa lemak selama delapan dasawarsa. Warga desa Pakenjeng, Kecamatan
Bungbulang, Kabupaten Garut, itu menuai hasilnya kini : usianya
terhitung panjang, 88 tahun, dan badannya pun masih tampak perkasa.

Apih perkasa dalam arti sesungguhnya. Saban hari usai beduk subuh, kakek
11 anak itu sudah bergegas berangkat ke sawah untuk mencangkul hingga
matahari tegak di atas kepala. Yang menyamakan Apih dengan penduduk
Okinawa adalah ia pantang melahap makanan berlemak. Apih mengaku cuma
makan daging-dagingan saat hari-hari besar saja. Apih juga fanatik
terhadap terhadap sayur-sayuran alami. Ia memetik hasil bumi seperti
ketimun, tomat, daun katuk, atau terong sebelum menyantap makan siang
kiriman istrinya. Sayur-sayuran ini, kata dia,''Bisa membikin awet
muda,'' ia tertawa.

Soal pola makan, tak diragukan lagi jika penduduk Okinawa amat pintar
merawat lambung. Empat belas abad lalu Nabi Muhammad SAW mengajarkan
'berhentilah makan sebelum kenyang', dan warga Okinawa punya filosofi
yang kurang lebih serupa : makan hanya 8/10 kenyang. Hara hachi bu! Ini
satu lagi resep rahasia umur panjang para lansia Okinawa.

Lambung manusia, menurut Hardinsyah, terdiri atas 1/3 ruang udara, 1/3
ruang air, dan 1/3 ruang makanan. Kalau jumlah makanan melabrak
ruang-ruang lainnya,''Itu sama saja mengajak lambung bekerja lebih
keras,'' tuturnya.

Ketelatenan R H Abdulah (84 tahun) merawat lambung membuahkan bonus umur
baginya. Sejak kecil, warga Kecamatan Sukalarang, Kabupaten Sukabumi,
ini mengaku amat jarang bersantap hingga kekenyangan. Malah, sejak
bangku setingkat SMP pada 1930-an, Abdulah hingga kini tak pernah alpa
puasa Senin dan Kamis. Hasilnya? Tubuh dia selalu bugar. ''Saya enggak
pernah sakit keras,'' tutur pria yang kerap naik turun bus antarkota
sendiri.

Toh, pola makan yang sehat bukanlah segala-galanya. Rahasia umur panjang
ternyata tak hanya terletak di lambung, tetapi juga di dada. ''Perlu
gaya hidup dan sikap mental positif agar kita panjang usia,'' tutur
konsultan geriatri RS Dr Sardjito/FK UGM dr Probosuseno, SpPD-Kger. Nah,
salah satu sikap positif yang wajib dimiliki adalah ikhlas. Berserah
diri kepada Tuhan, bersyukur jika mendapatkan yang diinginkan, bersabar
jika tak memperoleh yang diimpikan. Inilah pil paling mujarab untuk
melawan stres.

Sikap ikhlas mengejewantah pada diri Adung Arba (91 tahun) dengan amat
sederhana. Warga Sindangjaya, Mandalajati, Bandung, ini sudah cukup
terlatih untuk memandang enteng peristiwa getir. Semua masalah dibuatnya
ringan. Bahkan soal kematian pun bisa diobrolkan sembari ngopi.

Ketika Republika menemuinya, Rabu (3/1), Adung memberi oleh-oleh
sepotong cerita. ''Saya pernah mendengar kisah bahwa di akhir zaman ini
akan turun dajjal. Padahal, yang benar turun adalah bujal (pusar,red),
karena sekarang banyak wanita pakai rok mini,'' ungkap kakek 27 cucu dan
sembilan buyut itu sembari terkekeh. Itulah resep hidup Arba yang
membuatnya tetap bugar di usia senja. n ind/ren/nri/aas/imy

Source: http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=318955&kat_id=3
<http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=318955&kat_id=3>

Kirim email ke