Kiriman dari seorang teman...
=========================================

Sebuah renungan 
--------------------
Kukenal Mbah Sarwi sebagai pedagang sayur di Pasar Minggu.Aku memang
sering berbelanja sayur ke sana, sembari perjalanan pulang dari Jakarta
ke Depok. Usianya mungkin sekitar 65 tahun. Tubuhnya ringkih dibalut
kain kebaya. Memang tampak sederhana karena Mbah Sarwi tidak memiliki
perhiasan yang layak untuk dipamerkan. Kalaupun ada yang berharga,
hanyalah sepasang anting emas di telinganya. Sementara ditangan kirinya
terjuntai dua buah gelang karet berwarna kuning.

Tapi aku sangat menghormatinya karena Mbah Sarwi adalah guruku: Guru
yang membukakan mataku tentang sisi lain kehidupan, mengajariku tentang
arti kepasrahaan kepada Tuhan juga semangat pantang menyerah. Biasanya
aku hanya memberikan uang kepada Mbah Sarwi, sembari mengatakan rencana
sayur yang akan kubuat. Dengan cekatan beliau memilihkan sayur kepadaku.

Pernah aku bertanya, apakah Mbah Sarwi tidak merasa takut bersaing
dengan supermarket, hypermarket bahkan pedagang lain yang menjadi
saingannya? Beliau hanya menjawab bahwa rizki kuwi wis ono sing ngatur,
ono dino yo ono upo. Pernah sesekali aku berpandangan negative bahwa
mungkin sikap beliau adalah cermin sebuah keterbelakangan, moral
peasant. Menurut Samuel W. Popkin (sopo iki....?), seorang petani lebih
bodoh dari buruh, sehingga dianalogikan bahwa petani akan berteriak
adanya banjir apabila air telah mencapai leher. Dan Mbah sarwipun
mungkin baru akan menyadari kekeliruannya setelah modalnya habis dan
bangkrut.

Akan tetapi sekitar dua tahun aku berlangganan, tidak kutemukan sebuah
kemunduran. Bahkan kini Mbah Sarwi bisa membeli sebuah timbangan.
Biasanya beliau meminjam timbangan dari pedagang sayur disampingnya.
Beliau juga berceritera bahwa beliau habis menjenguk keluarganya di
Madiun, karena cucunya dikhitan. Dan beliau merasa bersyukur karena
Tuhan terus memberikan berbagai kebahagiaan di penghujung usianya.

Jawaban-jawaban Mbah Sarwi memang membuatku mati langkah. Kepasrahannya
kepada Tuhan, mengalahkan ceramah para agamawan yang kadang harus
menetapkan tariff bagi mereka mengundangnya. Kegigihannya dalam
berusaha, mengalahkan kaum pengusaha yang terbukti hanya bisa menjual
lisensi dan praktek monopoli.

Hukum Tuhan memanglah misteri. Orang yang kita pandang lemah, justru
sebenarnya adalah orang yang kuat. Banyak orang kaya yang justru merasa
khawatir tentang hartanya serta banyak orang berilmu merasa khawatir
akan wibawanya. 





CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.



Kirim email ke