Hi Pak Aruan,
Kabar saya baik-baik saja, semoga Anda dan keluarga selalu demikian juga
adanya.
Dan juga saya doakan agar semua keluarga besar ex Bebede selalu sehat
dalam lindunganNya. Amin.
Semua harta benda kita sudah terjual ke pihak asing. Jangankan harta
benda, harga diri pun sudah terjual pula. He.. hee...
Pemberdayaan sumber daya dan sumber alam kita oleh pemerintah hanya
sebatas retorika. Tapi, kita tidak boleh hanya menyalahkan "pemerintah"
saja, karena kita pun yang berada di sektor riil mungkin juga ikut
membuat karut marutnya negeri ini.
Oleh karenanya, kita tidak boleh mengeluh... mengeluh.. mengeluh
(seperti kata Pak Aruan)!
Kita memang sudah lanjut usia, tetapi SEMANGAT HARUS TETAP BERLANJUT!!!
Sekecil apa pun upaya kita untuk memperbaiki negeri kita tercinta, pasti
akan sangat bermanfaat.
Kata orang kampung: "Tanpa Semangat, yang Ada Hanya ALASAN"
Salam,
boedi dayono


On Mon, 2010-08-23 at 20:51 +0800, Maringan Aruan wrote:

>   
> 
> Dear Pak Boedi,
> Apa kabar pak? Semoga semua berjalan dengan baik. 
> Trenyuh sekali artikel ini. Bangsa kita hanya bisa
> mengeluh...mengeluh...dan paling bisa menyalahkan orang lain.. Dimana
> orang2 teknik kita?? Mereka jadi politikus, bankers... Jangankan
> bicara IT bikin bajaj aja nggak bisa... Pertanian kita? Sarjana
> pertanian jadi politikus dan bankers... Perikanan kita dijarah
> jiran... Ahli perikanan kita kemanna?? Mereka jadi bankers dan
> politikus... Hutan kita juga dijarah, tambang juga demikian...
> Oh..oh.. Memang negara kita adalah negara para 'bedebah'
> Saya juga bisanya...mengeluh dan mengeluh...
> Salam,
> R1 
> 
> Sent from my iPad
> 
> On 23 Agu 2010, at 08:49 AM, Boedi Dayono <[email protected]>
> wrote:
> 
> 
> 
> >   
> > 
> > 
> > http://id.news.yahoo.com/antr/20100823/tpl-fpg-penjajahan-singapura-atas-ti-ind-cc08abe.html
> >  
> > 
> > 
> > 
> > FPG: Penjajahan Singapura Atas TI Indonesia Menyakitkan
> > 
> > Jakarta (ANTARA) - Anggota Fraksi Partai Golkar di Komisi I DPR RI,
> > Fayakhun Andriadi, mengatakan penjajahan pihak Singapura atas
> > teknologi informasi (TI) Indonesia benar-benar sangat menyakitkan.
> > 
> > "Jelas sekali, kedaulatan kita pada ranah `cyber` atau TI secara
> > keseluruhan benar-benar porak-poranda, dan ini butuh atensi serius
> > sejumlah kementerian serta perguruan tinggi," katanya kepada ANTARA,
> > di Jakarta, Minggu (22/8) malam.
> > 
> > Situasi ini, menurut dia, semakin diperparah oleh penguasaan Negara
> > Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) atas satelit yang sekrang berada
> > di bawah perusahaan Indosat.
> > 
> > "Dan, kita tahu bersama, siapa pemilih mayoritas (sahamnya) Indosat
> > itu kan? Bukan lagi negara kita toh? Saham mayoritasnya kini milik
> > negara lain," ungkapnya.
> > 
> > Padahal, demikian Fayakhun Andriadi, hak orbit satelit merupakan
> > milik suatu negara, bukan `corporate`.
> > 
> > "Ini bahaya dan sangat serius dampaknya bagi kita, masa depan
> > bangsa. Celaka kita jika semua urusan TI dikendalikan dari luar
> > (Singapura) karena mereka yang menguasai saham perusahaan yang
> > mengoperasikan satelit yang dibikin atas nama negara kita itu,"
> > katanya menandaskan.
> > 
> > Buat Internet Sendiri
> > 
> > Untuk mengatasi begitu lemahnya RI dalam penguasaan TI, dan malah
> > terkesan didikte pihak asing, Fayakhun Andriadi bersama fraksinya
> > menawarkan pembuatan "internet exchange" sendiri.
> > 
> > "Internet exchange yang tidak melewati negera persemakmuran, yakni
> > di Utara dengan Singapura, dan Selatan dengan Australia, lalu ke
> > timur Laut ke Taiwan, dan ke Barat Laut dengan India," katanya.
> > 
> > Dengan begitu, menurut dia, satu informasi rahasia yang utuh, dapat
> > dipecah ke empat jurusan.
> > 
> > "Dalam hal ini, pemerintah RI mestinya menegakkan kedaulatan `cyber`
> > di wilayah republik," tegas Fayakhun Andriadi lagi.
> > 
> > Sebab, kenyataannya sekarang, dia menilai Republik Indonesia sebagai
> > Negara Berdaulat, ternyata harus tunduk kepada pihak lain dalam
> > kedaulatan di bidang `cyber` atau teknologi informasi (TI).
> > 
> > "Saya sependepat, bahwa saat ini RI sebagai Negara Berdaulat,
> > ternyata tidak berdaulat di ranah `cyber` yang digunakan oleh anak
> > bangsa sendiri," katanya.
> > 
> > Ia mengatkan itu merespons pernyataan seorang pakar IT alumni sebuah
> > perguruan tinggi ternama di Indonesia pada sebuah diskusi terbatas
> > di Jakarta, akhir pekan lalu, yang mengungkapkan, RI benar-benar
> > semakin didikte Singapura dan Malaysia dalam hal telekomunikasi di
> > samping perbankan.
> > 
> > Sebagaimana berkembang dalam diskusi terbatas itu, khusus dalam soal
> > IT, Indonesia hanya jadi ladang empuk mengais dolar dan ringgit oleh
> > dua negeri jiran tersebut.
> > 
> > Ini karena semua operator seluler dan internet berbasis di dua
> > negeri jiran ini.
> > 
> > Akibatnya, tiap "voucher" pulsa apa saja, juga setiap kali satu WNI
> > buka internet (browse), langsung kena "charge" yang terhisap
> > otomatis ke sana.
> > 
> > "Artinya, mereka gemuk oleh kebodohan kita. Satu hal lagi, dengan
> > keadaan seperti sekarang, maka informasi apa pun termasuk Rahasia
> > Negara (RHN) jadi telanjang di mata negeri `peanut` Singapura," ujar
> > Benni TBN, pakar IT yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi
> > tersebut.
> > 
> > Golkar Desak Menkominfo
> > 
> > Dalam kaitan itulah, demikian Fayakhun Andriadi, Fraksi Partai
> > Golkar (FPG) mendesak Menteri Negara Komunikasi dan Informatika
> > (Menkominfo) agar mampu berdaya upaya menegakkan kedaulatan bangsa
> > Indonesia di ranah "cyber" milik bangsa sendiri.
> > 
> > "Ranah `cyber` yang dimaksud, tidak hanya meliputi `voice`, namun
> > juga data dan data khusus. Jika tidak, tidak ada Rahasia Negara
> > (RHN) yang tidak `telanjang` keluar," ujarnya.
> > 
> > Sebelumnya, rekannya sesama anggota FPG, Paskalis Kossay, secara
> > terpisah mengkhawatirkan adanya dugaan RHN itu bocor ke luar via
> > Singapura.
> > 
> > "Kita memang sudah ketinggalan dalam hal kemajuan dan penguasaan
> > teknologi untuk berbagai aspek, utamanya di sektor teknologi
> > informasi (TI)," kata anggota Komisi I DPR RI(Bidang Luar Negeri,
> > Pertahanan Keamanan, Intelijen, Komunikasi, dan Informatika) ini.
> > 
> > Kekhawatiran itu, lanjut dia, terus memuncak, apalagi banyak
> > operator seluler dan internet di Tanah Air memang dikendalikan dari
> > dua negara itu.
> > 
> > Berbicara melalui hubungan telepon dari Jayapura (sedang menjalankan
> > masa reses dengan mengunjungi konstituen di daerah pemilihan),
> > mantan Wakil Ketua DPRD Papua ini juga mengakui banyak pihak yang
> > sepertinya belum menyadari urgennya menguasai TI, terutama terkait
> > dengan urusan RHN maupun bisnis bernilai miliaran dolar.
> > 
> > "Saya kaget juga dengan info dari sebuah diskusi di Jakarta, bahwa
> > seorang pakar IT yang alumni sebuah perguruan tinggi ternama di
> > Indonesia mengungkapkan, bahwa RI benar-benar semakin didikte
> > Singapura dan Malaysia dalam hal telekomunikasi di samping
> > perbankan," ungkapnya.
> > 
> > Singapura Kendalikan Jaringan
> > 
> > Sementara itu, dalam diskusi terbatas akhir pekan lalu, Benny TBN
> > juga mengungkapkan, saat ini nyatanya lalu lintas jaring optik kita
> > dikendalikan oleh "traffic administrator" di Singapura.
> > 
> > "Karenanya semua jaringan internet dan seluler harus ditarik atau
> > `dipaksa` melewati `persimpulan utama` di kota itu. Apalagi `RHN`
> > yang tak mereka tahu? Sialnya lagi, satelit Indosat (dulu Palapa)
> > jadi mayoritas milik Temasek (sebuah BUMN Singapura)," ungkapnya
> > lagi.
> > 
> > Akibatnya, lanjutnya, selain kita jadi seperti `telanjang` dalam
> > informasi apa pun, juga RI cuma berfungsi sebagai pelanggan seluler.
> > 
> > "Posisi ini jauh di bawah fungsi distributor seluler. Jadi, kita
> > cuma `outlet`, tukang jual produk IT mereka. Dan yang jelas, banyak
> > perusahaan `provider` kita cuma nama `doang` perusahaannya itu milik
> > RI dengan mayoritas saham dikuasai mereka," ujarnya.
> > 
> > Merespons situasi serius ini, Paskalis Kossay mendesak para pihak
> > berkompeten untuk segera melakukan tindakan konkret.
> > 
> > "Kita jangan cuma sibuk urus video porno dan konten TI, lalu tidak
> > berjuang agar semua operator berbasis di sini. Mohon ini digumuli
> > dan jadi atensi serius," katanya menegaskan.
> > 
> > Ia mengatakan argumentasi para pakar TI itu terkesan bukan
> > main-main, dan tidak berangkat dari argumentasi emosional, tetapi
> > sangat rasional.
> > 
> > "Demi martabat dan kedaulatan NKRI, perlu segera tindakan konkret
> > dan perbaikan ke depan secara bersama. Kami di Komisi I DPR RI tentu
> > akan melaksanakan fungsi kewenangan kami sesuai aturan konstitusi,"
> > katanya menandaskan.
> > 
> > Salah satunya, menurut Paskalis Kossay, akan mengagendakan rapat
> > dengan menghadirkan para pakar TI untuk mendapatkan info teranyar
> > serta "academics" sekaligus merumuskan langkah-langkah konkret
> > terbaik bagi kepentingan negara.
> > CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use
> > of the individual or entity to whom it is addressed and contains
> > information that is privileged and confidential. If you, the reader
> > of this message, are not the intended recipient, you should not
> > disseminate, distribute or copy this communication. If you have
> > received this communication in error, please notify us immediately
> > by return email and delete the original message. 
> > 
> 
> 
> 
> 
> 
> 



CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.



Kirim email ke