Urun pendapat nih

Menurut saya yang merugikan dari konvoi HD itu bukannya sok pamernya,
karena itu relatif sekali yah...

Tapi dari beberapa sumber yang dapat saya percaya angka desibel untuk
mufler HD yang sudah dicustom itu sekitar 155 db, hanya sedikit
dibawah mesin jet 737 waktu take off (sekitar 167 db), bayangkan
kalau ada 30 motor yang ikut konvoi, saya bekerja di lt.21 di sebuah
gedung saja masih bisa mendengan dengan jelas suaranya, apalagi yang
ada dibawah.

Bagi orang yang sehat mungkin tidak apa-apa, tapi jika lewat rumah
sakit yang banyak orang sakit jantung kan bisa fatal akibatnya.

Jadi mungkin solusinya boleh konvoi tapi di ring road saja, atau
diwajibkan menggunakan silencer pada exhaustnya, jadi merekapun tidak
merasa dirugikan. Bayangkan, mereka mengeluarkan duit banyak juga
buat beli motor itu, kalau dilarang berkonvoi terus harus bagaimana,
naik sendirian jelas tidak mungkin, karena dengan motor sebesar itu
kalau tidak ada yang mengawal bagaimana bisa jalan dijalan umum yang
macet seperti Jakarta ini?

Kalo kita lihat disisi lain, kenapa boleh masuk itu motor, kenapa
perdagangannya tidak distop saja. logikanya kan begitu, boleh dijual
berarti boleh dibeli, selanjutnya kan boleh dipakai. Cuman sekali
lagi harus ada rulenya yang mengatur

Salam
Cahyadi



--- In [email protected], Muhammad Rivai Andargini
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ini bukan soal memaki-maki pak. See previous posting, tidak ada
sampai
> keluar ucapan yang memaki-maki :-).
>
> Kekurang setujuan pada ide tentang konvoi HD didasari pada
> kejadian-kejadian sebelumnya. Soal Patwal misalnya, kok sepertinya
> polisi dikhususkan pada kenyamanan sebagian kelompok, sementara
sebagian
> besar lainnya dipinggirkan. Apa yang saya alami saat bertemu
rombongan
> konvoi (baik itu HD maupun lainnya), baik saat berkendara mobil
maupun
> motor, biasanya kurang enak kejadiannya. Entah itu dipinggirkan,
> diklakson-klakson supaya minggir dll. Soal penting dan tidak bikin
> macet, seberapa penting urusannya dan seberapa urgen kepentingannya.
>
> Soal hak setiap orang, tentu saja kekurangsetujuan ini tidak
dimaksudkan
> sebagai "iri pada kemampuan orang lain memiliki sesuatu yang kita
tidak
> / belum mampu". Tidak juga untuk memaksakan pendapat. Ini lebih
kepada
> sounding mengenai sikap. Soal konvoi tetap dilaksanakan, paling
tidak
> sudah ada masukan-masukan bagaimana baiknya hal tersebut dijalankan.
>
> Soal ibu-ibu RT yang sombong (karena masuk TV dan punya kemampuan
antri
> beras dan minyak) saya pikir dalam konteks bercanda. Mereka antri
bukan
> karena sok banyak uang tapi karena pilihan lainnya nggak ada ! Soal
> masyuk TV, ya mereka pas lagi di shoot masa mesti ngumpet. Apalagi
itu
> kesempatan langka buat menyampaikan pesan pada penyelenggara
pemerintahan.
>
> BTW, pikir saya posting pertama kali lebih kepada soal informasi
konvoi,
> mungkin jadi agak melebar diskusinya :-)
>
> Vavai
> http://www.vavai.com/blog/index.php

Kirim email ke