Punten, saya ingin ikut sumbang ide. Sebenarnya kasus "book smart" vs "street
smart" yang terjadi pada "anak asuh" Mas Eko, tidak harus dijadikan dikotomi.
Bisa kok, keduanya digabungkan. Asal saja beban kurikulum di sekolah reguler
sekarang dikurangi. Jangan sampai anak-anak Indonesia nantinya hanya jadi
"tukang menghafal" yang nantinya malah jadi depresi dan frustasi seperti
kasus-kasus yang terjadi di anak-anak sekolah Jepang dan Korea Selatan.
Punten, kalau ada yang tidak berkenan.
Cornelia Istiani <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Eko,
Saya suka sejarah justru setelahsetelah baca buku-buku karya Pramudya (PAT) dan
Romo Mangun..saya bisa bener-bener bisa menghayati paling tidak merasakan
semangat jaman itu..kalau sejarah rasanya sekarang ini menajdi pelajaran yang
"kering"..
Mengenai anak asuh bapak yang jelas bukan karena UN lho mereka cerdas seperti
Mc Gyver atau tidak cerdas seperti patrick di spongebob (he..he..becanda lho)
karena UN itu hanya kegiatan pengukuran kompetensi yang resultnya berupa angka
indeks..tidak lebih tidak kurang..di kedua tempat terdapat perbedaan kan
mengenai proses pembelajaran di tempat sekolah masing-masing...dan dukungan
lingkungan keluarga...proses pembelajaran yang seharusnya mampu mendorong
semangat anak untuk belajar apalagi sampai tercipta life long learning
(indahnya negeri ini...)..Sekarang hanya berharap pada BSNP (bisakah
ddiharapkan??) mudah-mudahan tidak menyimpang dari misi-nya..
Saya hanya tergelitik dengan komentar bahwa UN yang jadi penyebab.. Kalau
ternyata causal effect dari UN seperti itu (mata pelajaran lain diabaikan dan
hanya mengejar nilai UN) saya pikir ada masalah yang serius sekali..tapi tetap
bukan pada keberadaan UN itu sendiri..Kenapa sekolah menjadi seperti itu?
padahal proses pembelajaran itu tanggung jawab masing-masing sekolah. apakah
sekolah nya yang tidak (mau) mengerti dan memahami UN? atau jangan-jangan ada
di masalah pada instrumen pengukuran akreditasi sekolah? yang jelas kalau yang
dituding UN sebagai penyebab merosotnya katakanlah rasa kebangsaan atau
pelaajran sejarah diabaikan oleh peserta didik..itu menyesatkan.
salam,
Istiani