Media Justru Menyebarkan Diskriminasi 

Media di Indonesia, tanpa disengaja atau disengaja ternyata telah melakukan 
konstruksi diskriminatif yang begitu kuat. Entah yang memang dibuat atau tanpa 
disadari dibuat. Malahan medialah yang bergitu berperan katif 
mendeskriminasikan orang lain atau pihak tertentu. 

Sebagai satu contoh kasus. Coba tengok bagaimana televisi sering membuat 
statement yang menggunakna kata-kata warga keturunan. Ini kan berbeda 360 
derajat dengan seruannya yang mengajak warga yang bukan pribumi untuk dipanggil 
kita. Bagaimana bisa kita kalau yang disiarkan tetap menggunakan kalian, 
sebagai penanda untuk bangsa lain, ras lain.

Penggunaan dua kata yaitu warga keturunan itu memang sangat kecil untuk tataran 
sintaksis dan teknis penulisan tetapi sangat besar dan berdampak hebat di 
tataran sosial-budaya. Televisi sebagai salah satu media yang turut membentu 
budaya sudah sepatutnya untuk tidak mengunakkan bahasa yang diskriminatif 
seperti yang telah saya katkan diatas.

Jika tidak, mengutip Teori Peluru dalam kajian Ilmu Komunikasi, jika masyarakat 
diberikan informasi yang diskriminatif maka lambat laun masyarakat juga akan 
terbangun sebagai masyarakat yang diskriminatif pula. Bias pembatas antara 
pribumi dan non pribumi tetap akan terbangun dengan rapi seiring berjalannya 
waktu.

Bagaimana ini? Anda setuju, tidak setuju. Saya tantang rekan-rekan untuk 
berdiskusi. saya harap semua elemen ada. Saya juga mengharapkan Gadis Arivia 
untuk berkomentar. Diskusi itu sehat.
 
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels 
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke