http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0703/07/Politikhukum/3364326.htm
=======================

Jakarta, Kompas - Mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung 
berpendapat, sebagian besar partai politik sekarang menjadi amat 
pragmatis, yaitu hanya dipakai untuk mengejar kekuasaan. Akibatnya, 
segala cara dipakai untuk menggapai kekuasaan, termasuk dengan 
politik uang. 

"Saya tidak tahu apakah hal ini disebabkan banyaknya politisi baru 
dengan latar belakang pengusaha," kata Akbar dalam diskusi 
bertema "Politik, Partai, dan Etika Kekuasaan" di Jakarta, Selasa 
(6/3). Hadir sebagai pembicara lain, dosen Sekolah Tinggi Filsafat 
Driyarkara Franz Magnis-Suseno SJ. 

Menurut Akbar, pengusaha memang boleh berpolitik. Namun, masalah 
akan muncul jika logika pengusaha, yaitu mencari keuntungan materi 
dalam waktu yang secepatnya, juga dipakai saat berpolitik. Sebab, 
tujuan berpolitik bukan hanya keuntungan materi, namun juga 
bagaimana mengembangkan cita-cita atau pemikiran guna mewujudkan 
kesejahteraan rakyat. 

Kondisi partai politik seperti sekarang ini, lanjut Akbar, berbeda 
jauh dengan parpol pada tahun 1950-an. Saat itu partai ramai-ramai 
mengembangkan ideologi. Hubungan pribadi sesama anggota partai tetap 
terjaga baik meski di antara mereka ada pertentangan pemikiran. 
Sementara sekarang, parpol tidak punya identitas ideologi yang jelas 
karena hanya dipakai untuk mendapatkan kekuasaan. 

Magnis menilai, hal yang paling memalukan jika orang hanya melihat 
dan menggunakan parpol untuk mencari kekuasaan. Keadaan ini juga 
mencemaskan karena masyarakat akan memandang rendah parpol, berikut 
anggota DPRD dan DPR. Padahal, demokrasi hanya dapat berkembang jika 
ada parpol. 

"(Almarhum) Nurcholish Madjid pernah berkata, butuh 20 tahun untuk 
menciptakan budaya demokrasi di Indonesia. Masalahnya, apa kita 
punya waktu selama itu?" tanya Magnis. 

Supaya tidak hanya dipakai untuk mengejar kekuasaan, parpol harus 
membingkai dirinya menjadi satu dengan kepentingan rakyat. "Jika 
saya masih mendapat kesempatan memimpin Partai Golkar, saya akan 
menghimpun kekuatan fungsional di masyarakat, seperti buruh, petani, 
dan nelayan. Setelah itu, langkah Golkar akan dibuat seirama dengan 
kepentingan mereka," kata Akbar. (nwo) 



Kirim email ke