Ini pun tak sepenuhnya saya persoalkan. Dalam situasi kritis, tentu laki-laki 
bisa ambil keputusan, tetapi keputusan itu adalah keputusan yang diterima dan 
disepakati kedua belah pihak, bukan sepihak. Jika basisnya kesepakatan dan 
penerimaan kedua pihak, maka inisiatif bisa datang dari laki-laki maupun 
perempuan. 
   
  Karena, jika diasumsikan bahwa dalam momen kritis hanya laki-laki yang 
bisa/boleh buat keputusan, maka pandangan ini masih secara fundamental 
dilandasi oleh prejudice bahwa perempuan tak mampu membuat keputusan bijak dan 
tepat pada saat kritis. Ini tak ada teorinya ataupun faktanya. 
   
  Sejarah dunia malah menunjukkan banyak keputusan besar yang menyangkut nyawa 
manusia di saat kritis dibuat secara ngawur oleh laki-laki, yang berujung pada 
bencana kemanusiaan (perang dunia, pembantaian etnik, konflik antaragama, 
penjajahan, imperialisme, dll). Ini fakta, Pak, bukan asumsi. Tinggal 
diperlukan kesediaan membuka mata dan kerendahhatian untuk mengakui bahwa 
menjadi laki-laki tak serta-merta membuat kita menjadi pengambil keputusan yang 
andal ataupun unggul.
   
  manneke

EKO KERTAJAYA <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  
Salam

Setuju sekali pak, bahkan ada 2 persetujuan. Saya mulai dari setuju yang 
paragrap
paling bawah. Obrolan kita yang awalnya bernuansa "humour" ternyata ada yang
nanggapi dengan very serius, ada yang salah tangkap makna, ada yang marah2,
ada yang japri dsb. Terus terang saya jadi tiarap deh...nggak cukup energi. 
Betul
itu pak, dan trendnya itu bukan lagi separo penghuni bumi lho pak, tapi bisa 
sampai
dua per tiga lho :-). Wah benar2 tewas saya.
Setuju yang kedua, saya dan istri bahkan punya satu rekening lho pak, dia yang
kelola, (istilah banknya "rekening and or" ). Seluruhnya tentu buat kepentingan 
keluarga.
Berbagai urusan dibagi berdua untuk kepentingan bersama. Namun satu hal pak,
dalam perjalanan hidup pastilah ada masalah yang pelik untuk dipecahkan.
Kalo peribahasa istilahnya buah simalakama.Kalo sudah begini dan deadlock,
sayalah yang akan mengambil pilihan. Karena bagaimanapun konsekuensinya
saya yang pasti bertanggungjawab dan dituntut untuk mempertanggungjawabkan
dengan pilihan itu. Kalo ini dipakai istilah "driver" gak konek, ya...silakan 
dicari
sendiri istilah yang pas, biar lega gitu lho.
Mohon maaf untuk yang lain saya "tiarap" dulu.

Wasallam

Kirim email ke