Saya forward-kan dari milis tetangga .......................

 

Jawa Pos, 25 Maret 2007
Tidak banyak mahasiswa yang mempunyai kesempatan
seperti Dwi Susanto, salah seorang wisudawan terbaik
ITS. Dia berhasil mewujudkan cita-citanya setelah
bertemu Mimi Coy Anzel, warga AS. Kemarin, mahasiswa
teknologi informasi Diploma III Politeknik Elektronika
Negeri Surabaya (PENS) ITS itu diwisuda disaksikan ibu
angkatnya itu

Suasana haru terlihat saat Dwi Susanto bertemu dengan
Mimi Coy Anzel, ibu angkatnya yang berkewaraganegaraan
Amerika Serikat dalam acara wisuda di Graha ITS
kemarin. Senyum mengembang di bibir mereka.

Ucapan terima kasih tak henti-hentinya terucap dari
mulut Dwi, panggilan akrab Dwi Susanto. Mimi pun
membalasnya dengan pelukan hangat dan sebuah tepukan
bangga di punggung pemuda 23 tahun itu. Terlihat jelas
bahwa wanita 50 tahun itu begitu bangga pada Dwi.

Suasana semakin haru kala Amirah, ibu kandung Dwi
Susanto datang menghampiri keduanya. Dengan mata
berkaca-kaca, wanita paruh baya itu merangsek dan
memeluk Mimi. Isak tangis keduanya langsung terdengar.
Mimi memeluk Amirah dengan erat dan menenangkannya.
Setelah sedikit tenang, Amirah pun menggenggam tangan
Mimi dengan erat seraya mengucapkan terima kasih
kepada ibu angkat Dwi itu, yang langsung diterjemahkan
anaknya dalam bahasa Inggris. Mimi pun tersenyum
hangat dan membalas genggaman Amirah.

Pemandangan mengharukan di ruang Argopuro, Graha ITS,
itu tentu saja menyedot perhatian wisudawan lain dan
keluarganya. Tak terkecuali para dosen Dwi yang
kemudian ikut bergabung dan menyalami Mimi serta
Amirah. "O... ini ibu angkat Dwi ya," ujar Iwan
Syarif, ketua Jurusan Teknologi Informasi, PENS-ITS.

Setelah acara tangis-tangisan itu, suasana pun berubah
jadi suka cita. Mimi tak henti-hentinya memperhatikan
anak angkatnya yang masih mengenakan toga wisudawan
tersebut. Ekspresinya begitu bangga melihat Dwi
akhirnya sukses menyelesaikan studi dengan cumlaude.

"Sejak bertemu dengan dia, saya yakin Dwi anak baik
dan punya motivasi yang besar untuk maju. Dan dia
telah membuktikan hari ini. Saya sangat bangga menjadi
ibu angkatnya," kesan Mimi yang kemarin secara khusus
datang ke Surabaya untuk menghadiri wisuda anak
angkatnya itu.

Dwi Susanto adalah mahasiswa ITS asal Ponorogo.
Niatnya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi
hampir kandas kalau saja dia tidak bertemu Mimi Coy
Anzel, yang kemudian menjadi ibu angkatnya dan
bersedia membiayai kuliahnya. Dwi memang berasal dari
keluarga tidak mampu. Sehari-hari keluarganya hidup
pas-pasan. "Saya tidak membayangkan akhirnya bisa
kuliah dan bahkan diwisuda di kampus hebat ini. Ayah
saya hanya petani yang penghasilannya hanya cukup
untuk makan sehari-hari," ujarnya.

Paham dengan kondisi ekonomi keluarganya yang
pas-pasan itu Dwi memutuskan untuk melanjutkan sekolah
di sebuah sekolah menengah kejuruan (SMK), dengan
harapan dapat langsung bekerja setelah lulus dari
sana. "Untuk mengembangkan kemampuan, setiap sore saya
kursus bahasa Inggris di Elite English School," ujar
bungsu dari lima bersaudara itu.

Tak dinyana, melalui salah satu program tempat
kursusnya itulah Dwi bertemu dengan Mimi Coy Anzel.
Lembaga kursus itu mempunyai kurikulum praktik
lapangan bagi siswanya setiap 6 bulan sekali. Daerah
study tour yang dipilih kala itu, tahun 2002, adalah
Jogjakarta. Dwi dan siswa lainnya diwajibkan
mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggrisnya dengan
berkomunikasi langsung dengan turis asing yang
ditemuinya di lapangan.

Saat itu Dwi bertemu Mimi yang sedang menikmati
keindahan Keraton Jogjakarta. Dia memperkenalkan diri
sekaligus menyodorkan form percakapan yang harus diisi
Mimi dan dinilai langsung olehnya. "Awalnya saya
kaget, tapi lalu terkesan dengan keluguannya," tutur
Mimi.

Pertemuan itu berlanjut. Mimi pun turut naik ke dalam
bus yang ditumpangi Dwi beserta teman-teman kursusnya.
Dalam perjalanan selama dua jam mengelilingi
Jogjakarta itu Mimi duduk bersebelahan dengan Dwi.
"Satu yang saya ingat, dia sangat jujur. Dalam
pembicaraan itu dia mengatakan terus terang bahwa dia
sangat menyukai orang Amerika karena mereka terbuka,
namun dia tidak menyukai George Bush Jr. Hal yang
tidak banyak orang mau mengungkapkannya," kenang Mimi.
Kesan yang mendalam itu terekam terus dalam benak
wanita yang belum lama ini suaminya meninggal dunia.

Meski akhirnya berpisah, komunikasi antara Dwi dan
Mimi terus berlangsung melalui e-mail. Setiap minggu
mereka bertukar pikiran dan menceritakan kehidupan
masing-masing. Kedekatan itu terus berlanjut hingga
akhirnya Mimi memutuskan untuk kembali ke Indonesia
dan mengunjungi kampung halaman Dwi di Ponorogo, pada
2004.

Dalam pertemuan itu mereka saling bertukar pikiran.
Dwi bercerita pada Mimi bahwa dia telah menjual
beberapa kambingnya untuk membeli formulir pendaftaran
mahasiswa baru di ITS. Dwi juga mengatakan bahwa
sebenarnya dia telah lulus ujian masuk dan berhak
melanjutkan kuliah di salah satu kampus terkemuka di
Indonesia itu, namun dia tidak mempunyai dana untuk
itu.

Mimi sempat tertegun mendengar penuturan Dwi. Dia lalu
menanyakan jumlah biaya yang dibutuhkan Dwi untuk
mewujudkan cita-citanya itu. Setelah dikalkulasi, Mimi
pun menyanggupi untuk membiayai seluruh ongkos kuliah
Dwi. "Saya gembira sekali mendengar kesanggupan Mimi
kala itu. Rasanya bagai mendapat durian runtuh,"
kenang Dwi.

Keesokan harinya Mimi dan Dwi langsung berangkat ke
Surabaya. Mereka mengecek apa saja kebutuhan Dwi
selama tinggal di Surabaya untuk studi. Setelah
memastikan Dwi dapat tinggal dan belajar dengan
tenang, barulah Mimi kembali ke Amerika Serikat.

Alumnus SMK Negeri I Jenangan, Ponorogo, itu tidak mau
menyia-nyiakan kebaikan ibu angkatnya itu. Dia terus
belajar dengan tekun. Bahkan tidak jarang harus
menginap di laboratorium untuk menyelesaikan tugasnya.
Setiap semester dia selalu mengirimkan daftar nilainya
kepada Mimi di AS. Dengan harapan ibu angkatnya itu
biar tahu perkembangan kuliah Dwi. "Saya tidak ingin
mengecewakannya," ungkap Dwi.

Kerja keras Dwi membuahkan hasil. Kemarin dia
dikukuhkan sebagai salah satu wisudawan ITS yang
meraih predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi
Kumulatif (IPK) 3,63. Suatu prestasi yang membanggakan
Sukirman dan Amirah, orang tua kandungnya, serta Mimi,
orang tua angkatnya.

Ketika Dwi memberi kabar bahwa dia akan diwisuda, Mimi
yang sudah tiga bulan ini bekerja di Bunda Maria
School Jakarta langsung menyatakan kesediannya untuk
datang dan menyaksikan anak angkatnya itu mengenakan
toga wisuda. "Saya sangat rindu dia. Saya ingin
melihatnya mencapai kesuksesan dalam hidupnya," ujar
Mimi yang sudah tiga tahun tidak bertemu Dwi.

Saat ditanya alasannya membantu Dwi, Mimi menjelaskan
bahwa dia terinspirasi Pramoedya Ananta Toer. Menurut
dia, Pramoedya adalah salah seorang pengarang yang
berhasil mendobrak dunia meskipun berasal dari
keluarga tidak mampu. Dia ingin Dwi mengikuti jejak
idolanya itu. "Pram adalah tokoh yang pantas
diteladani," ucap Mimi.

Mimi tidak ingin Dwi membalas jasa yang telah diterima
dari dirinya selama ini. Namun dia ingin Dwi
meneruskan apa yang telah dirintisnya. "Saya berharap
kelak akan ada Dwi-Dwi lain yang bakal terbantu oleh
Dwi, anakku," pesan Mimi. (*)

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger
<http://uk.messenger.yahoo.com> .yahoo.com 

 

Kirim email ke