Menurut guyonan saya, kenapa Munarman berubah mungkin karena,
1, Keracunan,  pada saat nyanyi Madu dan Racun suaranya 
dikeras-kerasin dan dengan 
    mata melotot, persis seperti saat dia press conference 
didepan wartawan , walaupun
    pales dan salah, bukannya Madu ditangan kananku, tapi 
dia bila "Racun ditangan 
    Kananku, Madu ditangan Kiriku (bukan Kirikku)....lha salah 
tha?
2. Frustasi karena dia tidak bisa Korupsi, lha wong lembaga atau tempat dia 
bekerja tidak 
    ada yang bisa dikorupsi,
3. Nggak punya duit utk naik taksi, kebiasaan naik Ojek, sehingga sewaktu 
serempetan
    dgn taksi dia ngamuk sama sopir taksinya (memang supir taksi 
sering gendeng juga),
4. Masa kecil tidak bahagia, buktinya sekarang sedang bermain petak umpet 
dengan 
    polisi, mungkin sewaktu kecil nggak sempat main begituan.
5. Mau Bikin Kejutan, membuat blue energy seperti pak Djoko dari Nganjuk, yang
    menciptakan air jadi bahan bakar...belakangan menghilang 
sebentar mungkin karena 
    gagal. Nah kalau si Munarman ngumpet duluan, nanti 
muncul dan tiba tiba bisa bikin air
    jeruk (orange energy) jadi bahan bakar, bersih, tidak 
bau dan tidak bikin polusi, segar 
    lagi ...ssssiapa tataahu berhasil dan negara bisa menghemat 
BBM. 
    Sehingga tidak ada demo kenaikan BBM lagi dan tidak ada 
tangkap2an lagi.
    Damai di Bumi.
 
Sekedar catatan,
Kalau melihat rekaman di Monas tgl 1 Juni 2008, menurut saya cuma satu yang 
disayangkan, kenapa taman yang apik, asri, cuantik, segar di 
injek..injek...sama wong gendeng, lha dikira apa rumput, nggak bisa ngebedain 
suket karo kembang....buta matanya karena emosi..taman itu kan dibuat dengan 
uang rakyat...eh dirusak sendiri...eman tenan...wis wis wis.
 


--- On Fri, 6/6/08, Indiah Marsaban <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Indiah Marsaban <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [exbe2de] Surat untuk Munarman
To: [email protected]
Date: Friday, 6 June, 2008, 11:33 PM






Dari milis tetangga:

Surat untuk Munarman
Dari Havel dan Kafka,

Assalamualaikum,

Munarman, apa kabar? Saya dengar, polisi sedang mencari Anda.
Mudah-mudahan sehat selalu. Jaga fisik senantiasa. Bukankah itu modal
utama Anda belakangan ini?! Hal yang Anda sebut "perjuangan" mungkin masih
akan panjang.

Nah, soal catatan kiprah Anda di ranah publik, agaknya belum cukup
panjang. Saya ingat bahwa Anda pernah menjadi Koordinator Komisi untuk
Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras). Anda menggantikan almarhum
Munir, yang kemudian juga menjadi korban para durjana. Anda sendiri
memasuki lingkungan LSM sejak 1995 saat menjadi relawan di LBH Palembang.

Lepas dari lingkungan LSM hukum, belakangan Anda bergabung dengan
Hizbut Tahrir Indonesia-sebuah organisasi massa yang relatif jauh dari
praktik kekerasan. Tapi, Ahad lalu, saya lihat Anda memimpin segerombolan
orang yang dengan bersemangat menghajar sekelompok orang. Tak ada
perlawanan sama sekali dari pihak yang diserang. Darah bercucuran dari
kepala. Wajah yang bengap. Tulang hidung yang patah. Seorang perempuan
menderita gegar otak. Ya, seorang perempuan-kaum yang melahirkan kita.

Munarman, saya masih ingat, Anda pernah menjadi Koordinator Kontras. Kini,
Anda menjelma pelaku kekerasan. Sungguh kontras. Sungguh saya dibelit rasa
penasaran, "guncangan besar" apa yang membikin Anda bersalin watak?

Tak lama setelah insiden Monas, Anda berujar, "Kenapa mereka mengadakan
aksi untuk mendukung organisasi kriminal? AKKBB juga memasang iklan di
koran untuk mendukung Ahmadiyah. Itu artinya mereka menantang kami lebih
dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang."

Bung, setahu saya, Anda adalah seorang sarjana hukum. Bahkan, pernah
memimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Dengan luncuran
kata-kata itu, saya kira Anda telah menaruh hukum sebagai keset, yang
setiap saat Anda injak-injak, Anda rendahkan. Jika ada yang bersuara lain,
itu Anda anggap sebagai ajakan berperang. Lalu, Anda pun menyerbu dengan
pentungan dan tinju. Sejak kapan hukum mengenal modus penyelesaian perkara
seperti itu?

Ah, soal penyelesaian perkara, saya jadi ingat satu hal. Pada 2007, Anda
terjerat kasus hukum ecek-ecek. Mobil Anda diserempet taksi Blue Bird di
kawasan Limo, Depok. Lalu, Anda menempuh cara ini: merampas kunci mobil,
SIM pengemudi, dan STNK taksi tersebut. Kabarnya, Kejaksaan Negeri Depok
menyatakan kasus ini siap disidangkan. Tapi, saya tak pernah mendengar
kelanjutannya.

Di hari-hari ini, Anda agaknya sulit lolos. Aparat hukum sudah mengincar.
Banyak kalangan juga mengharapkan Anda diadili. Harapan mereka: hukum
ditegakkan sehingga republik ini masih layak huni, ditinggali secara
beradab bin manusiawi.

Akhir kata, sejak kemarin, beredar foto Anda sedang mencekik seseorang.
Tapi, Anda berkilah justru sedang menghalau seorang anggota Laskar Islam
agar tak anarkis. Oke.oke.

Lalu, Anda melanjutkan, akan menyeret sejumlah media yang memajang foto
itu ke polisi. TEMPO secara khusus Anda sebut. Yang mengagetkan, termuat
di portal-portal berita hari ini, Anda menyeru agar Goenawan Mohamad,
jurnalis senior dan pendiri TEMPO, untuk bersujud dan meminta maaf pada
Anda. Bersujud?

Munarman, jangan terlalu lama mengistirahatkan akal sehat.

Wassalam.

preman-preman itu.
Havel dan Kafka,
Insiden itu tak bisa diterima. Harus dikutuk. Dikecam
sekeras-kerasnya. Dan, aparat hukum mesti bertindak. Sama sekali tak ada
hak buat Front Pembela Islam (FPI) dan konco-konconya untuk membubarkan
acara Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB)
di Lapangan Monas tersebut. Kebrutalan mereka, sekali lagi, mencoreng nama
Islam.

Anak-anakku, jika mereka terus dibiarkan, aku sungguh khawatir
dengan nasib republik ini, republik yang juga menjadi tempat kalian tumbuh
ini.

 













Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke