pak prie...

menyimak pidato tante hillary ketika menyatakan exit dari capres kok
membuat saya merinding (halah kayak ngerti aja apa yang diomongin)... ya
mangga dipirsani sendiri di sini  (youtube)
<http://www.youtube.com/watch?v=Lm5hQDFfRvA>   ooo.. begitu tooo cara
berdemokrasi dan menyikapi perbedaan itu..


padahal sebelumnya, seperti apa gigihnya perjuangan tante hillary ini
ketika masih adu dukungan dengan mas obama (temennya uda ronie tuh)...

kaya yang ada  di sini nih (youtube)
<http://www.youtube.com/watch?v=ZAu39I5QOUc>   he,he,he...

kalo di sini kok beda banget, mungkin udah "jothakan" sampek kalo yang
satu dateng ke kondangan atau sripahan, yang lain pilih nggak dateng
dengan alasan berobat ke luar negeri..
kalo begini terus kapan majunya...

salam berubah...




--- In [email protected], PRIANTO TIRTOPRODJO <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Menurut guyonan saya, kenapa Munarman berubah mungkin karena,
> 1, Keracunan,&nbsp; pada saat nyanyi Madu dan Racun&nbsp;suaranya
dikeras-kerasin&nbsp;dan dengan
> &nbsp;&nbsp;&nbsp; mata melotot, persis&nbsp;seperti saat dia press
conference didepan wartawan , walaupun
> &nbsp;&nbsp; &nbsp;pales dan salah,&nbsp;bukannya Madu ditangan
kananku, tapi dia bila "Racun ditangan
> &nbsp;&nbsp;&nbsp; Kananku, Madu ditangan Kiriku (bukan
Kirikku)....lha salah tha?
> 2. Frustasi karena dia tidak bisa Korupsi, lha wong lembaga atau
tempat dia bekerja tidak
> &nbsp;&nbsp;&nbsp; ada yang bisa dikorupsi,
> 3. Nggak punya duit utk naik taksi, kebiasaan naik Ojek, sehingga
sewaktu serempetan
> &nbsp;&nbsp; &nbsp;dgn taksi dia ngamuk sama sopir taksinya (memang
supir taksi sering gendeng juga),
> 4. Masa kecil tidak bahagia, buktinya sekarang sedang bermain petak
umpet dengan
> &nbsp;&nbsp;&nbsp; polisi, mungkin sewaktu kecil nggak sempat main
begituan.
> 5. Mau Bikin Kejutan, membuat blue energy seperti pak Djoko dari
Nganjuk, yang
> &nbsp;&nbsp; &nbsp;menciptakan air jadi bahan bakar...belakangan
menghilang sebentar mungkin karena
> &nbsp;&nbsp;&nbsp; gagal.&nbsp;Nah kalau si Munarman ngumpet duluan,
nanti muncul dan tiba tiba bisa&nbsp;bikin air
> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;jeruk (orange energy) jadi bahan bakar,
bersih, tidak bau dan tidak bikin polusi, segar
> &nbsp;&nbsp;&nbsp; lagi ...ssssiapa tataahu berhasil dan negara bisa
menghemat BBM.
> &nbsp;&nbsp;&nbsp; Sehingga tidak ada demo kenaikan BBM lagi dan tidak
ada tangkap2an lagi.
> &nbsp;&nbsp;&nbsp; Damai di Bumi.
> &nbsp;
> Sekedar catatan,
> Kalau melihat rekaman di Monas tgl 1 Juni 2008, menurut saya cuma satu
yang disayangkan, kenapa taman yang apik, asri, cuantik, segar di
injek..injek...sama wong gendeng, lha dikira apa rumput, nggak bisa
ngebedain suket karo kembang....buta matanya karena emosi..taman itu kan
dibuat dengan uang rakyat...eh dirusak sendiri...eman tenan...wis wis
wis.
> &nbsp;
>
>
> --- On Fri, 6/6/08, Indiah Marsaban &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt; wrote:
>
> From: Indiah Marsaban &lt;[EMAIL PROTECTED]&gt;
> Subject: [exbe2de] Surat untuk Munarman
> To: [email protected]
> Date: Friday, 6 June, 2008, 11:33 PM
>
>
>
>
>
>
> Dari milis tetangga:
>
> Surat untuk Munarman
> Dari Havel dan Kafka,
>
> Assalamualaikum,
>
> Munarman, apa kabar? Saya dengar, polisi sedang mencari Anda.
> Mudah-mudahan sehat selalu. Jaga fisik senantiasa. Bukankah itu modal
> utama Anda belakangan ini?! Hal yang Anda sebut "perjuangan" mungkin
masih
> akan panjang.
>
> Nah, soal catatan kiprah Anda di ranah publik, agaknya belum cukup
> panjang. Saya ingat bahwa Anda pernah menjadi Koordinator Komisi untuk
> Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras). Anda menggantikan
almarhum
> Munir, yang kemudian juga menjadi korban para durjana. Anda sendiri
> memasuki lingkungan LSM sejak 1995 saat menjadi relawan di LBH
Palembang.
>
> Lepas dari lingkungan LSM hukum, belakangan Anda bergabung dengan
> Hizbut Tahrir Indonesia-sebuah organisasi massa yang relatif jauh dari
> praktik kekerasan. Tapi, Ahad lalu, saya lihat Anda memimpin
segerombolan
> orang yang dengan bersemangat menghajar sekelompok orang. Tak ada
> perlawanan sama sekali dari pihak yang diserang. Darah bercucuran dari
> kepala. Wajah yang bengap. Tulang hidung yang patah. Seorang perempuan
> menderita gegar otak. Ya, seorang perempuan-kaum yang melahirkan kita.
>
> Munarman, saya masih ingat, Anda pernah menjadi Koordinator Kontras.
Kini,
> Anda menjelma pelaku kekerasan. Sungguh kontras. Sungguh saya dibelit
rasa
> penasaran, "guncangan besar" apa yang membikin Anda bersalin watak?
>
> Tak lama setelah insiden Monas, Anda berujar, "Kenapa mereka
mengadakan
> aksi untuk mendukung organisasi kriminal? AKKBB juga memasang iklan di
> koran untuk mendukung Ahmadiyah. Itu artinya mereka menantang kami
lebih
> dulu. Jika tidak siap perang, jangan menantang."
>
> Bung, setahu saya, Anda adalah seorang sarjana hukum. Bahkan, pernah
> memimpin Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Dengan
luncuran
> kata-kata itu, saya kira Anda telah menaruh hukum sebagai keset, yang
> setiap saat Anda injak-injak, Anda rendahkan. Jika ada yang bersuara
lain,
> itu Anda anggap sebagai ajakan berperang. Lalu, Anda pun menyerbu
dengan
> pentungan dan tinju. Sejak kapan hukum mengenal modus penyelesaian
perkara
> seperti itu?
>
> Ah, soal penyelesaian perkara, saya jadi ingat satu hal. Pada 2007,
Anda
> terjerat kasus hukum ecek-ecek. Mobil Anda diserempet taksi Blue Bird
di
> kawasan Limo, Depok. Lalu, Anda menempuh cara ini: merampas kunci
mobil,
> SIM pengemudi, dan STNK taksi tersebut. Kabarnya, Kejaksaan Negeri
Depok
> menyatakan kasus ini siap disidangkan. Tapi, saya tak pernah mendengar
> kelanjutannya.
>
> Di hari-hari ini, Anda agaknya sulit lolos. Aparat hukum sudah
mengincar.
> Banyak kalangan juga mengharapkan Anda diadili. Harapan mereka: hukum
> ditegakkan sehingga republik ini masih layak huni, ditinggali secara
> beradab bin manusiawi.
>
> Akhir kata, sejak kemarin, beredar foto Anda sedang mencekik
seseorang.
> Tapi, Anda berkilah justru sedang menghalau seorang anggota Laskar
Islam
> agar tak anarkis. Oke.oke.
>
> Lalu, Anda melanjutkan, akan menyeret sejumlah media yang memajang
foto
> itu ke polisi. TEMPO secara khusus Anda sebut. Yang mengagetkan,
termuat
> di portal-portal berita hari ini, Anda menyeru agar Goenawan Mohamad,
> jurnalis senior dan pendiri TEMPO, untuk bersujud dan meminta maaf
pada
> Anda. Bersujud?
>
> Munarman, jangan terlalu lama mengistirahatkan akal sehat.
>
> Wassalam.
>
> preman-preman itu.
> Havel dan Kafka,
> Insiden itu tak bisa diterima. Harus dikutuk. Dikecam
> sekeras-kerasnya. Dan, aparat hukum mesti bertindak. Sama sekali tak
ada
> hak buat Front Pembela Islam (FPI) dan konco-konconya untuk
membubarkan
> acara Aliansi Kebangsaan Untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
(AKKBB)
> di Lapangan Monas tersebut. Kebrutalan mereka, sekali lagi, mencoreng
nama
> Islam.
>
> Anak-anakku, jika mereka terus dibiarkan, aku sungguh khawatir
> dengan nasib republik ini, republik yang juga menjadi tempat kalian
tumbuh
> ini.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com
>


Kirim email ke