Mengembangkan Wawasan Multikultural
Oleh: Haeri Fadly
Aktivis KATALIS-PSIF UMM, dan bergiat di Religious and Social Studies
(RëSIST) Malang
Tanggal 28 Oktober 1928 menjadi momen bersejarah bagi bangsa Indonesia. Ikrar
Sumpah Pemuda yang berkumandang sebagai manifesto komitmen dan kesetiaan
terhadap kesatuan dan persatuan bangasa dalam nafas keindonesiaan.
Ikrar Sumpah Pemuda itu bukan sekedar ungkapan tanpa makna. Ada esensi yang
sangat mendasar yaitu: semangat perjuangan, dedikasi, dan pengorbanan untuk
persatuan dan kesatuan bangsa yang multikultural dengan nafas nasionalisme.
Bersatu dalam perbedaan (unity in diversity).
Pluralitas atau multikulturalitas sebagai realitas hidup adalah niscaya
adanya. Dalam Islam, pluralitas dan multikulturalitas merupakan sunnatullah.
Keduanya adalah titah Tuhan yang tidak boleh ditolak atau diingkari. Sehingga
kita harus mengakui dan mengapresiasi dengan baik sebagai bagian dari skenario
Tuhan dalam menciptakan dunia ini.
Sejalan dengan pengakuan dan penghargaan Islam terhadap multikulturalisme,
maka sangat penting bagi generasi muda sekarang melakukan semangat gerakan
multikulturalisme untuk mewujudkan kesadaran masyarakat tentang keragaman
kultural, hak-hak asasi manusia, serta pengurangan atau penghapusan berbagai
jenis prasangka untuk membangun kehidupan masyarakat yang toleran, damai dan
adil.
Sebagai fakta sosial, memang multikulturalisme menjadi sesuatu yang tak
terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Namun terkadang hal ini belum
banyak yang menyadari untuk diapresiasi dengan baik. Seperti bangsa Indonesia
yang memang ditakdirkan sebagai bangsa yang majemuk di dunia. Multikulturalitas
ini merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya bagi kita yang belum tentu
dimiliki oleh bangsa lain.
Perbedaan suku, budaya, bahasa, agama dan etnis bukan sebagai penghalang
untuk merealisasikan cita-cita kehidupan yang harmonis, damai, dan demokratis
dalam bingkai multikulturalisme. Tetapi perbedaan tersebut bisa menjadi perekat
integrasi bangsa dari perpecahan atau separatisme yang setiap saat mengintip di
sela-sela kehidupan berbangsa dan bernegara ini.
Nah, pluralitas dan multikulturalitas adalah modal sosial (social capital)
yang sangat berharga untuk membangun kekuatan nasionalisme yang toleran dan
penuh penghargaan terhadap orang lain. Bukan nasionalisme buta yang mengabaikan
keragaman budaya lokal.
Menurut Syamsul Arifin, paling tidak ada dua pertimbangan tentang urgensi
multikulturalisme untuk dijadikan paradigma praksis di Indonesia. Pertama,
keragaman masyarakat. Di tengah-tengah masyarakat Indonesia dengan keragaman
budayanya, tentunya meniscayakan ideologi multikulturalisme sebagai paradigma.
Dalam konteks ini, multikulturalisme tidak cukup diapresiasi sebagai fakta
sosial semata bahwa masyarakat kita adalah beragam atau majemuk. Tetapi
menuntut sebuah komitmen dari semua komponen masyarakat untuk menjaga dan
memeliharanya sebagai mozaik kehidupan yang penuh dengan warna-warni. Salah
satu penyangga untuk menegakkan keberlangsungannya adalah melalui ideologi
multikulturalisme.
Multikulturalisme yang ada dalam masyarakat harus dijadikan studi kasus
bagaimana seharusnya sistem kehidupan sosial itu dilaksanakan. Sebagai fakta
dan data, multikulturalisme penting menjadi paradigma sistem sosial. Sistem
sosial (pendidikan, budaya, ekonomi) tidak boleh terlepas dari kerangka
kebudayaan masyarakat Indonesia yang multikultural. Seperti Pendidikan Nasional
harus mengintegrasika multikulturalisme sebagai visi menuju Indonesia yang
toleran dan demokratis.
Kedua, ancaman segregasi sosial. Keragaman kultural yang terjadi di
tengah-tengah masyarakat jika tidak dikemas dengan baik akan bermuara pada
terjadinya pertentangan sosial. Perlakuan diskriminatif dalam ruang publik
dapat mengakibatkan terjadinya segregasi sosial.
Pada tataran politis, multikulturalisme diarahkan pada pengembangan dan
penguatan NKRI sebagai nation-state. Di era otonomi dan eforia reformasi,
seluruh masyarakat digugah kembali kesadarannya untuk sama-sama menjaga
integrasi bangsa yang rentan bagi terjadinya separatisme.
Fakta sejarah tentang lepasnya Timor-Timur merupakan salah satu contoh yang
tak patut diulangi lagi. Bibit-bibt separatisme lain yang tumbuh di
daerah-daerah juga menjadi ancaman baru bagi keutuhan NKRI. Begitu juga pada
tataran kultural multikulturalisme diarahkan pada pengembangan kesadaran untuk
mengakui, menerima, dan menghargai tentang perbedaan yang terjadi di
tengah-tengah masyarakat. Kesadaran multikultural diharapkan bisa menjadi state
of mind dalam hidup bermasyarakat. Sehingga tiap-tiap individu bisa memahami
dan menghargai perbedaan-perbedaan yang ada dalam masyarakat.
Adanya konflik-konflik sosial yang masih terjadi di beberapa daerah di
Indonesia memberikan gambaran bagi kita bahwa di tengah-tengah masyarakat masih
banyak orang yang tidak siap menerima perbedaan untuk hidup rukun berdampingan.
Bahkan ada yang bersikap melebihi Tuhan dan mau menjadikan sesuatu di dunia ini
menjadi satu (monokultur).
Nurcholis Madjid pernah mengatakan bahwa kita mungkin tidak memenuhi syarat
untuk bisa hidup rukun dan damai dalam perbedaan. Apa yang dikatakan oleh Cak
Nur ini merupakan bentuk keprihatinan sekaligus kekecewaan melihat kondisi
masyarakat Indonesia yang penuh dengan konflik.
Kini, pemuda-pemudi sebagai penerus sejarah peradaban bangsa mempunyai
tanggungjawab besar untuk memelihara dan meneruskan cita-cita dan semangat
Sumpah Pemuda. Melestarikannya dengan berbagai aktivitas-aktivitas positif yang
dapat mendukung terciptanya kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman,
bersatu, dan toleran.
Pemuda-pemudi sebagai agent of change mempunyai peran sangat strategis dan
efektif untuk menggerakkan dan menyemaikan rasa pengertian, penghargaan,
kebersamaan, dan kesederajatan sosial antara satu dengan lainnya baik sebagai
individu, komunitas, maupun budaya.
Momentum Sumpah Pemuda hendaknya kita jadikan semangat mengembangkan sikap
dan wawasan multikultural dalam kehidupan sahari-hari. Sikap dan wawasan
multikultural dalam memupuk kesadaran untuk mengakui, menerima, dan menghargai
akan perbedaan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Sehingga peringatan
Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi ritual tahunan yang tidak mempunyai efek
terhadap prilaku kita sehari-hari. Hidup Pemuda!
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com