Yang terhormat bapak Tamrin, Terimakasih untuk komentar bapak. Mungkin bapak keliru memahami tulisan saya, saya justru se-ide dengan pemikiran bapak. Saya tidak terima perempuan diperlakukan seperti lilin, dan dibuai dengan analogi LILIN itu. Mungkin saya yang perlu banyak belajar untuk menngungkapkan pikiran. Terimakasih
salam hangat Zubaidah Dj On 3/11/07, Martin goro-goro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mbak Zobaidah, > terus-terang saya tidak nyaman dengan analogi yang Anda buat atnara > perempuan dan lilin > > Menurut saya jenis analogi seperti ini adalah jebakan romantis ideologi > patriarkhi. Mencoba memuliakan perempauan dengan cara meminta dia membakar > diri, harfiah seperti di India, atau pihak yang selalu harus memberikan > pengorbanan dan penderitaan demi kebahagiaan orang lain. Seorang > perempuan/isteri yang selalu ngabdi dan berbakti kepada lingkungan tanpa dia > sendiri mendapatkan imbalan/balas jasa untuk kemajuan dan peningkatan diri > perempuan. Seorang perempuan juga berhak memetik hasil dari > perjuangan/jerih-payahnya untuk dirinya sendiri. Mengapa tidak? > > Jangan terjebak oleh wajah manis dan romantis budaya patriarki seperti > ini. > > tat > Tamrin Amal Tomagola
