Puasa Menyehatkan Tubuh
Kehadiran berbagai penyakit seperti maag, diabetes, dan juga ginjal kerap
menghalangi kita saat ingin berpuasa di bulan Ramadhan. Tentunya, agar ibadah
puasa berjalan lancar, penderita diabetes, mag, dan ginjal memerlukan persiapan
ekstra dibandingkan orang sehat.
Berikut adalah beberapa persiapan berpuasa di bulan ramadhan yang aman bagi
penderita mag, diabetes dan ginjal:
1. Mag
Menurut Ari Fahrial Syam dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hal yang pertama harus
diketahui sebelum melakukan persiapan untuk puasa adalah mengetahui jenis mag
yang diderita terlebih dahulu, apakah jenis mag fungsional atau organik.
Mag organik yang belum diobati akan menjadi lebih parah jika penderita
memaksakan untuk tetap berpuasa, apalagi jika ada tanda-tanda seperti; mag
pertama kali di atas 45 tahun, berat badan turun, anemia, melena, dan disfagia.
Adapun hasil endoskopi dari mag organik menunjukkan kelainan seperti tukak pada
lambung, tukak usus dua belas jari, polip, dan kanker.
Selain itu, terdapat mag disfungsional, dimana penyebabnya adalah makan yang
tidak teratur, kebiasaan makan camilan berlemak, minum kopi atau bersoda
sepanjang hari, merokok, dan stres. Biasanya mag yang banyak diderita
masyarakat
adalah mag disfungsional dan hasil endoskopinya normal.
Setelah berpuasa, para penderita mag disfungsional biasanya membaik atau
sembuh,
hal ini disebabkan karena jadwal makan yang teratur yaitu saat sahur dan buka,
tidak makan camilan berlemak sepanjang hari, tidak meminum, dan tidak merokok.
Dengan begitu produksi asam lambung akan turun.
Namun awal minggu berpuasa akan terasa berat bagi penderita mag disfungsional
karena adanya perubahan. Oleh karena itu, biasanya mereka diberi obat penekan
asam lambung seperti lanzoprazole dengan dosis 30 mg per hari selama seminggu.
Obat itu bekerja selama 12 jam.
Intinya, bagi para penderita mag, diharapkan agar menghindari makanan yang
mengandung gas, yang memicu asam lambung, sulit dicerna, memperlambat
pengosongan lambung, dan melemahkan klep kerongkongan bawah.
2. Diabetes
Menurut Tri Juli Edi T dari Divisi Metabolik Endoktrin Departemen Ilmu Penyakit
Dalam, hal pertama yang dilakukan para penderita diabetes jika ingin berpuasa
adalah kontrol ke dokter, karena dokter lah yang akan menentukan tingkat resiko
berpuasa pada penderita diabetes, selain itu pergi ke dokter juga diperlukan
untuk mengonsultasikan pengaturan pemakaian obat—waktu dan dosisnya—yang
kemungkinan berubah karena harus disesuaikan dengan jam makan.
Waspadalah jika Anda penderita berisiko sangat tinggi, yaitu penderita diabetes
yang sedang hamil dan gula darah sering turun. Jika Anda tetap memutuskan untuk
berpuasa, maka harus ada pengawasan yang ketat dari dokter.
Makanan ketika berpuasa tidaklah jauh berbeda bagi penderita diabetes. Porsi
kalori 50 persen saat buka puasa, 10 persen setelah tarawih, dan 40 persen saat
sahur. Pilih karbohidrat kompleks yang butuh pembakaran lama sekitar 8 jam,
kurangi lemak, dan perbanyak serat. Minum juga harus cukup, yakni delapan
gelas.
Namun berhati-hatilah pada minggu keempat puasa, karena persiapan lebaran, maka
dari itu penderita diabetes harus tetap menjaga agar tidak makan berlebih.
Jangan sampai gula darah terlalu rendah, gula darah terlalu tinggi, darah
menjadi asam (ketoasidosis), dan kekurangan cairan saat berpuasa.
Memonitor gula darah penting ketika berpuasa bagi penderita diabetes, apalagi
hal ini tidak akan membatalkan puasa. Puasa harus dibatalkan jika gula darah
turun menjadi 60 mg/dl atau kurang, gula darah turun di sekitar 70 mg/dl di
jam-jam awal, terutama pemakai insulin, sulfonilurea, atau glinid yang dipakai
saat sahur, dan gula darah naik lebih dari 300 mg/dl.
3. Ginjal
Berdasarkan pernyataan Imam Effendi dari Divisi Ginjal Hipertensi Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI, berpuasa bisa menguntungkan atau malah berbahaya bagi
para penderita ginjal, hal ini sangat tergantung pada sangat tergantung dari
jenis dan derajat penyakitnya.
Penyakit batu ginjal stadium awal sangat membutuhkan minum hingga 4 liter per
hari. Kebutuhan akan air inilah yang kerap menjadi halangan bagi penderita batu
ginjal untuk berpuasa, karena jika lalai, batu ginjal dapat bertambah parah.
Namun bagi penderita ginjal kronik, puasa sangat dianjurkan, karena pengeluaran
urine menurun drastis, bahkan pada penderita yang sudah dialisis terkadang
urine
tidak keluar sama sekali. Pengeluaran air dilakukan ketika cuci darah. Lantaran
urine sangat sedikit, mereka tidak boleh terlalu banyak minum. Minum yang
diizinkan bagi penderita ginjal kronik yang sudah cuci darah hanya 500 ml (dua
gelas) ditambah air sejumlah urine yang keluar. Minum harus benar-benar diukur.
Puasa yang berarti berhenti minum justru bagus bagi penderita ginjal kronik.
Kelebihan air dan gangguan elektrolit kerap menjadi penyebab utama kematian
penderita ginjal kronik.
Secara umum, Ari Fahrial Syam yang juga Ketua Bidang Advokasi Pengurus Besar
PAPDI mengatakan cara makan ketika puasa harus diperhatikan. Untuk menjaga
kesehatan, diharapkan untuk berbuka dengan makanan ringan, dan makan berat
setelah maghrib secara bertahap dan tidak berlebihan. Selain itu, pilih makanan
dengan indeks glikemik rendah dan tinggi serat. Selama berpuasa, istirahat
harus
cukup dan olahraga ringan tetap dilakukan.[] (JRA)