Anda detail ya pak manneke...

FYI, saya tidak menulis 1000% tukang becak mau jadi guru. Tapi masih ada orang 
yang mau jadi guru.

Saya mencoba melihat dari sisi tanggung jawab moral seorang guru. Bahwa ada 
yang harus lebih dipentingkan daripada uang.
Kalau saya yang sudah bekerja, terus terang belum mau berpindah jadi
guru untuk pekerjaan inti saya.
Tapi untuk seorang tukang becak, saya rasa pasti ingin berpindah
pekerjaan inti.

Kalo dibilang mahal, tiap pertemuan saya hanya dibayar 17500,- (per
pertemuan 1,5 jam). Maksimal 10 pertemuan per minggu.
Bandingkan dengan guru yang 30000 per 40 menit (email terdahulu).

Saya sadar kok, Mungkin saya hanya terpaku pada kondisi guru di kota,
khususnya jakarta. 
Pasti di daerah yang lebih kecil dari Jakarta masih banyak guru yang
kurang ekonominya.
Tapi menurut saya, mereka pasti masih memiliki kebanggaan jadi seorang
guru.

 ________________________________

From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Manneke
Budiman
Sent: Tuesday, March 06, 2007 3:06 PM
To: [email protected]
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: Jam Kerja Guru Rata-rata 15,5 Jam
Perhari

 

Bimbel itu bisnis, Boss. Dia ngajarin murid jawab soal, bukan
menyuntikkan ilmu ke murid. Buktinya, programnya sulapan. Waktunya
singkat dan bayarnya mahal. Kalo proses belajar yang betul mana bisa
crash program gitu? Jadi, pengalaman Anda sebagai guru bimbel tak dapat
dipakai untuk bicara tentang guru PNS.

Coba lihat paragraf kedua posting Anda ini: Anda yakin 1000% bahwa
tukang becak mau jadi guru. WALAUPUN HANYA SEBATAS SAMPINGAN. Anda
mengerti kan implikasi tulisan Anda sendiri (yang saya kasih kapital
itu)? Saat ini, banyak guru PNS pun ya seperti itu. Jadi, betulkan kalo
saya bilang tukang becak tak ada yang mau jadi guru (dalam artian
'full-time" seperti dikatakan Pak Satria itu)? Sekarang tolong
dijelaskan kepada saya, berdasarkan fakta di atas, yang kasar itu situ
apa sini? Jangan-jangan kita berdua sami mawon.

manneke

Kirim email ke