Terima kasih p Boedi.
Jika tidak salah, beliau ini pernah memberi pencerahan di Bank Mandiri tentang 
'Six Sigma'. Cara penyampaiannya bagus. 
Pertanyaan saya: kenapa beliau ini tidak berupaya mengembangkan PERTANIAN di 
Indonesia? Latar belakang pendidikannya dr IPB?? Sangat paradoksal sekali.... 
Mungkin hal begini yang menjadikan kita selalu terpuruk di segala bidang krn 
kita lebih cenderung ke 'material'. 
TIDAK ADA KEBANGGAAN atas PROFESI... Ha..ha.. 
Salam,
R1

Sent from my iPad

On 1 Sep 2010, at 08:13 AM, Boedi Dayono <[email protected]> wrote:


Tempo Online, 02 Agustus 2010

Mewujudkan Mimpi dari Kursi Roda

+ "Saya butuh Anda di sana, Anda bisa melakukannya? 
- "Saya pikir bisa, Pak." 
+ "Oke, see you there!"
Percakapan itu terus di ingat oleh Handry Satriago. Inilah tantangan besar yang 
mesti diatasi untuk mencapai mim pinya: bepergian ke luar negeri. Paspor yang 
dibuatnya semasa masih duduk di bangku sekolah menengah atas di Labschool 
Rawamangun pada 1986 akhirnya terisi stempel Imigrasi untuk pertama kalinya 
sebelas tahun kemudian. Singapura menjadi negeri pertama yang harus didatangi 
Handry sebagai Manajer Pengembangan Bisnis General Electric (GE) Indonesia.

"Kepercayaan Stu yang membuat saya yakin bisa," ujar Handry tentang permintaan 
Stuart Dean, Presiden GE ASEAN. Keterbatasannya langsung diatasinya saat naik 
burung besi menuju negeri di utara Pulau Sumatera itu. Sejak itu, meski duduk 
di atas kursi roda, dia sudah mengunjungi berbagai negara, termasuk Amerika 
Serikat markas GE, hingga diangkat sebagai Presiden General Electric Indonesia. 
"Semua ditunjukkan Yang Di Atas," katanya tanpa kesan merendah.

Tiga belas tahun di perusahaan raksasa Amerika itu, Handry menjadi seorang 
motivator dan pebisnis ulung. Hampir semua yang dipegangnya menjadi bisnis yang 
ditakuti oleh pesaingnya. Misalnya, di bisnis lighting (pencaha yaan), dia 
menghasilkan US$ 6 juta dalam dua tahun kepemimpinannya. Sebelumnya di GE tak 
ada yang melirik bidang itu, karena dianggap tak prospektif karena dikuasai 
Philips. 

Putra tunggal pasangan Djahar Indra dan Yurnalis Indra itu menyanggupi 
tantangan membuat lighting menjadi bisnis sendiri, terpisah dari consumer 
goods. Hasilnya, antara lain, tata cahaya di Bandar Udara Ngurah Rai dan 
siraman cahaya ke Candi Prambanan.

Dia merintis ide bisnis menjual paket cahaya dengan kontrak jangka panjang 
dengan sejumlah pabrik besar dan kecil kimia, cat, dan tekstil. "Anda santai 
saja, tata cahaya efisien kami yang urus," ujarnya. 

Ketika menerima tantangan dari Stuart, nilai tukar rupiah terhadap dolar terjun 
bebas dari Rp 2.500 menjadi Rp 15 ribu. "Ketika sign kontrak, masih Rp 2.500. 
Saat barang datang tiga kontainer, jadi Rp 15 ribu." Kontan, para pelanggannya 
di Glodok menolak barang itu. Tak menyerah, Handry membujuk mereka membuat 
kontrak jangka panjang, menjual barang tersebut dengan separuh nilai tukar.

Dengan cara itu, dia memotivasi tim yang terdiri atas orang-orang muda bahwa 
solusi bisa diperoleh di tengah kesulitan. "Mereka juga antusias karena diberi 
kepercayaan," ujarnya. Inilah praktek kepercayaan pemimpin dengan pengikutnya 
yang menjadi resep andalannya. Selanjutnya, cerita sukses berlanjut ketika dia 
diminta memimpin bisnis di bidang energi. Dari 25 gigawatt listrik yang 
terpasang di Indonesia, 500 megawatt adalah karyanya. "Bangga juga, 
ha-ha-ha...," Handry melepas tawa.

l l l
Sambil merangkul Basri Adhi, Handry menapaki satu per satu tangga kampus 
Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. Karibnya itu, dan kawan 
kuliah lain, setia membopong Handry yang kedua kakinya dipasangi besi penopang 
supaya bisa berjalan tegak dengan kruk. Tujuan mereka: Laboratorium Gambar 
Teknik di lantai empat.

"Ya, berat, he-he-he...," kata Basri. Satu teman lagi mengangkut kursi rodanya. 
Mereka teman sekelas Handry, selalu senang dengan Agogo pang gilannya kala 
kuliah yang memberikan energi positif untuk terus berjuang dan ceria dalam 
hidupnya. Begitu terus sejak 1989, sampai 1993 Handry menyelesaikan kuliahnya. 
Skripsinya diganjar predikat sangat memuaskan.

Di SMA Labschool Rawamangun, Riri Riza, sutradara film Laskar Pelangi, ingat 
pertama kali karibnya itu masuk sekolah lagi setelah absen lebih dari sebulan. 
Dengan penyangga kaki, Handry terlihat santai dan berlaku seperti orang normal. 
"Sama sekali enggak berubah, enggak minder, enggak kelihatan sedih, dan masih 
nongkrong bareng kami," kata Riri. Saat itu, di usia 17 tahun, Handry 
didiagnosis kena kanker getah bening di sumsum tulang belakangnya dan mesti 
dioperasi.

Teman-teman satu kelompok bermain memperlakukan Handry seperti orang normal, 
dengan pembicaraan yang tak pernah membuat Handry tersinggung dengan 
keadaannya. Ketika nonton teater bareng, mereka menggotong Handry untuk masuk 
gedung teater.

Riri sejak awal sudah yakin, keterbatasan berjalan tak akan menghala ngi pria 
berdarah Minang itu beraktivitas. "Sejak awal dia itu masuk jalur cepat, selalu 
selesai kelas lebih awal." Di Labschool dia termasuk "siswa yang dibayar". 
"Karena prestasinya bagus banget." Maklum, saat itu sekolah tersebut menjadi 
percontohan siswa berbakat dan buat yang mampu secara ekonomi.

Kesederhanaan ekonomi Handry, yang ayahnya cuma pegawai logistik Total 
Indonesia, tak tampak dalam pergaulan. Wawasan Handry terbilang luas. Dia mampu 
bicara tentang musik rock dan metal yang sedang booming, sambil bicara klasik 
dan pop. "Waktu itu, baru dia yang paham Simon & Garfunkel, he-he-he...." 

Dia menilai cuma sedikit orang yang seimbang hasrat main dan hobi bela jarnya 
seperti Handry. Perbincang an dengannya terentang dari rencana madol alias 
bolos sekolah sampai membuat proyek ilmiah. Bicara dengan Handry, kata Riri, 
"Penuh warna kehidupannya." 

Solidaritas dan perlakuan sama dengan orang normal membuat Handry nyaman. 
"Teman-teman membuat saya percaya diri,"katanya. Kondisi itu menumbuhkan 
semangatnya melawan keterbatasan. 

Di lingkungan rumahnya, Handry bertetangga dengan pentolan pers Indonesia, 
Atmakusumah Sastraatmadja, Goenawan Mohamad, dan budayawan Umar Kayam. "Saya 
beruntung tetangga saya orang-orang hebat." Sejak di sekolah menengah pertama, 
di kompleks Griya Wartawan, Kebon Nanas, Jakarta Timur, wawasan seni dan sosial 
politiknya ditempa karya-karya seni klasik dan pop, serta sastra kritis, dari 
Shakespeare sampai Pramoedya Ananta Toer. Buku dan diskusi didapatnya di rumah 
Atma dan Umar Kayam.

Di sana dia juga mengenal teater dan musik klasik. "Anak-anak kami sudah 
menganggapnya kakak, dan ini sudah seperti rumahnya sendiri," ujar Atma. Handry 
suka sekali gulai kambing masakan Sri Rumiati, istri Atmakusumah. 

Penggemar Meryl Streep itu selalu dibopong ketiga putra Atma ke lantai dua 
Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Di gedung teater itu, mereka nonton 
drama, misalnya Teater Koma. 

Lantaran pengaruh pers yang kental, Handry sempat tergiur menjadi wartawan. 
"Ikut karnaval, saya pakai rompi, bawa kamera, kayak wartawan, deh," kata 
pengagum Syahrir itu.

Selepas kuliah, dia direkrut sebuah perusahaan teknologi mengurus majalahnya. 
Tiga tahun menabung hasil kerjanya, dia sekolah lagi di Institut Pengembangan 
Manajemen Indonesia Business School, dan lulus cum laude dengan dua gelar 
master. Sambil kuliah, dia membuka usaha desain grafis dengan kawan-kawan dan 
saudaranya. 

Predikat itu membuatnya dibujuk pencari bakat dari General Electric untuk masuk 
ke perusahaan tersebut. "Saya tolak. Ngapain? Saya punya bisnis sendiri, kok." 
Maklum, bisnisnya sedang maju pesat. Sang pencari bakat tak menyerah, sambil 
menerangkan segala macam fasilitas yang bisa didapatkannya. Segala fasilitas 
dan perjalanan keluar negeri membuatnya kepincut. Posisi pertamanya Manajer 
Pengembangan Bisnis GE Indonesia. Dia mematok target menjadi Jack Welch, CEO 
GE. 

Tiga belas tahun kemudian, dalam perjalanan ke Vietnam untuk urusan bisnis 
energi pembangkit listrik, dia ditawari posisi Presiden GE Indonesia. Jadilah 
pria kelahiran Riau, 13 Juni 1969, itu pemimpin termuda di perusahaan raksasa 
Amerika tersebut. Seka ligus lu lusan sekolah dalam negeri pertama yang menjadi 
bos GE Indonesia.

Menjadikan Abraham Lincoln sebagai inspirator, Handry dikenal pantang menyerah. 
Pada 1994, meski menjalani kemoterapi karena kankernya ternyata menjalar ke 
pinggang dia tetap tegar. "Saya selama ini dikasih jalan sama Dia."

Juga saat Maret 2010 diketahui tulang belakangnya ada kelainan, fisiknya merasa 
sehat. Bedanya, kali ini suami Dinar Sambodja itu selama tiga pekan, selalu 
khawatir secara psiko logis karena ada saja yang tak lancar, dokter tak ada, 
atau pembaca hasil la boratorium absen. 

Mengubur keinginan menjadi ilmuwan dari Stanford University, Handry tetap 
tertarik pada bidang akademik. Dua pekan lalu dia meraih gelar doktor di bidang 
manajemen dengan disertasi tentang efek kepercayaan orang sekitar terhadap 
peningkatan kualitas pemimpin. Dia meruntuhkan keangkeran ruang sidang doktoral 
yang biasanya tanpa canda. "Semarak, dia memang biasa bergurau," kata Riri, 
yang hadir dalam sidang doktornya di Universitas Indonesia. 





CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the 
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is 
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the 
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this 
communication. If you have received this communication in error, please notify 
us immediately by return email and delete the original message.




      

Kirim email ke