Salam
Setuju sekali pak, bahkan ada 2 persetujuan. Saya mulai dari setuju yang
paragrap
paling bawah. Obrolan kita yang awalnya bernuansa "humour" ternyata ada yang
nanggapi dengan very serius, ada yang salah tangkap makna, ada yang marah2,
ada yang japri dsb. Terus terang saya jadi tiarap deh...nggak cukup energi.
Betul
itu pak, dan trendnya itu bukan lagi separo penghuni bumi lho pak, tapi bisa
sampai
dua per tiga lho :-). Wah benar2 tewas saya.
Setuju yang kedua, saya dan istri bahkan punya satu rekening lho pak, dia yang
kelola, (istilah banknya "rekening and or" ). Seluruhnya tentu buat kepentingan
keluarga.
Berbagai urusan dibagi berdua untuk kepentingan bersama. Namun satu hal pak,
dalam perjalanan hidup pastilah ada masalah yang pelik untuk dipecahkan.
Kalo peribahasa istilahnya buah simalakama.Kalo sudah begini dan deadlock,
sayalah yang akan mengambil pilihan. Karena bagaimanapun konsekuensinya
saya yang pasti bertanggungjawab dan dituntut untuk mempertanggungjawabkan
dengan pilihan itu. Kalo ini dipakai istilah "driver" gak konek, ya...silakan
dicari
sendiri istilah yang pas, biar lega gitu lho.
Mohon maaf untuk yang lain saya "tiarap" dulu.
Wasallam
-------Original Message-------
From: Manneke Budiman
Date: 03/09/2007 02:09:45 PM
To: [email protected]
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Re: RELATIVITAS GENDER- opera sabun Korea
Ya betul, Pak. Boleh ada koordinatornya. Tapi soal siapa yang disepakatijadi
koordinator, ini yang tak selalu harus laki-laki. Jadi koordinator bukan
berarti memimpin lho. Namanya koordinator itu tiap mau ngapa-ngapin mesti tanya
dulu sama seluruh anggota tim. Dia nggak bisa ambil putusan semau sendiri.
Metafora kapal tak begitu cocok untuk dipakai mendeskripsikan rumah
tangga/perkawinan. Soalnya, kapal memang punya nakhoda alias kapten kapal, dan
kekuasaannya juga mutlak. Di rumah kan nggak ada mutlak-mutlakan.
Nah, jika ada istri yang disepakati jadi "koordinator," ya so what gitu lho?
Gak ada yang aneh, ini juga bukan soal prestasi, bukan lucu, dan juga tak
menyedihkan. Ini kan juga bukan soal menang-menangan atau hebat-hebatan? Di
zaman gini, banyak suami yang jadi "bapak rumah tangga" sementara istri cari
duit. Siapapun yang sukses, dua-duanya ikut menikmati.
Saya dan istri punya rekening sendiri-sendiri karena kami sama-sama kerja. Duit
yang buat makan adalah duit saya, sementara yang buat ditabung adalah duit
istri. Tapi, kalo makan ya makan bareng, dan duit yang ditabung pun adalah
untuk kebutuhan bersama.
Jadi laki-laki dalam masyarakat patriarkis itu capek, Pak. Harus selalu tegar,
harus selalu jadi pengambil keputusan, harus jadi pencari nafkah, nggak boleh
lemah, nggak boleh nangis, harus jadi "tukang pukul" keluarga. Padahal, semua
kerjaan ini kalo dibagi berdua kan kehidupan mental kita jadi lebih sehat dan
stress berkurang. Maka, risiko stroke pun makin kecil.
Makanya, korban patriarki itu bukan cuma perempuan. Laki-laki pun adalah
korban. Mendukung terwujudnya kesetaraan perempuan dan laki-laki sebetulnya
akan dapat memberikan pembebasan buat keduanya dari belenggu patriarki yang
menjadikan keduanya sebagai korban. Makanya, kalo Pak Godlip bilang dalam
psoting-nya bahwa ini seolah mempertentangkan laki-laki dan perempuan,
sebetulnya tak benar begitu. Justru kesetaraan gender ini malah akan bisa
menyatukan laki-laki dan perempuan dalam suatu kerja tim yang kokoh. Tak ada
yang merasa bebannya terlalu berat karena semua ditimpakan ke dia, dan tak ada
juga yang merasa mampu menyumbang lebih banyak tapi kurang dimanfaatkan
kemampuannya.
Sori kalo kali ini kurang lucu, Pak Eko. Kalo udah makin serius bicara soal
kesetaraan perempuan, saya nggak berani ngelucu kebanyakan. Ini urusannya sama
nasib separo penghuni bumi sih.
manneke