Yang saya amati, makin banyak pemuda-pemudi Indonesia yang mencari ilmu di LN dengan biaya sendiri atau beasiswa. Mereka kebanyakan gak tanggung-tanggung sampai doktor. Kemudian cari kerja di LN dengan gaji yang jauh lebih besar dibandingkan dengan gaji di Indonesia. Di Malaysia., untuk lulusan doktor tidak susah cari kerja, banyak universitas yang masih baru bediri mau menerimanya. Standar di Malaysia untuk doktor yang baru lulus RM 6.000 (16 juta rupiyah) senulan. + tunjangan. Jadi, ada kemungkinan satu saat nanti Indonesia dapat mengespor tenaga kerja intelektual yang paling besar di Asia. Mudah-mudahan bukan TKPRT (Tenaga kerja pembantu rumah tangga) lagi yang diekspor. Salam Mahreni
----- Original Message ---- From: john simon <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Monday, March 5, 2007 12:46:36 PM Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: More than half Singaporeans hate Indonesian workers? Pak Sukiadi, Jangan pesimis Pak, bahwa kita tidak bisa mengekspor TKIL (Tenaga Kerja Intelektual) . Sekarang saja banyak sekali anak-anak muda kita yang pintar, setelah berhasil kuliah di luar negri, termasuk Singapore, kemudian lulus, lebih suka bekerja di LN. Atlit-atlit kita yang berpotensi pun mulai pelan-pelan hijrah ke LN. Bambang Pamungkas ke Malaysia, Tony (pemain bulutangkis) ke US, dll. Sebaliknya saya cemas, jangan-jangan mulai terjadi "brain drain" manpower kita yang bermutu/cerdas ke luar negri. Salam.
