Pilihan ternyata tidak begitu banyak dimiliki warga Perumahan
Tanggulangin Anggun Sejahtera I yang rumahnya sudah terendam lumpur.
Itulah mengapa mereka begitu ngotot minta ganti rugi berupa cash and
carry.

"Kita ini seperti disandera. Tidak bebas mendapatkan kembali apa yang
telah dihilangkan orang lain," kata Ny. LESTARI satu diantara warga
PerumTAS yang Senin (05/02) tampak bercengkerama dengan tetangganya di
Alun-alun Kabupaten Sidoarjo. Berunjukrasa mendukung perwakilannya
yang berjuang di Jakarta.

Setelah menerima uang kontrakan plus pindah sebesar Rp5,5 juta,
pilihan mereka kini cuma menunggu. Mau membeli rumah lagi sudah tak
mungkin karena harga yang terlalu mahal.

"Lagipula, kami sudah tidak boleh lagi nyicil rumah karena cicilan
kami di bank saj untuk rumah di PerumTAS ini belum juga lunas," kata
Ny. LESTARI yang mengaku masih tersisa 9 tahun lagi membayar cicilan
rumahnya.

Pilihan resettlement atau bedol deso, kata LESTARI, tidak mungkin
diterapkan pada warga kompleks perumahan karena masing-masing fisik
rumah sudah tidak lagi sama. "Kita sudah renovasi rumah. Itu kan uang,
sedangkan kalau resettlement, ganti ruginya dipukul rata. Ini tidak
adil!" kata Ny. LESTARI 
Hal yang sama diungkapkan ADIB warga Perumtas yang bekerja sebagai
paramedis di RS Haji Sukolilo Surabaya. Menurutnya, ia sudah habis
puluhan juta untuk renovasi rumahnya hingga bertingkat dua. "Kalau
mereka yang belum renovasi rumahnya, mungkin mau menerima opsi itu.
Tapi buat saya, no way. Siapa yang mengganti uang renovasi itu?" tegas
ADIB.

Lagi pula, tambah Ny. SUTRISNO istri seorang anggota Marinir yang
berdinas di Karang Pilang, juga warga PerumTAS I, tempat kerja warga
PerumTAS sangat beragam. "Saya dengar pemerintah menyiapkan daerah
sekitar Krembung untuk resettlement. Tidak semua dari kami tempat
kerjanya dekat dengan Krembung," kata Ny. SUTRISNO.

DJULIARNOKO Ketua RT 03/RW 05 PerumTAS I yang juga korlap aksi
menginap di Alun-alun Kabupaten Sidoarjo menilai opsi resettlement
hanya mungkin diterapkan untuk warga desa, bukan perumahan seperti
Perumtas I.

"Kami memang masih punya rasa guyub seperti juga warga desa, tapi
kepentingan kami dalam hidup ini berbeda. Cash and carry adalah bentuk
ganti rugi yang final buat kami," ujarnya.
aksi hari pertama dilakukan dengan kegiatan simpatik berupa pembagian
souvenir dan bunga... direncanakan aksi bertahan dipendopo kabupaten
SDA ini hingga ada keputusdan yang berupa cash and carry..warga
PerumTAS 1. aksi damai di pendopo sampai tanggal 7 Februari. Kalau
hasil dari Jakarta bagus nggak ada masalah, tapi kalau hasilnya di
luar yang di inginkan maka tanggal 7/8 kami akan turun jalan," dan
pada saat itu sdh ada dukungan dari 8 desa yang telah tenggelam lbh
dulu.. mereka diperkirakan akan kembali memblokade titik vital
transportasi  
Dari: pengamatan dan berbagai sumber...


lukmiarso cahyoadhi
RRI Cabang Madya Surabaya - FM95.2Mhz Pro2fm
Jl.Pemuda 82-90 Surabaya 
Studio   - 031.5342353
Office   - 031.5342352 - ext.211
mobile   - 081.55105340 / 031.60251575
website  - www.rrisurabaya. com

Kirim email ke