IBRAHIM  ISA -- BERBAGI CERITA
Jum'at, 09 Maret 2007
-------------------------------------------------

Purwodadi, Purwodadi . . . . . (2)
< BONNIE TRIYANA:  'Padamnya Lentera Merah' >

Setelah cakap-cakap dengan sejarawan muda kita Bonnie Triyana di rumah
Pak Min, aku menghubunginya lagi. Kuajukan beberapa pertanyaan
sehubungan dengan pertemuan Sabtu pekan yang lalu itu. Dari komunikasi
kami tsb,  Bonnie Triyana mengrimkan makalahnya sekitar  Puwodadi. Aku
merasa mendapat 'durian runtuh'  setelah membaca makalah Bonnie tsb. 

Kukatakan 'mendapat durian runtuh', karena, yang ditulis oleh Bonnie
Triyana adalah suatu langkah serius dan terrencana dalam rangka
seperti yang ia katakan sendiri .  .  .  .   KLARIFIKASI SEJARAH. 
Bonnie memilih istilah 'Klarifikasi Sejarah',  ketimbang istilah
PENULISAN ULANG  SEJARAH,  seperti yang dirumuskan oleh
sejarawan/peneliti Taufik Abdullah <Karena Taufik tidak sependapat
dengan rumusan Aswi Adam, Pelurusan Sejarah. Kata Taufik tak ada fakta
sejarah yang perlu diluruskan>.  Sebab, kata Bonnie, kalau sekadar
ditulis kembali, sedangkan fakta-faktanya tetap fakta yang disajikan
oleh Orba ---  yaitu pemelintiran fakta-fakta  - seperti dalam  kasus
'ENAM JAM DI JOGJA' , dan BUNG KARNO yang peranannya dalam menggali
dan merumuskan Pancasila,  oleh sejarawan Orba disulap menjadi 
peranan MOH YAMIN  SEBAGAI PENGGALI PANCASILA. Siapa bisa disalahkan 
 bila mengatakan bahwa apa yang disuguhkan sebagai 'fakta sejarah'
oleh Orba,  yang dimamah-biak oleh sebagian besar  sejarawan  Orba,
adalah 'fakta-fatka sejarah'  yang dipelintir, dipalsu  dan direkayasa. 
*    *    *
Menarik juga apa yang ditulis oleh 'Tokoh Indonesia.Com', 09 Maret
2007,  tentang  pandangan sejarawan/peneliti Taufik Abdullah, mengenai
 peranan kaum intelektual, masa Orde Baru. Dikatakan bahwa,  di mata
Taufik Abdullah, masa 1966-1974 merupakan periode kreatif-produktif
bagi kaum intelektual. Dalam periode itu berbagai masalah strategi
pembangunan dibicarakan. Demikian Taufik Abdullah menurut 'Tokoh
Indonesia.Com'. Pembangunan intelektual?  . . . . . .Apakah tidak
lebih tepat untuk mengatakan bahwa pada masa itu, adalah masa 
dimulainya 'pembodohan'  intelektual Indonesia. Khususnya terhadap
sejarah bangsanya sendiri. Sepenuhnya versi dan rekayasa penguasa Orba
yang dianggap sebagai kebenaran tunggal. 
Cobalah baca sendiri  apa yang ditulis oleh kaum intelektual sejarah
'kita' pada masa-masa 1966-1974, khusus mengenai fakta-fakta sejarah
sekitar G30S, pembunuhan 6 jendral dan kemudian apa yang diatur
kemudian dilaksanakan oleh penguasa, yaitu, mulai 1965 dan tahun-tahun
berikutnya,  -----  pembantaian masal terhadap rakyat yang tak
bersalah atas tuduhan PKI atau simpatisan PKI. 
Kalau bukan seorang Haji Princen yang mengungkap pelanggaran HAM
besar, dengan pembunuhan masal di Purwodadi <Baca buku otobiografinya
Haji Poncke Prinsen, terbitan Hasta Mitra, 'Kemerdekaan Memilih'>, ---
 mana ada intelektual sejarah 'kita'  yang punya selera atau nyali
untuk berani mengadakan riset , penelitian  dan pengungkapan mengenai
fakta-fakta sejarah tsb. Atau mengenai 'Supersemar' .  Oleh Jendral
Suharto disulap menjadi 'tranfer of authority'.  Oleh  mesin
propaganda' Orba disebut  'pelimpahan kekuasaan'  dari Presiden
Sukarno kepada Jendral Suharto. Meskipun dalam pidato-pidatonya dalam
periode itu Presiden Sukarno berulang kali menyatakan bahwa
'Supersemar'  bukan '  pelimpahan kekuasaan'  kepada Jendral Suharto,
tetapi,  ----  adakah kaum 'intelektual (sejarawan) kita'  ketika itu,
 bertindak seperti dikatakan oleh Taufik Abdullah,  ada dalam periode
'kreatif-produktif?? 

Kalau hendak  berbuat seperti kata orang Inggris, 'call a spade a
spade' , artinya  'katakanlah apa adanya' , maka masa itu, adalah masa
ketika  kebanyakan kaum intelektual  (sejarah/politik) kita 'tiarap' 
terhadap fakta-fakta sejarah yang keras sekitar Peristiwa 1965. Mereka
tidak lain hanyalah   n g e g o n g i     saja  apa yang dimamahkan
oleh  penguasa untuk mereka. Mereka  mengikuti saja versi dan
pemalsuan sejarah oleh penguasa.  Mereka dengan gairah ikut menabuh
genderang  yang memaklumkan kepalsuan sebagai kebenaran mutlak dan
satu-satunya.
*   *   *

Maka betullah  kesimpulan Bonnie Triyana, bahwa, sebaiknya digunakan
istilah KLARIFIKASI SEJARAH.  Dalam pengertian ini MENGKLARIFIKASI 
fakta-fakta sejarah yang direkayasa dan diplintir oleh para sejarawan
dan propagandis Orba. Artinya mengkoreksi, melempangkan yang dipalsu,
yang dibengkokkan.

Hendak mengetahui apa  konon yang menggugah Bonnie Triyana mengadakan
penelitisan sejarah? Inilah penjelasannya:

'Saya tergugah  untuk meneliti perihal ini karena sejarah tahun 1965,
khususnya pasca pembunuhan 6 jenderal dan 1 perwira pertama AD jarang
disebut/ditulis. 

'Yang selalu  dibesar-besarkan  adalah peristiwa 1Oktober  1965, 
sedangkan  pembunuhan terhadap ratusan ribu bahkan  jutaan rakyat yang
tak bersalah di berbagai daerah tak pernah ditulis. Menimpakkan
kesalahan pada orang yang tak melakukan  apa-apa adalah hal yang
terburuk dalam sejarah umat manusia. Bukankah di dalam hukum ada
adagium: "lebih baik melepaskan 10 orang yang bersalah daripada
menghukum 1 orang yang tidak bersalah"
 
'Atas dasar itu pula saya ingin sejarah yang selama ini sengaja
dipendam ditulis supaya generasi yang akan datang belajar tentang
kesalahan generasi sebelum mereka.

*    *    *

Kiranya perlu ditambahkan lagi sebagai berikut: Penguasa Orba
bertindak seperti penguasa  lalim Jenderalisimo Chiang Kai'shek,
ketika sewenang-wenang menguasai Tiongkok dan melakukan pembantaian
terhadap rakyatnya sendiri (1927).  Chiang Kai'shek   bertindak 
menurut  motto, sbb: 'Lebih baik membunuh seribu orang tak bersalah,
ketimbang meloloskan    s a t   u    orang komunis'.

*    *    *

Tibalah kini pada makalah  yang ditulis sendiri oleh sejarawan muda
kita Bonnie Triyana, mengenai kasus pembunuhan Purwodadi. Silakan baca
sendiri:

Padamnya Lentera Merah
--------------------------------------------------------------
Oleh: Bonnie Triyana. 

Sejarawan pada Yayasan Masyarakat Indonesia Sadar Sejarah. 
Menulis skripsi tentang pembunuhan massal di Purwodadi 1965 – 1969.
 
PRESIDEN Soekarno melalui pidato-pidatonya pada kurun 1965-1967 telah
menegaskan adanya pembunuhan massal, tapi tak banyak media yang
memberitakan hal itu karena kontrol ketat Angkatan Darat terhadap
pemberitaan media massa. 
 
Pada 1967 Soe Hok Gie melakukan serangkaian reportase tentang
peristiwa tersebut, namun ia sendiri tak pernah memublikasikan hasil
peliputannya. 

Kebisuan baru terpecahkan ketika pada 26 Februari 1969 Harian KAMI
yang dikelola aktivis angkatan `66 memuat berita berjudul "Gelombang
Pembantaian Selama 3 Bulan di Purwodadi." Berita itu adalah laporan
kunjungan aktivis kemanusiaan Haji Princen ke Purwodadi, Kabupaten
Grobogan disertai dua wartawan De Haagsche Courant, Belanda, Henk Colb
dan E. van Caspel.
 
Menyusul berita di Harian KAMI, koran Indonesia Raya dan Sinar Harapan
juga menurunkan peristiwa Purwodadi sebagai berita yang dimuat berseri
sejak tanggal 10 – 21 Maret 1969.
 
Ketika berada di Purwodadi ia menerima informasi dari pastor Purwodadi
Romo Wignyosumarto tentang adanya pembunuhan besar-besaran di Kuwu,
Kabupaten Grobogan. Romo Sumarto sendiri mendengar perihal itu dari
Mamik, anggota Hanra yang mengaku telah membunuh 50 lebih anggota PKI
di Kuwu.  
 
Haji Princen lantas mengunjungi Kuwu dan berhasil menemukan bukti
bahwa sekitar 860 orang telah tewas dibantai.
 
Tak lama setelah berita pembunuhan massal itu dimuat, pada 5 Maret
1969 anggota Kodim 0717/ Purwodadi langsung menangkap Mamik, sang
informan dan setelah itu tak diketahui bagaimana nasibnya.
 
Dalam laporan Haji Princen terungkap juga bahwa Dandim 0717/ Purwodadi
Letkol. Tedjo Suwarno punya peran penting dalam peristiwa tersebut.
Pernyataan Tedjo Suwarno "lebih baik kalian (masyarakat) membersihkan
(komunis) sendiri daripada saya yang membersihkannya" diperkirakan
menjadi pendorong utama terjadinya kekerasan di Purwodadi.
 
Fakta menunjukkan masyarakat memang tidak melakukan apa yang
dianjurkan Letkol. Tedjo Suwarno. Oleh karena itu operasi penumpasan
PKI dilakukan sepenuhnya oleh tentara melalui Operasi Kikis I (4 Juli
– Desember 1967) dan Kikis II (27 Juni  – 7 Juli 1968).
 
Kasus Purwodadi itu jelas menjadi batu sandungan pertama bagi
pemerintah Orde Baru semenjak Soeharto dilantik menjadi presiden
menggantikan Bung Karno pada 27 Maret 1968.   
 
Tak pelak banyak petinggi Angkatan Darat waktu itu, seperti Panglima
AD Jend. M. Panggaben dan Pangdam Diponegoro Mayjen. Surono
berlomba-lomba menyatakan bantahannya. 
 
Kasus Purwodadi ini menjadi menarik karena tidak hanya menjadi isu
nasional, tapi juga internasional. 
 
Henk Colb dan E. van Caspel yang mengikuti kunjungan Haji Princen
menuliskan apa yang terjadi di Purwodadi di Haagsche Courant yang
terbit di Den Haag, Belanda. 
 
Tulisan tentang peristiwa Purwodadi di Haagsche Courant itu kemudian
mengundang reaksi keras sekelompok mahasiswa Belanda yang ditumpahkan
kepada Menteri Keuangan RI Drs. Frans Seda saat datang memberi ceramah
dalam rangka lustrum pada tanggal 17 April 1969 di Universitas Katolik
Nijmegen.  Y van Herte salah seorang dari mahasiswa meneriaki Frans
Seda sebagai "pembunuh dan pengecut." Akhirnya ceramah lustrum itu
dibatalkan dan Seda keluar aula tanpa diberi kesempatan menyelesaikan
ceramahnya. 
 
Tak hanya mahasiswa Belanda yang melancarkan kritik sengit, para
Indonesianis terkemuka seperti Prof. J.M. Pluvier dan Prof. W.F.
Wertheim atas nama Het Comite Indonesie (Komite Indonesia) juga
menyiarkan kritik melalui "surat terbuka" yang dimuat surat kabar
Trouw edisi 19 April 1969.
 
Dalam kesempatan wawancara di sebuah stasiun televisi Belanda Prof.
W.F. Wertheim menyatakan "tidak ada kerjasama dengan rezim yang
membiarkan pembunuhan massal terhadap 80 hingga 100 ribu orang tahanan
politik." Kritik pedas itulah yang menyebabkannya dilarang mengunjungi
Indonesia selama bertahun-tahun. 
 
Seperti halnya di Belanda, pers Thailand juga menaruh perhatian
terhadap peristiwa Purwodadi dengan memuat berita ini sebagai
headline. Akibatnya KBRI di Bangkok menjadi sasaran protes berbagai
kalangan masyarakat Thailand (Warta Harian, 15 Maret 1969)
 
Terungkapnya peristiwa Purwodadi itu memiliki dampak yang tak
diduga-duga oleh pemerintah Indonesia. Walhasil kunjungan Presiden
Soeharto ke pelbagai negara di Eropa yang semula dijadwalkan pada
medio April 1969 diundur menjadi awal tahun 1970. 
 
Untuk menuntaskan permasalahan ini pemerintah membahas khusus perihal
Purwodadi dalam sidang paripurna kabinet tanggal 20 Maret 1969. Seusai
sidang Menteri Penerangan Ali Budiardjo didampingi Asisten Intelijen I
Pangad Mayjen. Sutopo Juwono mengumumkan kesimpulan pemerintah bahwa
keterangan Haji Princen tentang Purwodadi ada hubungannya dengan
sisa-sisa PKI baik di dalam maupun di luar negeri sehingga tidak perlu
dipercayai. 
 
Pada akhirnya pengungkapan peristiwa pembunuhan massal pertama di era
awal berdirinya Orde Baru itu tenggelam bak ditelan bumi. Dan
pembunuhan massal itu tetaplah menjadi memori yang terpendam, baik di
dalam ingatan korban dan keluarganya. 
(BERSAMBUNG)

*    *    *
 
 
 


Kirim email ke