Dear Bung Fadjar,

  Memang benar apa yang saudara utarakan terutama jika anda melihat cerita Mr 
Jia-Jia dari kacamata HAM. Kita semua setuju bahwa pelanggaran HAM di China 
"cukup" tinggi terkait dengan laporan2 dan kejadian yang nyata. Masalah HAM 
yang terjadi di China merupakan 1 dari sekian banyak masalah yang ada di 
seluruh NEGARA, bahkan NEGARA SUPER POWER yang MENGAGUNG-AGUNGKAN DEMOKRASI pun 
melakukan hal yang SAMA!

  Coba kita lihat "MOTIF" dibalik berbagai serangan militer (jika kita tidak 
mau mengatakan "INVASI MILITER") dengan dalih2 DEMOKRASI, SENJATA PEMUSNAH 
MASAL, TERORIS, NUKLIR DLL) di berbagai negara TIMUR TENGAH (Irak, Palestina, 
sebentar lagi Iran......?) atau DEMOKRASI yang meluluhlantakan Uni Soviet! 
Hasilnya? kita semua tahu............Kita tidak antipati dengan gerakan 
demokrasi, justru kita harus mendukung! Namun jika gerakan demokrasi yang 
dibangga-banggakan tersebut ternyata di-Tunggangi oleh "Negara-Negara" lain dan 
membahayakan keutuhan Negara, apakah kita dapat mentolerir? Yang kasihan adalah 
para pendemo yang secara tak sadar telah menjadi PION & KORBAN untuk 
menyukseskan rencana/motif negara2 tersebut!

  Dalam kasus China, jika kita melihat dari sisi HAM..jelas banyak sekali 
pelanggaran HAM yang terjadi. Namun jika kita melihat dari perspektif Negara, 
maka dengan berat hati akan saya katakan itulah usaha untuk menjaga KEUTUHAN 
NEGARA. Ingat Kasus Tiananmen? Siapapun tahu dalang dibalik gerakan 
pro-demokrasi tersebut yang mana model gerakan yang sama menghancurkan Uni 
Soviet menjadi beberapa negara bagian (untung tidak terjadi di Indonesia!). 
Jika Pemerintah China tidak melakukan tindakan keras, saya yakin China pun saat 
ini tidak berbeda dengan Uni Soviet (ingat, akan sangat sulit meng-handle 1 
milyar penduduk, jika anda tidak dapat meng-handle ribuan orang!)

  Jika anda ke China saat ini, dibalik kemegahannya masih banyak penduduk yang 
miskin dan hidup di pedesaan/pegunungan. Jika anda katakan bahwa kemiskinan itu 
karena China tidak menganut sistem DEMOKRASI, maka hal itu salah besar. Negara 
mana di dunia ini yang menganut SISTEM DEMOKRASI namun kaya raya? Australia, 
Jerman, Italia??? Tak satu pun! Secara umum : ok, actual? NO! Amerika? Negara 
kaya HUTANG..............Gak percaya? Coba kita lihat siapa pemegang devisa 
(denominasi USD) terbesar di dunia? Bukan AMERIKA dan EROPA melainkan JEPANG & 
CHINA

  Jika anda mempelajari sejarah China yang telah ribuan tahun 
(pemberontakan-penggantian dinasti-perang candu-pengepungan 8 negara dll) dan 
bayangkan jika anda adalah Pemimpin Negara, apa yang anda akan lakukan? Apakah 
China yang saat ini bisa BERDIRI TEGAK jika mereka menganut sistem demokrasi? 
BELUM TENTU!!!!!

  Kita tidak usah teriak jauh-jauh, coba kita lihat sejumlah kasus pelanggaran 
HAM yang terjadi di Indonesia (Tanjung Priok, Kerusuhan Mei 98, Aceh, 
Timor-Timor, penculikan dll) apakah hal tersebut dapat dibenarkan? TENTU SAJA 
TIDAK!!! Yang bersalah harus dihukum keras!!!!! Bahkan kalau perlu, Aktor 
intelektual dan pelakunya harus DIHUKUM MATI!!!! Yang murni kejahatan HAM ada 
beberapa diantaranya dan selebihnya terkait dengan eksistensi Indonesia sebagai 
Negara Kesatuan! Dalam hal ini, saya lebih menitikberatkan pada KEUTUHAN & 
KESATUAN NEGARA. Bayangkan kalau semua rakyat di daerah minta REFENDUM dan 
MERDEKA, buyarlah cita-cita SRIWIJAYA dan MAJAPAHIT serta FOUNDING FATHER!!!!

  Pada prinsipnya kita mendukung gerakan demokrasi yang benar-benar 
memperjuangkan HAM dengan catatan : TIDAK DITUNGGANGI.........

  Bicara soal Tibet, sama halnya kita bicara soal Timor2 yang minta merdeka. 
Jika Tibet merdeka, maka wilayah2 yang lain akan melakukan hal yang 
sama.......Dalam kasus Indonesia, untung daerah2 lain belum seberani Tibet, 
Uigur dll
  Bicara soal Falun Gong, dari sisi kesehatan memang OK namun ada beberapa 
ajaran yang menyimpang..............
  Bicara soal penetrasi agama, anda akan mengalami hal yang sama di manapun 
anda berada....enggak usah jauh-jauh, disini pun juga sudah banyak.....
  Bicara soal rasialisme, anda akan mengalami hal yang sama di manapun anda 
berada bahkan di negara2 bule sekalipun yang mengagung-agungkan anti 
rasialisme....coba lihat di Ausie, US, Dll....memang tidak menyolok namun 
perbedaan tetap ADA......

  Kita tidak antipati dengan cerita perjuangan Mr Jia-Jia dan rekan2nya, Kita 
pun akan kasihan dengan situasi dan kondisinya. Yang dapat kita lakukan sebagai 
sesama manusia adalah memberikan bantuan nyata baik materi maupun moril 
kepadanya atau rekan-rekannya seperti pada saat kita memberikan bantuan kepada 
sesama sudara korban bencana alam (banjir Jakarta, gempa bumi Aceh dll). Dalam 
konteks ini, saya hanya mencoba melihat cerita Mr Jia-Jia dari sudut pandang 
yang berbeda........................BENAR & SALAH ITU SANGAT TIPIS 
PERBEDAANNYA. KEBENARAN TIDAK BERLAKU ABSOLUT..........................

  salam damai
  HB



fadjar pratikto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Dear Bung Hendra,

Saya kira belajar dari sejarah, termasuk cerita dari
Mr. Jia-jia masih tetap relevan.Dengan demikian kita
akan bisa lebih arif dalam melihat masalah dan
berupaya memperbaikinya ke arah yang lebih baik di
masa depan. Apa yang Anda katakan bahwa selalu ada
cost sosial yang harus dibayar dalam setiap perubahan
sosial, saya tidak bisa pungkiri. Itu kenyataan yang
terjadi.

Tapi bukan berarti kita harus membiarkan cost sosial
itu sebagai kewajaran, tanpa pertanggungjawaban
sejarah, dan membiarkan peristiwa masa lalu itu
kembali berulang. Kalau logika itu yang digunakan,
apakah kita harus mentolerir peristiwa penculikan
terhadap para aktivis politik dan kerusuhan sosial
berdimensi rasialis yang terjadi di sejumlah daerah
menjelang tumbangnya rejim Soeharto? Tentu saja
pelanggaran HAM dalam bentuk apapun tetap harus ada
pertanggungjawabannya di depan hukum demi memenuhi
rasa keadilan.

Selain itu, cerita Mr, Jia-jia juga menjadi relevan
karena secara politik, penguasa China daratan masih
mempertahankan sistem diktator proletariat. Dimana
Partai Komunis (PKC) berkuasa secara absolut, shingga
tidak memberikan ruang sedikitpun kepada pluralisme
dan demokrasi meskipun secara ekonomi sudah berubah
kearah kapitalistik.

Tak heran jika sampai detik ini, penguasa China masih
menindas gerakan demokrasi, serta kelompok agama dan
spiritual seperti terhadap kaum Tibetan, muslim
Uighur, penganut Katolik dan pengikut Falun Gong.
Kalau Anda masih belum percaya, sejumlah berita dan
laporan tentang masalah ini mungkin bisa Anda lihat.

Misalnya laporan Amnesty International yang berjudul
"People’s Republic of China Uighurs fleeing
persecution as China wages its "war on terror" bisa
diakses di:
http://web.amnesty.org/library/index/engasa170212004

Atau laporan dari Christian Persecution Info yang
berjudul "China Detains 600 Christians, Demolishes
Churches, Report Shows'
http://www.christianpersecution.info/news/china-detains-600-christians-demolishes-churches-report-shows/

Tentang penyiksaan yang dialami oleh praktisi Falun
Gong di China hingga meninggal, termasuk pengambilan
organ secara paksa terhadap mereka dalam keadaan hidup
untuk kepentingan industri transplantasi, bisa dilihat
diwebsite Falun Gong Human Rights Working Group:
http://www.flghrwg.net/

Begitu juga tentang pelanggaran HAM yang terjadi di
Tibet yang dilakukan oleh penguasa China, bisa dilihat
di:
http://www.savetibet.org/news/positionpapers/religiouspersecution.php

Salam Damai
Fadjar pratikto, journalist dan aktivis sebuah NGO

Kirim email ke