--- In [email protected], "I. B. Arka" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Berarti setiap bulan guru SD di Riau dapat tambahan Rp 1 juta 
(transport) + Rp 700.000, (uang makan). Plus tunjangan hari raya 2 x 
setahun. Lumayan. Daerah2 lain, kebanyakan tak seperti Riau. Hanya 
dapat gajih, tunjangan keluarga, tanpa tambahan tunjangan transport 
dan tunjangan uang makan. Contohnya yang terjadi di pulau Bali. 
Gajih guru SD memang sangat memprihatinkan.  Harus bisa hidup dengan 
apa adanya, bertahan jangan sampai hutang sana hutang sini, bila 
tidak perlu sekali, umpamanya pinjam di Koperasi atau LPD.
> Salam
> IBA

L:

Kita mestinya belajar, perbedaan tajam pendapat antara satu daerah 
dengan daerah lain secara alamiah (tetapi pelan2, tidak drastis) 
akan memicu gelombang perpindahan manusia (termasuk urbanisasi). 
Tunggu saja 10 - 20 tahun yad untuk melihat fenomena ini. 

Kita sudah belajar fenomena serupa dari urbanisasi para penduduk 
desa ke kota2 besar, bahkan dari luar Jawa ke P.Jawa. Program 
pemerintah untuk memindahkan penduduk dari Jawa ke luar Jawa, spt 
transmigrasi, akan tetap gagal jika di daerah yang baru, kehidupan 
lebih susah. 

Sebagai bagian dari negara kesatuan RI, Riau tak bisa dan mesti 
dilarang menolak kedatangan berbondong-bondong warga (khususnya dari 
propinsi2 tetangga) yang ingin mengadu nasib di sana, mis. sebagai 
guru. Dalam kasus2 gelombang perpindahan penduduk semacam di atas, 
konsep2 HAM dan demokrasi berperan.

Saya paling anti pada pendapat yang cuma menyalahkan kinerja guru 
sbg penyebab ambur-adulnya pendidikan di Indonesia. Untuk apa 
berbagai teori2 kependidikan, teori2 pembuatan kurikulum, bahkan 
teori2 belajar lewat eksperimen2 thd binatang dilakukan apabila cuma 
guru saja yang bisa jadi biang kerok? 

Lupakah kita bahwa guru itu BUKAN mesin atau benda mati yang sama 
standard kualitasnya dan TIDAK diproduksi oleh mesin (pencetak guru) 
yang sama?

Salam

Kirim email ke