Dear Pak Boedi,
Apa kabar pak? Semoga semua berjalan dengan baik. 
Trenyuh sekali artikel ini. Bangsa kita hanya bisa mengeluh...mengeluh...dan 
paling bisa menyalahkan orang lain.. Dimana orang2 teknik kita?? Mereka jadi 
politikus, bankers... Jangankan bicara IT bikin bajaj aja nggak bisa... 
Pertanian kita? Sarjana pertanian jadi politikus dan bankers... Perikanan kita 
dijarah jiran... Ahli perikanan kita kemanna?? Mereka jadi bankers dan 
politikus... Hutan kita juga dijarah, tambang juga demikian... Oh..oh.. Memang 
negara kita adalah negara para 'bedebah'
Saya juga bisanya...mengeluh dan mengeluh...
Salam,
R1 

Sent from my iPad

On 23 Agu 2010, at 08:49 AM, Boedi Dayono <[email protected]> wrote:


http://id.news.yahoo.com/antr/20100823/tpl-fpg-penjajahan-singapura-atas-ti-ind-cc08abe.html

FPG: Penjajahan Singapura Atas TI Indonesia Menyakitkan
Jakarta (ANTARA) - Anggota Fraksi Partai Golkar di Komisi I DPR RI, Fayakhun 
Andriadi, mengatakan penjajahan pihak Singapura atas teknologi informasi (TI) 
Indonesia benar-benar sangat menyakitkan.

"Jelas sekali, kedaulatan kita pada ranah `cyber` atau TI secara keseluruhan 
benar-benar porak-poranda, dan ini butuh atensi serius sejumlah kementerian 
serta perguruan tinggi," katanya kepada ANTARA, di Jakarta, Minggu (22/8) malam.

Situasi ini, menurut dia, semakin diperparah oleh penguasaan Negara Kesatuan 
Republik Indonesia (NKRI) atas satelit yang sekrang berada di bawah perusahaan 
Indosat.

"Dan, kita tahu bersama, siapa pemilih mayoritas (sahamnya) Indosat itu kan? 
Bukan lagi negara kita toh? Saham mayoritasnya kini milik negara lain," 
ungkapnya.

Padahal, demikian Fayakhun Andriadi, hak orbit satelit merupakan milik suatu 
negara, bukan `corporate`.

"Ini bahaya dan sangat serius dampaknya bagi kita, masa depan bangsa. Celaka 
kita jika semua urusan TI dikendalikan dari luar (Singapura) karena mereka yang 
menguasai saham perusahaan yang mengoperasikan satelit yang dibikin atas nama 
negara kita itu," katanya menandaskan.

Buat Internet Sendiri

Untuk mengatasi begitu lemahnya RI dalam penguasaan TI, dan malah terkesan 
didikte pihak asing, Fayakhun Andriadi bersama fraksinya menawarkan pembuatan 
"internet exchange" sendiri.

"Internet exchange yang tidak melewati negera persemakmuran, yakni di Utara 
dengan Singapura, dan Selatan dengan Australia, lalu ke timur Laut ke Taiwan, 
dan ke Barat Laut dengan India," katanya.

Dengan begitu, menurut dia, satu informasi rahasia yang utuh, dapat dipecah ke 
empat jurusan.

"Dalam hal ini, pemerintah RI mestinya menegakkan kedaulatan `cyber` di wilayah 
republik," tegas Fayakhun Andriadi lagi.

Sebab, kenyataannya sekarang, dia menilai Republik Indonesia sebagai Negara 
Berdaulat, ternyata harus tunduk kepada pihak lain dalam kedaulatan di bidang 
`cyber` atau teknologi informasi (TI).

"Saya sependepat, bahwa saat ini RI sebagai Negara Berdaulat, ternyata tidak 
berdaulat di ranah `cyber` yang digunakan oleh anak bangsa sendiri," katanya.

Ia mengatkan itu merespons pernyataan seorang pakar IT alumni sebuah perguruan 
tinggi ternama di Indonesia pada sebuah diskusi terbatas di Jakarta, akhir 
pekan lalu, yang mengungkapkan, RI benar-benar semakin didikte Singapura dan 
Malaysia dalam hal telekomunikasi di samping perbankan.

Sebagaimana berkembang dalam diskusi terbatas itu, khusus dalam soal IT, 
Indonesia hanya jadi ladang empuk mengais dolar dan ringgit oleh dua negeri 
jiran tersebut.

Ini karena semua operator seluler dan internet berbasis di dua negeri jiran ini.

Akibatnya, tiap "voucher" pulsa apa saja, juga setiap kali satu WNI buka 
internet (browse), langsung kena "charge" yang terhisap otomatis ke sana.

"Artinya, mereka gemuk oleh kebodohan kita. Satu hal lagi, dengan keadaan 
seperti sekarang, maka informasi apa pun termasuk Rahasia Negara (RHN) jadi 
telanjang di mata negeri `peanut` Singapura," ujar Benni TBN, pakar IT yang 
menjadi salah satu pembicara dalam diskusi tersebut.

Golkar Desak Menkominfo

Dalam kaitan itulah, demikian Fayakhun Andriadi, Fraksi Partai Golkar (FPG) 
mendesak Menteri Negara Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) agar mampu 
berdaya upaya menegakkan kedaulatan bangsa Indonesia di ranah "cyber" milik 
bangsa sendiri.

"Ranah `cyber` yang dimaksud, tidak hanya meliputi `voice`, namun juga data dan 
data khusus. Jika tidak, tidak ada Rahasia Negara (RHN) yang tidak `telanjang` 
keluar," ujarnya.

Sebelumnya, rekannya sesama anggota FPG, Paskalis Kossay, secara terpisah 
mengkhawatirkan adanya dugaan RHN itu bocor ke luar via Singapura.

"Kita memang sudah ketinggalan dalam hal kemajuan dan penguasaan teknologi 
untuk berbagai aspek, utamanya di sektor teknologi informasi (TI)," kata 
anggota Komisi I DPR RI(Bidang Luar Negeri, Pertahanan Keamanan, Intelijen, 
Komunikasi, dan Informatika) ini.

Kekhawatiran itu, lanjut dia, terus memuncak, apalagi banyak operator seluler 
dan internet di Tanah Air memang dikendalikan dari dua negara itu.

Berbicara melalui hubungan telepon dari Jayapura (sedang menjalankan masa reses 
dengan mengunjungi konstituen di daerah pemilihan), mantan Wakil Ketua DPRD 
Papua ini juga mengakui banyak pihak yang sepertinya belum menyadari urgennya 
menguasai TI, terutama terkait dengan urusan RHN maupun bisnis bernilai 
miliaran dolar.

"Saya kaget juga dengan info dari sebuah diskusi di Jakarta, bahwa seorang 
pakar IT yang alumni sebuah perguruan tinggi ternama di Indonesia 
mengungkapkan, bahwa RI benar-benar semakin didikte Singapura dan Malaysia 
dalam hal telekomunikasi di samping perbankan," ungkapnya.

Singapura Kendalikan Jaringan

Sementara itu, dalam diskusi terbatas akhir pekan lalu, Benny TBN juga 
mengungkapkan, saat ini nyatanya lalu lintas jaring optik kita dikendalikan 
oleh "traffic administrator" di Singapura.

"Karenanya semua jaringan internet dan seluler harus ditarik atau `dipaksa` 
melewati `persimpulan utama` di kota itu. Apalagi `RHN` yang tak mereka tahu? 
Sialnya lagi, satelit Indosat (dulu Palapa) jadi mayoritas milik Temasek 
(sebuah BUMN Singapura)," ungkapnya lagi.

Akibatnya, lanjutnya, selain kita jadi seperti `telanjang` dalam informasi apa 
pun, juga RI cuma berfungsi sebagai pelanggan seluler.

"Posisi ini jauh di bawah fungsi distributor seluler. Jadi, kita cuma `outlet`, 
tukang jual produk IT mereka. Dan yang jelas, banyak perusahaan `provider` kita 
cuma nama `doang` perusahaannya itu milik RI dengan mayoritas saham dikuasai 
mereka," ujarnya.

Merespons situasi serius ini, Paskalis Kossay mendesak para pihak berkompeten 
untuk segera melakukan tindakan konkret.

"Kita jangan cuma sibuk urus video porno dan konten TI, lalu tidak berjuang 
agar semua operator berbasis di sini. Mohon ini digumuli dan jadi atensi 
serius," katanya menegaskan.

Ia mengatakan argumentasi para pakar TI itu terkesan bukan main-main, dan tidak 
berangkat dari argumentasi emosional, tetapi sangat rasional.

"Demi martabat dan kedaulatan NKRI, perlu segera tindakan konkret dan perbaikan 
ke depan secara bersama. Kami di Komisi I DPR RI tentu akan melaksanakan fungsi 
kewenangan kami sesuai aturan konstitusi," katanya menandaskan.

Salah satunya, menurut Paskalis Kossay, akan mengagendakan rapat dengan 
menghadirkan para pakar TI untuk mendapatkan info teranyar serta "academics" 
sekaligus merumuskan langkah-langkah konkret terbaik bagi kepentingan negara.
CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the 
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is 
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the 
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this 
communication. If you have received this communication in error, please notify 
us immediately by return email and delete the original message.




      

Kirim email ke