Ya benar Pak Aruan... banyak sarjana pertanian/kehutanan/perikanan yang masuk ke profesi lain. Memang amat disayangkan ya.. tapi ya bagaimana lagi wong supporting dari pemerintah untuk pengembangan bidang-bidang ini amat sangat kurang jadi ya banyak yang alih profesi. Hanya bisa ngelus dada ajalah.... Salam, boedi dayono
On Thu, 2010-09-02 at 07:48 +0800, Maringan Aruan wrote: > > > Terima kasih p Boedi. > Jika tidak salah, beliau ini pernah memberi pencerahan di Bank Mandiri > tentang 'Six Sigma'. Cara penyampaiannya bagus. > Pertanyaan saya: kenapa beliau ini tidak berupaya mengembangkan > PERTANIAN di Indonesia? Latar belakang pendidikannya dr IPB?? Sangat > paradoksal sekali.... > Mungkin hal begini yang menjadikan kita selalu terpuruk di segala > bidang krn kita lebih cenderung ke 'material'. > TIDAK ADA KEBANGGAAN atas PROFESI... Ha..ha.. > Salam, > R1 > > Sent from my iPad > > On 1 Sep 2010, at 08:13 AM, Boedi Dayono <[email protected]> > wrote: > > > > > > > > > > > Tempo Online, 02 Agustus 2010 > > > > > > > > Mewujudkan Mimpi dari Kursi Roda > > > > + "Saya butuh Anda di sana, Anda bisa melakukannya? > > - "Saya pikir bisa, Pak." > > + "Oke, see you there!" > > > > Percakapan itu terus di ingat oleh Handry Satriago. Inilah tantangan > > besar yang mesti diatasi untuk mencapai mim pinya: bepergian ke luar > > negeri. Paspor yang dibuatnya semasa masih duduk di bangku sekolah > > menengah atas di Labschool Rawamangun pada 1986 akhirnya terisi > > stempel Imigrasi untuk pertama kalinya sebelas tahun kemudian. > > Singapura menjadi negeri pertama yang harus didatangi Handry sebagai > > Manajer Pengembangan Bisnis General Electric (GE) Indonesia. > > > > "Kepercayaan Stu yang membuat saya yakin bisa," ujar Handry tentang > > permintaan Stuart Dean, Presiden GE ASEAN. Keterbatasannya langsung > > diatasinya saat naik burung besi menuju negeri di utara Pulau > > Sumatera itu. Sejak itu, meski duduk di atas kursi roda, dia sudah > > mengunjungi berbagai negara, termasuk Amerika Serikat markas GE, > > hingga diangkat sebagai Presiden General Electric Indonesia. "Semua > > ditunjukkan Yang Di Atas," katanya tanpa kesan merendah. > > > > Tiga belas tahun di perusahaan raksasa Amerika itu, Handry menjadi > > seorang motivator dan pebisnis ulung. Hampir semua yang dipegangnya > > menjadi bisnis yang ditakuti oleh pesaingnya. Misalnya, di bisnis > > lighting (pencaha yaan), dia menghasilkan US$ 6 juta dalam dua tahun > > kepemimpinannya. Sebelumnya di GE tak ada yang melirik bidang itu, > > karena dianggap tak prospektif karena dikuasai Philips. > > > > Putra tunggal pasangan Djahar Indra dan Yurnalis Indra itu > > menyanggupi tantangan membuat lighting menjadi bisnis sendiri, > > terpisah dari consumer goods. Hasilnya, antara lain, tata cahaya di > > Bandar Udara Ngurah Rai dan siraman cahaya ke Candi Prambanan. > > > > Dia merintis ide bisnis menjual paket cahaya dengan kontrak jangka > > panjang dengan sejumlah pabrik besar dan kecil kimia, cat, dan > > tekstil. "Anda santai saja, tata cahaya efisien kami yang urus," > > ujarnya. > > > > Ketika menerima tantangan dari Stuart, nilai tukar rupiah terhadap > > dolar terjun bebas dari Rp 2.500 menjadi Rp 15 ribu. "Ketika sign > > kontrak, masih Rp 2.500. Saat barang datang tiga kontainer, jadi Rp > > 15 ribu." Kontan, para pelanggannya di Glodok menolak barang itu. > > Tak menyerah, Handry membujuk mereka membuat kontrak jangka panjang, > > menjual barang tersebut dengan separuh nilai tukar. > > > > Dengan cara itu, dia memotivasi tim yang terdiri atas orang-orang > > muda bahwa solusi bisa diperoleh di tengah kesulitan. "Mereka juga > > antusias karena diberi kepercayaan," ujarnya. Inilah praktek > > kepercayaan pemimpin dengan pengikutnya yang menjadi resep > > andalannya. Selanjutnya, cerita sukses berlanjut ketika dia diminta > > memimpin bisnis di bidang energi. Dari 25 gigawatt listrik yang > > terpasang di Indonesia, 500 megawatt adalah karyanya. "Bangga juga, > > ha-ha-ha...," Handry melepas tawa. > > > > > > l l l > > > > Sambil merangkul Basri Adhi, Handry menapaki satu per satu tangga > > kampus Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor. > > Karibnya itu, dan kawan kuliah lain, setia membopong Handry yang > > kedua kakinya dipasangi besi penopang supaya bisa berjalan tegak > > dengan kruk. Tujuan mereka: Laboratorium Gambar Teknik di lantai > > empat. > > > > "Ya, berat, he-he-he...," kata Basri. Satu teman lagi mengangkut > > kursi rodanya. Mereka teman sekelas Handry, selalu senang dengan > > Agogo pang gilannya kala kuliah yang memberikan energi positif untuk > > terus berjuang dan ceria dalam hidupnya. Begitu terus sejak 1989, > > sampai 1993 Handry menyelesaikan kuliahnya. Skripsinya diganjar > > predikat sangat memuaskan. > > > > Di SMA Labschool Rawamangun, Riri Riza, sutradara film Laskar > > Pelangi, ingat pertama kali karibnya itu masuk sekolah lagi setelah > > absen lebih dari sebulan. Dengan penyangga kaki, Handry terlihat > > santai dan berlaku seperti orang normal. "Sama sekali enggak > > berubah, enggak minder, enggak kelihatan sedih, dan masih nongkrong > > bareng kami," kata Riri. Saat itu, di usia 17 tahun, Handry > > didiagnosis kena kanker getah bening di sumsum tulang belakangnya > > dan mesti dioperasi. > > > > Teman-teman satu kelompok bermain memperlakukan Handry seperti orang > > normal, dengan pembicaraan yang tak pernah membuat Handry > > tersinggung dengan keadaannya. Ketika nonton teater bareng, mereka > > menggotong Handry untuk masuk gedung teater. > > > > Riri sejak awal sudah yakin, keterbatasan berjalan tak akan menghala > > ngi pria berdarah Minang itu beraktivitas. "Sejak awal dia itu masuk > > jalur cepat, selalu selesai kelas lebih awal." Di Labschool dia > > termasuk "siswa yang dibayar". "Karena prestasinya bagus banget." > > Maklum, saat itu sekolah tersebut menjadi percontohan siswa berbakat > > dan buat yang mampu secara ekonomi. > > > > Kesederhanaan ekonomi Handry, yang ayahnya cuma pegawai logistik > > Total Indonesia, tak tampak dalam pergaulan. Wawasan Handry > > terbilang luas. Dia mampu bicara tentang musik rock dan metal yang > > sedang booming, sambil bicara klasik dan pop. "Waktu itu, baru dia > > yang paham Simon & Garfunkel, he-he-he...." > > > > Dia menilai cuma sedikit orang yang seimbang hasrat main dan hobi > > bela jarnya seperti Handry. Perbincang an dengannya terentang dari > > rencana madol alias bolos sekolah sampai membuat proyek ilmiah. > > Bicara dengan Handry, kata Riri, "Penuh warna kehidupannya." > > > > Solidaritas dan perlakuan sama dengan orang normal membuat Handry > > nyaman. "Teman-teman membuat saya percaya diri,"katanya. Kondisi itu > > menumbuhkan semangatnya melawan keterbatasan. > > > > Di lingkungan rumahnya, Handry bertetangga dengan pentolan pers > > Indonesia, Atmakusumah Sastraatmadja, Goenawan Mohamad, dan > > budayawan Umar Kayam. "Saya beruntung tetangga saya orang-orang > > hebat." Sejak di sekolah menengah pertama, di kompleks Griya > > Wartawan, Kebon Nanas, Jakarta Timur, wawasan seni dan sosial > > politiknya ditempa karya-karya seni klasik dan pop, serta sastra > > kritis, dari Shakespeare sampai Pramoedya Ananta Toer. Buku dan > > diskusi didapatnya di rumah Atma dan Umar Kayam. > > > > Di sana dia juga mengenal teater dan musik klasik. "Anak-anak kami > > sudah menganggapnya kakak, dan ini sudah seperti rumahnya sendiri," > > ujar Atma. Handry suka sekali gulai kambing masakan Sri Rumiati, > > istri Atmakusumah. > > > > Penggemar Meryl Streep itu selalu dibopong ketiga putra Atma ke > > lantai dua Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Di gedung > > teater itu, mereka nonton drama, misalnya Teater Koma. > > > > Lantaran pengaruh pers yang kental, Handry sempat tergiur menjadi > > wartawan. "Ikut karnaval, saya pakai rompi, bawa kamera, kayak > > wartawan, deh," kata pengagum Syahrir itu. > > > > Selepas kuliah, dia direkrut sebuah perusahaan teknologi mengurus > > majalahnya. Tiga tahun menabung hasil kerjanya, dia sekolah lagi di > > Institut Pengembangan Manajemen Indonesia Business School, dan lulus > > cum laude dengan dua gelar master. Sambil kuliah, dia membuka usaha > > desain grafis dengan kawan-kawan dan saudaranya. > > > > Predikat itu membuatnya dibujuk pencari bakat dari General Electric > > untuk masuk ke perusahaan tersebut. "Saya tolak. Ngapain? Saya punya > > bisnis sendiri, kok." Maklum, bisnisnya sedang maju pesat. Sang > > pencari bakat tak menyerah, sambil menerangkan segala macam > > fasilitas yang bisa didapatkannya. Segala fasilitas dan perjalanan > > keluar negeri membuatnya kepincut. Posisi pertamanya Manajer > > Pengembangan Bisnis GE Indonesia. Dia mematok target menjadi Jack > > Welch, CEO GE. > > > > Tiga belas tahun kemudian, dalam perjalanan ke Vietnam untuk urusan > > bisnis energi pembangkit listrik, dia ditawari posisi Presiden GE > > Indonesia. Jadilah pria kelahiran Riau, 13 Juni 1969, itu pemimpin > > termuda di perusahaan raksasa Amerika tersebut. Seka ligus lu lusan > > sekolah dalam negeri pertama yang menjadi bos GE Indonesia. > > > > Menjadikan Abraham Lincoln sebagai inspirator, Handry dikenal > > pantang menyerah. Pada 1994, meski menjalani kemoterapi karena > > kankernya ternyata menjalar ke pinggang dia tetap tegar. "Saya > > selama ini dikasih jalan sama Dia." > > > > Juga saat Maret 2010 diketahui tulang belakangnya ada kelainan, > > fisiknya merasa sehat. Bedanya, kali ini suami Dinar Sambodja itu > > selama tiga pekan, selalu khawatir secara psiko logis karena ada > > saja yang tak lancar, dokter tak ada, atau pembaca hasil la > > boratorium absen. > > > > Mengubur keinginan menjadi ilmuwan dari Stanford University, Handry > > tetap tertarik pada bidang akademik. Dua pekan lalu dia meraih gelar > > doktor di bidang manajemen dengan disertasi tentang efek kepercayaan > > orang sekitar terhadap peningkatan kualitas pemimpin. Dia > > meruntuhkan keangkeran ruang sidang doktoral yang biasanya tanpa > > canda. "Semarak, dia memang biasa bergurau," kata Riri, yang hadir > > dalam sidang doktornya di Universitas Indonesia. > > > > > > > > > > > > CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use > > of the individual or entity to whom it is addressed and contains > > information that is privileged and confidential. If you, the reader > > of this message, are not the intended recipient, you should not > > disseminate, distribute or copy this communication. If you have > > received this communication in error, please notify us immediately > > by return email and delete the original message. > > > > > > > > CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the individual or entity to whom it is addressed and contains information that is privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this communication. If you have received this communication in error, please notify us immediately by return email and delete the original message.
