Globalisasi Pantas Dibela --> Globalisasi Harus Diantisipasi
Dengan
<http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/19788;_ylc=X3oDMTJyaXJzZHY2BF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzk3NjQwNjcEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MzI5NzI5BG1zZ0lkAzE5Nzg4BHNlYwNkbXNnBHNsawN2bXNnBHN0aW1lAzExNzI5MjcyNTU->
Posted by: "Mang Iyus" [EMAIL PROTECTED]
<mailto:[EMAIL PROTECTED]>
juswan_setyawan <http://profiles.yahoo.com/juswan_setyawan>
Fri Mar 2, 2007 7:31 pm (PST)
Komentar:
Bagaimana survive menghadapi Globalisasi?
Globalisasi tidak dapat dilawan secara frontal. Ibarat pelanduk mau
melawan gajah. Mengapa? Karena di balik fenomen dan arus Globalisasi
itu
bermain tentakel-tentakel oktopus MNC yang luar biasa perkasanya. Asset
tangible satu MNC dapat melebihi GNP suatu negeri tertentu seperti
Indonesia ini. Gila nggak? Apalagi kalau sudah berupa konglomerasi
banyak MNC. Republik Rakyat Cina berani menolak giuran WTO. Malaysia
juga. Apakah Indonesia berani? Secara retorik mungkin saja berani,
tetapi secara ‘de facto’ bakal lain lagi ceritanya.
Globalisasi telah membentuk struktur-struktur baru yang semakin
homogen.
Pasar modern misalnya mampu mematikan pasar tradisional. Bukan hanya
itu
raksasa Sogo di Jakarta juga bakal mati rupanya. “Bayi” Debenhams?
Entahlah! Mungkin bisa bertahan lewat snobisme sebagian warga papan
atas
megalopolitan kita. Kita menyaksikan munculnya raksasa seperti
Carrefour, Giant, Walmart, AM-PM atau Makro di mana-mana. Mau – dan
bila
mau akan mampukah Pemerintah menghambat laju pertumbuhannya? Sistem
kreditnya juga sangat mematikan; dilindungi kedok aturan administratif
yang kaku. Sewaktu banjir awal bulan ini kami terlambat 2 hari membayar
tagihan Carrefour (dibayar tgl 6, due date tgl 4). Tahukah kami terkena
berapa besar dendanya? Tanpa ampun dan kompromi kami dikenakan sekitar
35.000-an. Hanya 35.000-an kok ribut! Lho, itu artinya dendanya
gila-gilaan. Buset dah!
Bank-bank juga demikian. Misalnya adanya aturan yang menetapkan basis
saldo minimum sebesar 200 ribu. Sadarkah kita bahwa bila saldo kita di
bawah angka tersebut maka uang 200 ribu itu ujung-ujungnya akan habis
diperas atas nama “biaya administrasi” dan akhirnya “biaya penutupan”?
Kita yang kini menabung buat bank... apakah dunia ini bukannya sudah
terbalik? Kalau satu deposan 200 ribu berapa yang dirampok bank bila
jumlah deposannya puluhan juta orang? Jumlahnya bisa 200 milyar man!
Pernahkah Pemerintah memikirkan sistem bank yang – boro-boro
menguntungkan – minimal melindungi para deposan kecil yang sejak kecil
dia ajar “bang bing bung yo kita nabung?” bla bla bla...
Globalisasi memang tidak terhindarkan sebagai fenomen ‘macro system’.
Ini hanya soal waktu. Sooner or later. Kemudahan sistem telekomunikasi
dan transportasi modern yang serba cepat – dan relatif terjangkau -
memang sangat mempengaruhi kecepatan laju arus Globalisasi ini. Pesta
sepakbola World Cup saja misalnya mampu menyedot perhatian audience di
seluruh dunia seakan-akan telah menjadi “agama” baru bagi para
pencandunya. Lengkap dengan “paus”, “santo’, “hymne”, “credo”,
“cathedral” dan “jemaat”nya!
Globalisasi juga membentuk kultur baru bagi generasi muda. Misalnya
saja
mulai terbentuknya kebiasaan baru untuk bermalam mingguan sambil
menyeruput kopi eskrim di Starbucks (atau sejenis) sampai larut malam.
Kebiasaan baru untuk nongkrong berlama-lama di Mal-mal. Untuk chatting
dan berinternet ria atau malah bercengkerama antar kawan maya di
seantero jagat dengan biaya murah lewat fasilitas Skype. Dengan pulsa
lokal saya dapat ngobrol sampai mulut berbusa – misalnya – dengan Mang
Ucup di negeri Belanda... Rita di New York atau Romo Teja di Mumbay.
Globalisasi pantas dibela? Tanpa dibelapun ia akan menghantam kita
ibarat hantaman gelombang hiper dahsyat tsunami.
Apa hubungan MSG dengan Globalisasi? Ada juga sih, kalau mau
dikait-kaitkan. Informasi bahwa MSG dengan “chinese restaurant
syndrome”nya dapat diakses dengan sangat mudah lewat internet. Sehingga
timbul “kesadaran baru” dan global merata bahwa konsumsi MSG berlebihan
dapat merusak otak dan hari depan anak manusia. Apa hubungan telepon
seluler dengan Globalisasi? Telepon seluler memungkinkan manusia di
seluruh dunia dapat diakses dengan cepat dan direk sekalipun ia sedang
berada di gereja, di rapat, di spa resort, di starbak, sedang dugem, di
panti pijit, di apatemen WIL, bahkan sedang nongkrong-ngeden di toilet.
Kemajuan IT ini telah ikut membentuk, memfasilitasi dan mempercepat
arus
Globalisasi.
Lalu kita harus bagaimana dong? Menyerah saja? Basis perlawanan
terhadap
dampak negatif Globalisasi pada front terakhirnya justru terletak pada
perisai (spiritualitas) pribadi masing-masing. Caranya? Melalui
pendidikan nilai-nilai unggul. Hanya manusia integer (berintegritas
tinggi) yang mampu menahan diri terhadap seretan arus globalisasi.
Gampang? Sama sekali tidak gampang bahkan membutuhkan perjuangan yang
luar biasa beratnya. Mengapa? Globalisasi menyebabkan arus “brain
drain”
semakin deras ke negara-negara kuat sehingga negara lemah akan semakin
kekurangan SDM yang berkualitas tinggi. Dalam perebutan kesempatan
kerja
di dalam negeri saja maka posisi Manajer dan Direktur akan direbut
expatriate dengan kualifikasi global - minimal regional. Mereka itu
yang
akan (sedang) menguasai pasaran lokal. Akibatnya SDM lokal hanya akan
rebutan membanjiri jabatan residu pada level bawah, maksimal sampai
supervisory level saja. Itupun pada perusahaan milik asing milik negara
tertentu, seorang foreman Korea atau Jepang parafnya lebih “bunyi”
dibandingkan dengan tanda tangan seorang direktur lokal !
Dalam dunia pendidikan juga demikian. Berbagai International School
sedang ikut ambil bagian dalam merebut pangsa pasar pendidikan di
negeri
ini. Para sarjana Strata dua bahkan tiga yang sudah bergaji lumayan di
negaranya sendiri, cuma dengan menjadi guru level SLA saja di sini akan
memperoleh kenikmatan hidup model raja-raja. Bagi mereka disediakan
apartemen, sopir pribadi, fasilitas berobat, fasilitas antar-jemput ke
sekolah (artinya gaji tetap utuh), fasilitas main golf atas biaya
sekolah dsb. Ini sifatnya mutual symbiosis memang. Anak TK yang sekolah
di sini dengan cepat terbukti berhasil “disulap” menjadi anak polyglot
yang asertif. Maka hari depannya juga tampak akan semakin cerah. Mereka
nantinya dengan mudah akan “mempecundangi” para sarjana “local made”
yang terbata-bata - dan tersipu-sipu memaksakan diri berbahasa asing
dalam rapat kerja dengan sejawat antar negara (yang di kelas mungkin
hafalan bahasanya dapat nilai A).
Bagaimana dalam bidang tata niaga pangan? Apakah Pemerintah kita
peduli?
Tampaknya tidak. Kalau harga gabah jatuh atau panen hancur
bagaimana? Ya
kita impor saja beras dari Vietnam untuk menjaga stok besi Bulog. Lho
kok kita yang pernah swasembada beras kok jadi pengimpor rutin? Ya
karena bagi petani menanam padi itu itung-itungan akhirnya bakalan
tekor. Bibit (Sang Hyang Sri) wajib beli, pupuk mahal, insektisida
mahal, barang-barang konsumsi serba mahal, tetapi harga gabah merosot
terus. Harga pupuk harus ikut bersaing dengan harga internasional,
bagaimana para petani kita tidak akan bonyok terus? Mengapa? Karena
BUMN
harus jadi “profit center” dan bukan jadi organ pensubsidi petani.
Pandangan Sukiadi dan Manneke keduanya ada aspeknya yang benar. Tetapi
kita tidak concern lagi dengan masalah dikotomi benar-salah yang
normatif. Concern kita harus berubah kepada masalah survival. Bagaimana
rakyat kita dapat survive dalam era persaingan Global yang bersifat
“homo homini lupus” ini? Bila standar normatif harus berubah
(degradasikah?) menjadi survival, maka kita benar-benar harus berpikir
keras dan cerdas. Bangsa tel-mi dan mal-mi tanpa kemampuan berpikir
antisipatif akan lumat digilas arus Globalisasi tersebut.
Mang Iyus
Re: Globalisasi Pantas Dibela
Posted by: "Manneke Budiman" [EMAIL PROTECTED]
<mailto:mannekebudiman%40yahoo.co.uk>
<mailto:[EMAIL PROTECTED]
<mailto:mannekebudiman%40yahoo.co.uk>?Subject=%20Re%3A%20Globalisasi%20Pantas%20Dibela>
mannekebudiman <http://profiles.yahoo.com/mannekebudiman
<http://profiles.yahoo.com/mannekebudiman>>
Fri Mar 2, 2007 7:51 am (PST)
Ini kok reaksinya jadi nggak proporsional? Yang mau ngelarang orang
pake
ponsel itu siapa? Lagian, apa sih hubungan MSG dan globalisasi? Tolong
diperjelas. Justru di negara-negara maju, MSG sudah dihapus dari
dapur-dapur.
Soal pecundang, justru dengan bersikap kritis terhadap dampak negatif
globalisasilah maka kita tak jadi pencundang. Menerima globalisasi
bulat-bulat dengan sikap pasrah, seolah-olah globalisasi tak dapat
dilawan (emangnya globalisasi itu Tuhan?), inilah justru yang cocok
disebut pecundang sejati.
Dulu, banyak orang juga ngerasa tak yakin kolonialisme dapat dilawan.
Ternyata bisa tuh?
manneke
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Something is new at Yahoo! Groups. Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/kOt0.A/gOaOAA/yQLSAA/vbOolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
=====================================================
Pojok Milis FPK:
1.Milis FPK dibuat dan diurus oleh pembaca setia KOMPAS
2.Topik bahasan disarankan bersumber dari KOMPAS dan KOMPAS On-Line (KCM)
3.Moderator berhak mengedit/menolak E-mail sebelum diteruskan ke anggota
4.Kontak moderator E-mail: [EMAIL PROTECTED]
5.Untuk bergabung: [EMAIL PROTECTED]
KOMPAS LINTAS GENERASI
=====================================================
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/Forum-Pembaca-Kompas/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/