Tempo Online, 02 Agustus 2010

Mewujudkan Mimpi dari Kursi Roda

        + "Saya butuh Anda di sana, Anda bisa melakukannya? 
        - "Saya pikir bisa, Pak." 
        + "Oke, see you there!"

Percakapan itu terus di ingat oleh Handry Satriago. Inilah tantangan
besar yang mesti diatasi untuk mencapai mim pinya: bepergian ke luar
negeri. Paspor yang dibuatnya semasa masih duduk di bangku sekolah
menengah atas di Labschool Rawamangun pada 1986 akhirnya terisi stempel
Imigrasi untuk pertama kalinya sebelas tahun kemudian. Singapura menjadi
negeri pertama yang harus didatangi Handry sebagai Manajer Pengembangan
Bisnis General Electric (GE) Indonesia.

"Kepercayaan Stu yang membuat saya yakin bisa," ujar Handry tentang
permintaan Stuart Dean, Presiden GE ASEAN. Keterbatasannya langsung
diatasinya saat naik burung besi menuju negeri di utara Pulau Sumatera
itu. Sejak itu, meski duduk di atas kursi roda, dia sudah mengunjungi
berbagai negara, termasuk Amerika Serikat markas GE, hingga diangkat
sebagai Presiden General Electric Indonesia. "Semua ditunjukkan Yang Di
Atas," katanya tanpa kesan merendah.

Tiga belas tahun di perusahaan raksasa Amerika itu, Handry menjadi
seorang motivator dan pebisnis ulung. Hampir semua yang dipegangnya
menjadi bisnis yang ditakuti oleh pesaingnya. Misalnya, di bisnis
lighting (pencaha yaan), dia menghasilkan US$ 6 juta dalam dua tahun
kepemimpinannya. Sebelumnya di GE tak ada yang melirik bidang itu,
karena dianggap tak prospektif karena dikuasai Philips. 

Putra tunggal pasangan Djahar Indra dan Yurnalis Indra itu menyanggupi
tantangan membuat lighting menjadi bisnis sendiri, terpisah dari
consumer goods. Hasilnya, antara lain, tata cahaya di Bandar Udara
Ngurah Rai dan siraman cahaya ke Candi Prambanan.

Dia merintis ide bisnis menjual paket cahaya dengan kontrak jangka
panjang dengan sejumlah pabrik besar dan kecil kimia, cat, dan tekstil.
"Anda santai saja, tata cahaya efisien kami yang urus," ujarnya. 

Ketika menerima tantangan dari Stuart, nilai tukar rupiah terhadap dolar
terjun bebas dari Rp 2.500 menjadi Rp 15 ribu. "Ketika sign kontrak,
masih Rp 2.500. Saat barang datang tiga kontainer, jadi Rp 15 ribu."
Kontan, para pelanggannya di Glodok menolak barang itu. Tak menyerah,
Handry membujuk mereka membuat kontrak jangka panjang, menjual barang
tersebut dengan separuh nilai tukar.

Dengan cara itu, dia memotivasi tim yang terdiri atas orang-orang muda
bahwa solusi bisa diperoleh di tengah kesulitan. "Mereka juga antusias
karena diberi kepercayaan," ujarnya. Inilah praktek kepercayaan pemimpin
dengan pengikutnya yang menjadi resep andalannya. Selanjutnya, cerita
sukses berlanjut ketika dia diminta memimpin bisnis di bidang energi.
Dari 25 gigawatt listrik yang terpasang di Indonesia, 500 megawatt
adalah karyanya. "Bangga juga, ha-ha-ha...," Handry melepas tawa.

                                 l l l
Sambil merangkul Basri Adhi, Handry menapaki satu per satu tangga kampus
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Karibnya itu, dan
kawan kuliah lain, setia membopong Handry yang kedua kakinya dipasangi
besi penopang supaya bisa berjalan tegak dengan kruk. Tujuan mereka:
Laboratorium Gambar Teknik di lantai empat.

"Ya, berat, he-he-he...," kata Basri. Satu teman lagi mengangkut kursi
rodanya. Mereka teman sekelas Handry, selalu senang dengan Agogo pang
gilannya kala kuliah yang memberikan energi positif untuk terus berjuang
dan ceria dalam hidupnya. Begitu terus sejak 1989, sampai 1993 Handry
menyelesaikan kuliahnya. Skripsinya diganjar predikat sangat memuaskan.

Di SMA Labschool Rawamangun, Riri Riza, sutradara film Laskar Pelangi,
ingat pertama kali karibnya itu masuk sekolah lagi setelah absen lebih
dari sebulan. Dengan penyangga kaki, Handry terlihat santai dan berlaku
seperti orang normal. "Sama sekali enggak berubah, enggak minder, enggak
kelihatan sedih, dan masih nongkrong bareng kami," kata Riri. Saat itu,
di usia 17 tahun, Handry didiagnosis kena kanker getah bening di sumsum
tulang belakangnya dan mesti dioperasi.

Teman-teman satu kelompok bermain memperlakukan Handry seperti orang
normal, dengan pembicaraan yang tak pernah membuat Handry tersinggung
dengan keadaannya. Ketika nonton teater bareng, mereka menggotong Handry
untuk masuk gedung teater.

Riri sejak awal sudah yakin, keterbatasan berjalan tak akan menghala ngi
pria berdarah Minang itu beraktivitas. "Sejak awal dia itu masuk jalur
cepat, selalu selesai kelas lebih awal." Di Labschool dia termasuk
"siswa yang dibayar". "Karena prestasinya bagus banget." Maklum, saat
itu sekolah tersebut menjadi percontohan siswa berbakat dan buat yang
mampu secara ekonomi.

Kesederhanaan ekonomi Handry, yang ayahnya cuma pegawai logistik Total
Indonesia, tak tampak dalam pergaulan. Wawasan Handry terbilang luas.
Dia mampu bicara tentang musik rock dan metal yang sedang booming,
sambil bicara klasik dan pop. "Waktu itu, baru dia yang paham Simon &
Garfunkel, he-he-he...." 

Dia menilai cuma sedikit orang yang seimbang hasrat main dan hobi bela
jarnya seperti Handry. Perbincang an dengannya terentang dari rencana
madol alias bolos sekolah sampai membuat proyek ilmiah. Bicara dengan
Handry, kata Riri, "Penuh warna kehidupannya." 

Solidaritas dan perlakuan sama dengan orang normal membuat Handry
nyaman. "Teman-teman membuat saya percaya diri,"katanya. Kondisi itu
menumbuhkan semangatnya melawan keterbatasan. 

Di lingkungan rumahnya, Handry bertetangga dengan pentolan pers
Indonesia, Atmakusumah Sastraatmadja, Goenawan Mohamad, dan budayawan
Umar Kayam. "Saya beruntung tetangga saya orang-orang hebat." Sejak di
sekolah menengah pertama, di kompleks Griya Wartawan, Kebon Nanas,
Jakarta Timur, wawasan seni dan sosial politiknya ditempa karya-karya
seni klasik dan pop, serta sastra kritis, dari Shakespeare sampai
Pramoedya Ananta Toer. Buku dan diskusi didapatnya di rumah Atma dan
Umar Kayam.

Di sana dia juga mengenal teater dan musik klasik. "Anak-anak kami sudah
menganggapnya kakak, dan ini sudah seperti rumahnya sendiri," ujar Atma.
Handry suka sekali gulai kambing masakan Sri Rumiati, istri
Atmakusumah. 

Penggemar Meryl Streep itu selalu dibopong ketiga putra Atma ke lantai
dua Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Di gedung teater itu,
mereka nonton drama, misalnya Teater Koma. 

Lantaran pengaruh pers yang kental, Handry sempat tergiur menjadi
wartawan. "Ikut karnaval, saya pakai rompi, bawa kamera, kayak wartawan,
deh," kata pengagum Syahrir itu.

Selepas kuliah, dia direkrut sebuah perusahaan teknologi mengurus
majalahnya. Tiga tahun menabung hasil kerjanya, dia sekolah lagi di
Institut Pengembangan Manajemen Indonesia Business School, dan lulus cum
laude dengan dua gelar master. Sambil kuliah, dia membuka usaha desain
grafis dengan kawan-kawan dan saudaranya. 

Predikat itu membuatnya dibujuk pencari bakat dari General Electric
untuk masuk ke perusahaan tersebut. "Saya tolak. Ngapain? Saya punya
bisnis sendiri, kok." Maklum, bisnisnya sedang maju pesat. Sang pencari
bakat tak menyerah, sambil menerangkan segala macam fasilitas yang bisa
didapatkannya. Segala fasilitas dan perjalanan keluar negeri membuatnya
kepincut. Posisi pertamanya Manajer Pengembangan Bisnis GE Indonesia.
Dia mematok target menjadi Jack Welch, CEO GE. 

Tiga belas tahun kemudian, dalam perjalanan ke Vietnam untuk urusan
bisnis energi pembangkit listrik, dia ditawari posisi Presiden GE
Indonesia. Jadilah pria kelahiran Riau, 13 Juni 1969, itu pemimpin
termuda di perusahaan raksasa Amerika tersebut. Seka ligus lu lusan
sekolah dalam negeri pertama yang menjadi bos GE Indonesia.

Menjadikan Abraham Lincoln sebagai inspirator, Handry dikenal pantang
menyerah. Pada 1994, meski menjalani kemoterapi karena kankernya
ternyata menjalar ke pinggang dia tetap tegar. "Saya selama ini dikasih
jalan sama Dia."

Juga saat Maret 2010 diketahui tulang belakangnya ada kelainan, fisiknya
merasa sehat. Bedanya, kali ini suami Dinar Sambodja itu selama tiga
pekan, selalu khawatir secara psiko logis karena ada saja yang tak
lancar, dokter tak ada, atau pembaca hasil la boratorium absen. 

Mengubur keinginan menjadi ilmuwan dari Stanford University, Handry
tetap tertarik pada bidang akademik. Dua pekan lalu dia meraih gelar
doktor di bidang manajemen dengan disertasi tentang efek kepercayaan
orang sekitar terhadap peningkatan kualitas pemimpin. Dia meruntuhkan
keangkeran ruang sidang doktoral yang biasanya tanpa canda. "Semarak,
dia memang biasa bergurau," kata Riri, yang hadir dalam sidang doktornya
di Universitas Indonesia. 








CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.



Kirim email ke